kabar

Saudi, Mesir, dan UEA deportasi warga Uighur atas permintaan Cina

"Cina memiliki hak untuk upaya antiterisme dan de-ekstremisasi buat keamanan nasionalnya," ujar Bin Salman. 

17 Juni 2021 16:10

Pengaruh Cina di Timur Tengah membuat Arab Saudi, Mesir, dan Uni Emirat Arab (UEA) bersedia memenuhi permintaan Cina untuk mendeportasi warga dari etnis minoritas muslim Uighur. 

Padahal di kampung halaman mereka di Provinsi Xinjiang, orang-orang Uighur dipaksa meninggalkan ajaran Islam: dilarang salat dan puasa, dipaksa makan babi, dan tidak boleh membaca Al-Quran. 

Abdulwali Ayup, aktivis berertnis Uighur sekarang bermukim di Ibu Kota Oslo, Norwegia, mencatat paling tidak sudah 28 warga Uighur dideportasi ke Cina dari Saudi, Mesir, dan UEA selama 2017-2019. 

Dari jumlah ini, 21 orang dipulangkan ke negara Tirai Bambu itu dari Mesir, lima dari Saudi, dan dua orang dari UEA. 

Namun Ayup menekan angka 28 orang itu bukan jumlah sebenarnya. Sebab banyak warga Uighur takut mengungkapkan kasus deportasi kerabat mereka ke publik. "Mereka khawatir dapat mengancam nyawa orang dideportasi dan keluarga mereka masih tinggal di Xinjiang," kata Ayup. 

Bagi Maya Wang, peneliti senior Cina di Human Rights Watch, perlakuan Saudi, Mesir, dan UEA kepada warga Uighur bukan hal mengagetkan. "Pemerintah mereka tidak peduli kepada HAM," ujarnya.

Sila baca:

Cina buru ulama Uighur di Arab Saudi

Saudi tangkap ulama Uighur buruan Cina

Dalam sebuah surat terbuka pada 2019, lebih dari selusin negara berpenduduk mayoritas muslim, termasuk Saudi, Mesir, UEA, dan Iran menyatakan dukungan terhadap kebijakan pemerintah Cina di Xinjiang. 

Pernyataan mereka ini untuk menanggapi kritikan Barat di Dewan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa terhadap perlakuan tidak manusiawi Cina terhadap warga muslim di Xinjiang.

Beijing mengklaim kebijakan mereka terhadap warga muslim di Xinjiang untuk memberantas gerakan ekstremisme dan terorisme. 

Selama dua hari lawatannya ke Cina pada Februari 2019, Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman membela kebijakan Beijing soal kamp tahanan dihuni sekitar satu juta orang Uighur di Xinjiang. 

"Cina memiliki hak untuk upaya antiterorisme dan de-ekstremisasi buat keamanan nasionalnya," ujar Bin Salman. 

Abdurrahim bin Ahmad Mahmud al-Huwaiti, lelaki dari Suku Huwaitat dibunuh pasukan keamanan Arab Saudi pada 16 April 2020 karena menolak rumahnya digusur untuk proyek Neom. (Video screencapture)

Bin Salman putus sambungan Internet di 30 desa Suku Huwaitat sejak enam bulan lalu

Aktivis dari Suku Huwaitat berencana menggugat Bin Salman di pengadilan Inggris dan Amerika Serikat.

Pemimpin tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei pada 23 Juli 2021 menerima suntikan dosis kedua vaksin Covid-19 Barakat, merupakan produksi dalam negeri. (Twitter/khamenei.ir)

Khamenei minta masalah kelangkaan air di Khuzestan segera diselesaikan

Khamenei memuji penduduk Khuzestan sebagai orang-orang sangat setia kepada Iran.

Duta Besar Uni Emirat Arab (UEA) untuk Israel Muhammad al-Khaja (kanan) bareng Presiden Israel Isaac Herzog menggunting pita pada peresmian Kedutaan Besar UEA di Ibu Kota Tel Aviv, Israel, 14 Juli 2021. (Twitter/@AmbAlKhaja)

Bennett dan Bin Zayid sepakat buat bertemu

Ini percakapan telepon pertama antara kedua pemimpin itu.





comments powered by Disqus