kisah

Ke Hadarim menjenguk Barghuti

Fadwa Barghuti hanya bisa menjenguk suaminya dua pekan sekali. Itu pun cuma 45 menit.

25 Februari 2015 08:20

Selasa adalah saat paling ditunggu oleh Fadwa Barghuti. Di hari itulah, tiap dua pekan, dia bisa menjenguk suaminya, Marwan Barghuti, kini mendekam di penjara Israel.

Momen indah itu pun kembali datang Selasa pada Desember 2007. Ibu empat anak – Qassam, Syaraf, Arab, dan Rubah – ini meninggalkan rumahnya di Ramallah, Tepi Barat, pukul enam pagi. Tak banyak barang dia bawa, hanya dua buku pesanan suaminya, yakni soal Dewan Legislatif Palestina (PLC) dan sejarah perjuangan Palestina.

Fadwa, sekarang 51 tahun, tidak sendirian. Dia pergi ke Penjara Hadarim, Nataniyah, sekitar enam kilometer dari Ibu Kota Tel Aviv, Israel, bersama perempuan Palestina lainnya. Di sanalah Barghuti bersama 130 tahanan Palestina menjalani hukuman. Total ada delapan bus disediakan Palang Merah Internasional: masing-masing empat bus berangkat dari Ramallah dan Jenin.

Barghuti, kini 56 tahun, divonis lima hukuman penjara seumur hidup ditambah 40 tahun karena dianggap mendalangi lima serangan ke wilayah Israel. Dia baru menjalani 13 tahun. Sebelumnya, selama 3,5 tahun dia dikurung di sel isolasi berukuran tiga meter persegi: enam bulan di Penjara Ar-Ramla, dekat Bandara Ben Gurion, dan sisanya di Beersheba.

Pemimpin intifadah Palestina pada 1987 dan 2000 ini ditangkap pada 15 April 2002. Lelaki kelahiran Desa Khobar, Ramallah, itu sempat bersembunyi setelah lolos dari dua usaha pembunuhan.

Meski dipenjara, Barghuti tetap mempengaruhi perkembangan politik di Palestina. Dialah meyakinkan pelbagai faksi di Palestina untuk bergencatan senjata dengan Israel. Dia pula memprakarsai the National Document of the Prisoners melahirkan pemerintahan koalisi Hamas dan Fatah pada Februari 2007.

Sejatinya, jarak Ramallah – Hadarim bisa dicapai dalam satu jam. Namun waktu tempuh itu molor lantaran banyak pos dan ketatnya pemeriksaan harus dilewati. “Akibatnya memakan waktu empat jam untuk sampai ke sana,” kata Fadwa saat dihubungi Faisal Assegaf dari Albalad.co melalui telepon selulernya Desember 2007.

Dia pun selalu merasa waktu berkunjung diberikan sangat kurang. “Waktu 45 menit tak cukup mengobati kerinduan kami sekeluarga,” dia mengeluhkan. Apalagi pihak berwenang Israel mengizinkan Fadwa saja boleh berkunjung. Sedangkan dua anak lelakinya dilarang lantaran sudah melewati batas usia maksimal 18 tahun disyaratkan hukum negara Yahudi itu. Hanya Rubah, putri satu-satunya bisa bertemu Barghuti. Itu pun cuma empat kali setahun.

Pertemuan berlangsung di sebuah ruang khusus dijaga ketat. Fadwa sama sekali tidak bisa memeluk atau mencium tangan suaminya. Dia hanya dapat menyaksikan suaminya berseragam penjara serba coklat dari balik kaca memisahkan mereka. Percakapan dilakukan lewat telepon. “Dia selalu menanyakan kabar anak-anak dalam dua pekan terakhir dan kondisi rakyat Palestina,” ujarnya.

Sekarang sudah 12 kali puasa Fadwa tanpa Barghuti. Selama itu pula dia tak pernah ditelepon Barghuti. Suaminya hanya diizinkan memberi kabar lewat surat ditulis oleh tiga pengacaranya ketika mereka berkunjung. Meski begitu, dia terus berdoa meski kemungkinan suaminya bebas sangat kecil. Dia juga tidak menyesal bersuamikan Barghuti selalu menjadi incaran Israel. “Saya bangga karena dia berjuang demi kemerdekaan rakyat Palestina.”

Rombongan pejuang Palestina berparade melewati sebuah poster Marwan Barghuti ditempel di tembok bangunan. (CNN)

Legenda hidup intifadah

Dalam semua jajak pendapat dibikin beberapa tahun terakhir, Marwan Barghuti selalu unggul. Dia sudah bilang akan ikut pemilihan presiden bila Abbas mundur.

Pemimpin dua intifadah Marwan Barghuti. (Times of Israel)

Kebebasan bangsaku lebih penting

Marwan Barghuti tengah menjalani hukuman lima kali penjara seumur hidup ditambah 40 tahun.

Rabbi Avraham Sinai bersama putranya, Amos Sinai, pada Mei 2016 berdiri memandang ke arah Libanon dari wilayah perbatasan di Israel. (Channel 2)

Rabbi pengkhianat Partai Tuhan

Selama sepuluh tahun, Ibrahim Yasin bergabung dengan Hizbullah sekaligus menjadi informan Israel. Sejak 1997, dia dan keluarganya pindah ke Israel.

The end of occupation is the beginning of peace

No people on the globe would accept to coexist with oppression.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Sapa Muqtada

Ali Akbar Velayati, penasihat utama Pemimpin Agung Iran Ali Khamenei, Februari lalu bilang Teheran akan mencegah Sadr dan aliansi politiknya memerintah Irak.

21 Mei 2018

TERSOHOR