kisah

Bertemu pensiunan pelacur kembar Yahudi

Martine Fokkens dan Louise Fokkens, 71 tahun, pensiun setelah setengah abad melacur.

29 Desember 2014 14:10

Seperti kebanyakan nenek Yahudi, Martine dan Louise Fokkens amat senang membicarakan soal cucu mereka. Di usia 71 tahun, perempuan kembar asal Ibu Kota Amsterdam, Belanda, ini juga gemar melukis, selalu terkenang mengenai Holocaust, dan menghadiri perayaan hari-hari besar Yahudi di sinagoge.

Tapi Fokkens bersaudara ini bukan seperti nenek Yahudi umumnya. Keduanya adalah mantan pelacur di Red Light District (Distrik Lampu Merah) di kota itu. Mereka pensiun setelah setengah abad melacur.

Bagi sebagian orang, Martine dan Louise tersohor di seantero Amsterdam setelah merilis sejumlah buku otobiografi dan kehidupan mereka sebagai pelacur dibuat film berbahasa Inggris berjudul Meet the Fokkens. Dokumenter ini beredar dua tahun lalu. Di Negeri Kincir Angin itu keduanya dikenal dengan sebutan lonte tua.

Louise ingat dia pernah melayani orang-orang dari pelbagai kalangan, termasuk pendeta, imam, dan rabbi. "Pelanggan saya orang Turki berteriak Allah saat klimaks," kata Martine saat ditemui awal Oktober lalu di sebuah kafe di Red Light District.

Fokkens bersaudara juga pernah sama-sama melayani pelajar-pelajar yeshiva (sekolah seminari Yahudi). "Kami pernah bercinta dengan anak-anak yeshiva pemalu lebih dari sekali," ujar Louise. "Mereka sangat tertutup."

Louise pertama kali menjadi pelacur saat menginjak umur 20 tahun sebab dipaksa suaminya. "Dia biasa memukul saya di pojok ruangan, menjadi mucikari saya, dan hidup dari uang saya," tuturnya.

Pasangan ini dikaruniai empat anak, namun sang suami memaksa Louise menitipkan anak-anaknya di tempat pengasuhan selama beberapa tahun. Dia hanya bisa mengunjungi mereka saban akhir pekan.

Martine akhirnya ikut menceburkan diri sebagai pelacur. Awalnya, dia bekerja sebagai tukang bersih-bersih di rumah bordil. "Saya benar-benar marah lantaran orang-orang di sekitar kami menghindari Louise," kata Martine. "Saya amat dendam kepada mereka."

Keduanya lantas menceraikan suami masing-masing. Louise dan Martine menyebut bekas suami mereka sebagai pasangan germo. Meski begitu, Fokkens bersaudara ini tetap meneruskan profesi mereka. "Kehidupan kami dalam bisnis pelacuran menjadi sumber kebanggaan kami," ujar Louise.

Tiap kali merenung dan mengingat masa lalu, keduanya menyesal menjadi lonte. "Kami sebenarnya tidak mau mendapat cap buruk dan pandangan negatif dari orang-orang kami temui," tutur Martine.

Setelah berhenti menjadi pelacur, Louise dan Martine - memiliki tiga anak - lebih banyak berkumpul bersama anak dan cucu mereka. Mereka juga menjual lukisan buatan sendiri, termasuk satu lukisan menggambarkan situasi di Red Light District.

Mereka juga mendapat terapi kejiwaan di sebuah klinik kesehatan mental milik komunitas Yahudi Amsterdam. Keduanya memang hidup dalam keluarga trauma akibat Holocaust. "Kami masih terlalu muda saat mengalami itu, tapi kami dilahirkan dalam sebuah keluarga mengalami trauma lantaran ibu kami berdarah Yahudi," kata Louise.

Orang tua mereka tadinya sangat menentang keduanya menjadi pelacur, tapi akhirnya mereka terpaksa menerima kenyataan itu. "Sebelum kami tak seorang pun dalam keluarga kami pernah menjadi lonte," ujar Martine.

Keduanya kini lebih memusatkan perhatian pada ajaran agama Yahudi. Louise rajin bersembahyang dan menghadiri hari-hari suci Yudaisme di sinagoge Reformasi di Amsterdam. Meski begitu, dia masih merasa malu dan lebih senang memilih bangku barisan belakang saban kali ke sinagoge. "Waktu masih menjadi pelacur tidak enak rasanya datang ke sinagoge. Kami tidak diterima di sana," kata Louise.

Fokkens bersaudara tidak pernah merasa menjadi simbol Red Light District. Louise mengaku tidak lagi merasa nyaman tiap kali masuk ke kawasan pelacuran itu.

Menurut dia, semuanya telah berubah. Dulu kebanyakan pelacur adalah gadis Belanda, tapi sekarang lonte asing. Waktu itu banyak pelacur tua masih beroperasi, namun kini kebanyakan perempuan belia belum genap berusia seperempat abad. "Sebagian pelanggan dulu biasanya orang Belanda, saat ini sebagian besar pelancong," tutur Louise.

Peta penyebaran orang Yahudi di seluruh dunia. (the Economist)

Kebangkitan Yudaisme

Sebanyak 81 persen dari 13.580.000 orang yahudi di seluruh dunia tinggal di Israel dan Amerika Serikat.

Prasasti soal Kerajaan Himyar di Bir Hima, Arab Saudi. (You Tube)

Kerajaan Yahudi di tanah suci

Arab Saudi dulunya masuk wilayah Himyar, kerajaan Yahudi.

Mariam Halabi di sebuah klinik di Kota Istanbul, Turki, bersama Moti Kahana, pengusaha membantu dia sekeluarga keluar dari Aleppo, Suriah. (Moti Kahana  buat Albalad.co)

Yahudi buncit dari Aleppo

"Saya tidak hanya menolong orang Yahudi. Saya sudah menyumbang US$ 100 ribu hingga US$ 2 juta buat rakyat Suriah," kata Moti Kahana.

Karl Marx, pencipta paham komunis, juga orang Yahudi. (Wikimedia)

Seencer otak Yahudi

Sejak abad pertama, seluruh anak lelaki Yahudi wajib disekolahkan paling lambat umur enam tahun.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Sapa Muqtada

Ali Akbar Velayati, penasihat utama Pemimpin Agung Iran Ali Khamenei, Februari lalu bilang Teheran akan mencegah Sadr dan aliansi politiknya memerintah Irak.

21 Mei 2018

TERSOHOR