kabar

Junta Myanmar sewa pengusaha Israel buat poles citranya

"Aung San Suu Kyi adalah pemimpin menindas orang-orang Rohingya, bukan militer," kata Ari Ben Menashe kepada Foreign Lobby.

09 Maret 2021 07:22

Junta (pemerintahan militer) di Myanmar - melakukan kudeta terhadap pemerintah sipil dipimpin Aung San Suu Kyi - telah menyewa mantan pengusaha Israel untuk memperbaiki citranya. Langkah ini diambil saat junta Myanmar itu dikecam masyarakat internasional lantaran bertindak kelewatan terhadap para demonstran antikudeta dan menyebabkan puluhan warga sipil tewas.

Orang sewaan itu bernama Ari Ben Menashe, pelobi Israel kelahiran Ibu Kota Teheran, Iran, dan juga berkewarganegaraan Kanada. Dia dibayar Tatmadaw (militer Myanmar) sejak pekan lalu untuk menjelaskan kepada dunia situasi sebenarnya sedang terjadi di negara Asia Tenggara itu, seperti dilansir Foreign Lobby, media pelacak operasi pengaruh pemerintah asing di Ibu Kota Washington DC, Amerika Serikat.

Selama satu dasawarsa menjadi pelobi tingkat dunia, Ben Menashe - juga bekas pedagang senjata - pernah lama bekerja untuk Presiden Zimbabwe Robert Mugabe, junta militer Sudan, calon presiden di Venezuela, Tunisia, dan Kirgistan.

Dalam wawancara dengan sejumlah media, Ben Menashe mengakui dirinya dibayar sangat mahal oleh para jenderal Myanmar dan akan ditambah bonus dalam jumlah besar kalau berhasil melepaskan sanksi militer terhadap Myanmar.

Dia menjelaskan perusahaan konsultan miliknya, Dickens & Madson Canada, dibayar junta Myanmar buat membantu mereka berkomunikasi dengan Amerika dan negara-negara lain telah salah paham terhadap mereka.

Pesan utama bakal disampaikan Ben Menashe kepada masyarakat internasional adalah Suu Kyi, ditahan militer sejak hari pertama kudeta, memainkan peran sentral dalam kampanye pembunuhan dan pengusiran etnis minoritas muslim Rohingya di Negara Bagian Rakhine serta membiarkan Myanmar jatuh ke dalam pelukan Cina. "Aung San Suu Kyi adalah pemimpin menindas orang-orang Rohingya, bukan militer," katanya kepada Foreign Lobby.

Lelaki Israel berumur 69 tahun ini menjadi tersohor di Amerika lantaran saat masa kampanye pemilihan umum 1980 menuding kandidat presiden Ronald Reagan bersekongkol dengan Iran untuk tidak membebaskan tawanan Amerika. ketika itu, Reagan bertarung dengan calon petahana Presiuden Jimmy Carter.

Dalam sejumlah laporan media, Ben Menashe disebut membantu penjualan senjata Amerika ke negara Mullah itu, dikenal dengan skandal Iran-Contra, untuk membiayai perang rahasia melawan kelompok-kelompok kiri di Amerika Latin.

Di Inggris, dia menjadi sumber dari laporan media menyebut Robert Maxwell adalah eks agen Mossad (dinas rahasia luar negeri Israel). Maxwell kemudian mengajukan guatan namun keburu meninggal sehingga kasus itu tidak berlanjut.

Pada 2002, Ben Menashe bagian dari sebuah klaim ada rencana pemimpin oposisi Zimbabwe Morgan Tsvangirai membunuh Mugabe.

Ben Menashe sudah dua kali mengunjungi Myanmar sejak kudeta militer terjadi pada 1 Februari. Dia bilang plisi menangani pengunjuk rasa bukan militer. "Mereka (militer) ingin sepenuhnya keluar dari politik," ujarnya. "Tapi itu sebuah proses."

Abdurrahim bin Ahmad Mahmud al-Huwaiti, lelaki dari Suku Huwaitat dibunuh pasukan keamanan Arab Saudi pada 16 April 2020 karena menolak rumahnya digusur untuk proyek Neom. (Video screencapture)

Bin Salman putus sambungan Internet di 30 desa Suku Huwaitat sejak enam bulan lalu

Aktivis dari Suku Huwaitat berencana menggugat Bin Salman di pengadilan Inggris dan Amerika Serikat.

Pemimpin tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei pada 23 Juli 2021 menerima suntikan dosis kedua vaksin Covid-19 Barakat, merupakan produksi dalam negeri. (Twitter/khamenei.ir)

Khamenei minta masalah kelangkaan air di Khuzestan segera diselesaikan

Khamenei memuji penduduk Khuzestan sebagai orang-orang sangat setia kepada Iran.

Duta Besar Uni Emirat Arab (UEA) untuk Israel Muhammad al-Khaja (kanan) bareng Presiden Israel Isaac Herzog menggunting pita pada peresmian Kedutaan Besar UEA di Ibu Kota Tel Aviv, Israel, 14 Juli 2021. (Twitter/@AmbAlKhaja)

Bennett dan Bin Zayid sepakat buat bertemu

Ini percakapan telepon pertama antara kedua pemimpin itu.





comments powered by Disqus