kabar

Pendiri Hizbullah lolos dari upaya pembunuhan Mossad wafat karena Covid-19

Mossad pada 1984 berusaha menghabisi Muhtasyamipur lewat bom buku. Dia selamat namun kehilangan tangan kanan dan dua jemari kirinya.

08 Juni 2021 06:57

Ulama Syiah Iran menjadi salah satu pendiri Hizbullah (milisi Syiah di Libanon), Ali Akbar Muhtasyamipur, kemarin meninggal setelah menjalani perawatan di sebuah rumah sakit di utara Ibu Kota Teheran karena terinfeksi virus Covid-19. Dia mengembuskan napas terakhir di usia 74 tahun, seperti dilansir kantor berita resmi IRNA.

Muhtasyamipur adalah murid sekaligus orang kepercayaan dari mendiang pemimpin Revolusi Islam Iran Ayatullah Khomeini. Selain membantu mendirikan Hizbullah pada 1982, dia ikut membentuk pasukan Garda Revolusi Islam setelah rezim Syah Reza Pahlevi tumbang pada 1979.

Dia berpindah haluan menjadi pendukung reformis setelah pemilihan presiden 2009 membikin Mahmud Ahmadinejad menjabat untuk periode kedua. Dia menyokong dua pemimpin oposisi Mir Husain Musawi dan Mahdi Karrubi dalam Gerakan Hijau memprotes kecurangan pesta demokrasi.

"Tidak ada satu pun kekuasaan bisa bertahan kalau melawan kehendak rakyat," kata Muhtasyamipur waktu itu.

Gegara melawan rezim Mullah, Muhtasyamipur pada 2011 pindah menetap di Kota Najaf, selatan Irak.

Ibrahim Raisi, calon kuat pemenang pemilihan presiden Iran pekan depan, sudah bertakziah ke keluarga almarhum. "Mendiang (Muhtasyamipur) adalah salah satu pejuang suci dalam upaya membebaskan yerusalem dan perintis perlawanan terhadap rezim Zionis," ujar Raisi.

Dilahirkan di Teheran pada 1947, Muhtasyamipur bertemu Khomeini ketika ulama karismatik itu mengasingkan diri di Najaf. Pada 1970-an, dia membantu membentuk aliansi antara Iran dengan PLO (Organisasi Pembebasan Palestina) dalam menghadapi Israel.

SEtelah ditangkap di Irak, Muhtasyamipur pindah ke lokasi pengasingan Khomeini di Ibu Kota Paris, Prancis, sebelum keduanya terbang ke Iran setelah kemenangan Revolusi Islam pada 1979.

Pada 1982, Khomeini mengangkat Muhtasyamipur menjadi duta besar Iran buat Suriah.

Setahun setelah bom meledak di Kedutaan Besar Amerika Serikat di Ibu Kota Beirut, Libanon, menewaskan 63 orang, disusul ledakan bom di barak marinir Amerika di kota sama dan membunuh 241 tentara Amerika, Mossad (dinas rahasia luar negeri Israel) pada 1984 melaksanakan misi buat menghabisi Muhtasyamipur.

Mossad mengirim buku berisi bahan peledak ke kediaman Muhtasyamipur di Damaskus di hari Kasih Sayang pada 14 Februari. Buku berbahasa Inggris ini bercerita mengenai tempat-tempat disucikan kaum Syiah di Iran serta Irak.

Bom ini meledak saat Muhtasyamipur membuka buku itu, mengakibatkan dia kehilangan tangan kanan dan dua jemari kirinya. Muhtasyamipur selamat. Dia sempat menjadi menteri dalam negeri serta anggota parlemen sebelum bergabung dengan kubu reformis pada 2009.

Kiri ke kanan: mantan Direktur Mossad (dinas rahasia luar negeri Israel), bos baru Mossad David Barnea, dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam acara pelantikan Barnea pada 1 Juni 2021. (Koby Gideon/GPO)

Bos baru Mossad akan lanjutkan misi bunuh ilmuwan dan serang fasilitas nuklir Iran

"Ancaman terbesar terhadap kami adalah ancaman nyata dari upaya Iran untuk mempersenjatai dirinya dengan senjata nuklir," ujar Netanyahu. 

Pemimpin Hizbullah Hasan Nasrallah saat berpidato pada 25 Mei 2021 di peringatan 21 tahun mundurnya pasukan Israel dari selatan Libanon. (Twitter)

Meski sakit, pemimpin Hizbullah tetap berpidato

Nasrallah beberapa kali menghentikan ucapannya karena terbatuk-batuk dan napas tersengal. Dia pun mengakui kondisi kesehatannya sebulan terakhir memburuk.

Perdana Menteri Israel bareng bos Mossad Yossi Cohen (kanan) dan calon penggantinya, David Barnea (kiri). (Haaretz)

Netanyahu umumkan bos baru Mossad

Barnea berpengalaman menangani perekrutan agen untuk misi terkait Iran dan Hizbullah.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Direktur Mossad Yossi Cohen. (Chaim Tzach/GPO)

Biden bertemu direktur Mossad di Washington DC

Pertemuan itu dirahasiakan dan Gedung Putih belum mengeluarkan pernyataan.





comments powered by Disqus

Rubrik kabar Terbaru

Dua pejabat Masjid Nabawi dicopot karena salat subuh telat 45 menit

Setelah peristiwa itu, Syekh Sudais memerintahkan kehadiran dua imam dan tiga muazin saban kali salat wajib berjamaah dilakukan di Masjid Al-Haram dan Masjid Nabawi. 

14 Juni 2021

TERSOHOR