kabar

Kejaksaan Prancis selidiki dugaan perbudakan dilakukan pangeran Saudi terhadap tujuh pembantunya

Ketujuh perempuan Filipina itu jarang diberi makan dan harus tidur di lantai.

06 Juli 2021 19:25

Para penyelidik dari kantor Kejaksaan Kota Nanterre, berlokasi di pinggiran Ibu Kota Paris, Prancis, kemarin mengumumkan mereka sedang menyelidiki dugaan perbudakan dilakukan oleh seorang pangeran dari Arab Saudi terhadap tujuh pembantunya asal Filipina, seperti dilansir surat kabar Le Parisien.

Tim penyelidik dari Kejaksaan Nanterre sudah meminta keterangan dari ketujuh korban beberapa pekan lalu.

Investigasi itu dilakukan setelah ketujuh perempuan berumur 38-51 tahun itu mengadukan kekejaman Pangeran Faisal bin Turki bin Abdallah as-Saud kepada polisi pada Oktober 2019. Mereka dibantu oleh SOS-Esclaves, organisasi non-pemerintah dari Prancis.

SOS-Esclaves inilah menemukan ketujuh wanita Filipina lari dari apartemen Pangeran Faisal bin Turki di kawasan elite Neuilly-sur-Siene, di luar Paris. "Pertama kali kami bertemu ketujuh perempuan itu, kami benar-benar kaget melihat mereka kelaparan," kata Direktur SOS-Esclaves Anick Fougeroux kepada Le Parisien. "Mereka menangis kelaparan."

Anick menceritakan bagaimana perlakuan biadab dilakukan Pangeran Faisal bin Turki. Ketujuh pembantunya itu mesti siaga melaksanakan perintah siang dan malam, tujuh hari sepekan tanpa libur. Mereka juga jarang diberi makan, kalaupun iya, hanya menerima makanan sisa.

Tiap kali Pangeran Faisal bin Turki melintas, ketujuh perempuan ini harus berlutut dan menundukkan kepala. "Mereka mesti segera datang menghampiri saban kali dipanggil dan harus tidur di atas lantai," ujar Anick. "Mereka juga pernah dipukuli dan diludahi oleh keempat anak Pangeran Faisal bin Turki."

Ketujuh pembantu ini cuma menerima gaji masing-masing 300 euro per bulan. Perlakuan tidak manusiawi itu mereka terima pada 2008, 2003, dan 2015 di dalam apartemen Pangeran Faisal bin Turki.

Menurut sumber mengetahui kasus ini, ketujuh korban itu sudah bertahun-tahun bekerja dengan Pangeran Faisal bin Turki dan keluarganya di Arab Saudi. Dia mengungkapkan mereka lari ketika keluarga majikannya pindah ke Prancis.

Hingga kini, Pangeran Faisal bin Turki, 44 tahun, belum bisa dimintai keterangan lantaran masih berada di luar Prancis. Penyelidikan perkara ini dapat terhambat kalau sang pangeran memiliki kekebalan hubungan diplomatik.

 

Abdurrahim bin Ahmad Mahmud al-Huwaiti, lelaki dari Suku Huwaitat dibunuh pasukan keamanan Arab Saudi pada 16 April 2020 karena menolak rumahnya digusur untuk proyek Neom. (Video screencapture)

Bin Salman putus sambungan Internet di 30 desa Suku Huwaitat sejak enam bulan lalu

Aktivis dari Suku Huwaitat berencana menggugat Bin Salman di pengadilan Inggris dan Amerika Serikat.

Pemimpin tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei pada 23 Juli 2021 menerima suntikan dosis kedua vaksin Covid-19 Barakat, merupakan produksi dalam negeri. (Twitter/khamenei.ir)

Khamenei minta masalah kelangkaan air di Khuzestan segera diselesaikan

Khamenei memuji penduduk Khuzestan sebagai orang-orang sangat setia kepada Iran.

Duta Besar Uni Emirat Arab (UEA) untuk Israel Muhammad al-Khaja (kanan) bareng Presiden Israel Isaac Herzog menggunting pita pada peresmian Kedutaan Besar UEA di Ibu Kota Tel Aviv, Israel, 14 Juli 2021. (Twitter/@AmbAlKhaja)

Bennett dan Bin Zayid sepakat buat bertemu

Ini percakapan telepon pertama antara kedua pemimpin itu.





comments powered by Disqus