kisah

Tidak ada Natal di Bethlehem

Sebagian orang meyakini Yesus dilahirkan di Bethlehem, Galilea, bukan di Kota Bethlehem, Tepi Barat.

24 Desember 2014 16:21

Tidak ada orang begitu perhatian terhadap perayaan Natal di Bethlehem. Di sini tidak satu pun kios menjual permen karet apel, lampu-lampu atau hiasan berwarna mencolok.

Yang ada hanya sebuah pertunjukan kabaret mengenai kelahiran Yesus dan poster-poster iklan pantomim oleh 'Kofiko si kera dan teman-temannya'. Bahkan satu pohon Natal pun tidak terlihat. Situasi ini berlaku di desa kecil bernama Bethlehem di Galilea, utara Israel.

Tidak seperti di kota tersohor bernama Bethlehem, Tepi Barat, sekitar 160 kilometer ke arah selatan. Di sana saban tahun ribuan orang tumplek di Alun-alun Palungan melantunkan lagu-lagu Natal.

Sebagian orang meyakini Yesus dilahirkan di Desa Bethlehem, Galilea, bukan di Kota Bethlehem, Tepi Barat. Klaim ini memicu perdebatan di kalangan ahli ilmu purbakala.

"Saya postitif," kata ahli arkeologi Dr Aviram Oshri dari Otoritas Kepurbakalaan Israel saat ditanya seberapa yakin dia soal umat Kristen selama ini salah meyakini Kota Bethlehem sebagai tempat kelahiran Yesus.

"Saya tidak ragu karena semua hal terkait kehidupan Yesus ada di Galilea dan Kineret," ujarnya merujuk pada wilayah di sekitar utara Israel, termasuk Laut Galilea, tempat Yesus berjalan di atas air.

Bethlehem di Galilea - berpenduduk 651 orang pada 2006 - cuma sekitar sepuluh kilometer dari Nazareth, tempat tinggal Yusuf dan Maryam. Dengan kondisi Maryam hamil sembilan bulan, mereka bisa mencapai Bethlehem Galilea kurang dari tiga jam.

Namun perlu dua hari perjalanan tanpa henti menggunakan keledai buat tiba di Bethlehem, Tepi Barat. Dr Oshri menganggap ini tidak masuk akal lantaran Maryam tengah hamil tua.

"Maryam duduk di atas keledai di usia akhir kehamilannya dan saya bertanya kepada diri sendiri apakah bayinya akan lahir selamat jika dia pergi ke Bethlehem di Judea (Tepi Barat)?" tutur Dr Oshri. "Nol. Kalau jarak antara Nazareth dan Bethelehem itu mungkin saja."

Dia menjelaskan mengenai bukti sejarah ada sisa tembok benteng di Bethlehem Galilea dan itu tidak ada di Bethlehem Tepi Barat. Di masa kelahiran Yesus, Bethlehem Galilea dihuni orang-orang Yahudi, sedangkan Bethlehem Tepi Barat waktu itu tidak bertuan. Dia juga menyebutkan tentang gereja besar di era Bizantium ditemukan baru-baru ini.

Salah satu alasan Bethlehem di Tepi Barat sebagai tempat kelahiran Yesus adalah cerita di abad keempat. St Helena, ibu dari Kaisar Konstantin, raja pertama Romawi beragama Nasrani, pada 327 memerintahkan pembangunan Basilika Kelahiran di lokasi kelahiran Yesus di Bethlehem, kini di Tepi Barat. Sejak saat itu jutaan jemaat Nasrani ke sana saban tahun.

"Cerita Yesus dilahirkan di Yerusalem (di Tepi Barat) untuk menghubungkan dia dengan Raja Daud," kata Dr Uzi Dahari, ahli arkeologi dari Otoritas Kepurbakalaan Israel. Nama untuk Bethlehem di Tepi Barat dalam Alkitab adalah Judea, juga lokasi kelahiran Raja Daud. "Sejak Helena menyucikan tempat itu, semua penganut Kristen percaya."

Dr Dahari membantah Bethlehem Galilea sebagai tempat kelahiran Yesus. Dia bilang gereja ditemukan di Bethlehem Galilea sekadar gereja basilika, tidak seperti gereja-gereja berstruktur oktagonal dibangun di atas tempat-tempat suci.

"Jika kamu bertanya kepada saya, Yesus dilahirkan di Nazareth," kata Dr Dahari. "Di zaman Romawi orang tidak berpindah-pindah tempat. Semua keluarga Yesus dari Nazareth."

Karena itu, situasi dua Bethlehem saban Natal jauh berbeda. Bethlehem Galilea sepi peziarah, sedangkan Bethlehem Tepi Barat hiruk pikuk dan macet parah.

Ali Khamenei (kiri) saat Perang Iran-Irak. (Wikipedia)

Saat Iran dan Israel masih bersahabat

Iran memasok minyak dan balasannya Israel menyuplai senjata.

Basrah pada 1913, dipotret oleh pengusaha Swedia bernama Arne C Waern. (Wikimedia Commons)

Kanal Basrah, riwayatmu dulu

Di awal abad ke-20, tepian kanal-kanal di Basrah - menjadi pintu keluar menuju Teluk Persia - dihuni orang-orang Yahudi, Nasrani, dan muslim dengan damai.

Sheikha Latifa, daughter of Dubai Emir Sheikh Muhammad bin Rashid al-Maktoum, with her Finnish friend, Tiina Jauhiainen. (@detainedindubai for Albalad.co)

Nestapa Syekha Latifah

Bahkan sepanjang hidupnya, Syekha Latifah baru sekali keluar Dubai, yakni saat kabur tahun ini.

Menteri Luar Negeri Qatar Syekh Muhamnad bin Abdurrahman ats-Tsani. (Saudi Gazette)

Duit sebukit tebusan pangeran

Uang tebusan untuk pembebasan rombongan pemburu asal Qatar itu sebesar US$ 1 miliar ditambah US$ 150 juta.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Saat Iran dan Israel masih bersahabat

Iran memasok minyak dan balasannya Israel menyuplai senjata.

01 Agustus 2018
Nestapa Syekha Latifah
25 Juli 2018
Sapa Muqtada
21 Mei 2018

TERSOHOR