kisah

Berkenalan dengan Jihadi John

Warna kesukaannya biru, binatang favoritnya monyet, film kartun kesayangannya the Simpsons, dan keripik adalah makanan kegemarannya.

27 Februari 2015 16:18

Setelah tertutup rapat-rapat selama tujuh bulan - sejak pertama kali muncul dalam rekaman video penyembelihan wartawan Amerika Serikat James Foley Agustus tahun lalu - siapa sebenarnya sang algojo akhirnya terungkap. Jihadi John, lelaki beraksen Inggris itu, aslinya bernama Muhammad Imwazi.

Dia menjadi terkenal lantaran setelah Foley dia dipercaya oleh ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) buat membunuh empat sandera Barat lainnya, yakni Steven Sotloff, David Haines, Alan Henning, dan Abdurrahman Kassig.

Adalah para tawanan ISIS memberikan nama panggilan Jihadi John. Bersama dua rekannya, juga beraksen Inggris, Jihadi John, George, dan Ringo, dikenal dengan sebutan the Beatles. Trio ini adalah sipir di penjara bawah tanah ISIS di Kota Raqqah, Suriah, tempat para sandera disekap.

Namun anehnya, jejak Imwazi tidak ada di Internet. Menurut wartawan surat kabar the Washington Post Adam Goldman, pembongkar identitas asli Jihadi John, dia tidak memiliki akun Facebook atau Twitter. "Anehnya, di masa sekarang bila Anda berusia 26 tahun, nama Anda ada di Internet," katanya.

Lelaki 26 tahun ini dilahirkan di Kuwait dan berasal dari keluarga kelas menengah menetap di London Barat. Dia memiliki lima adik, termasuk Muhammad dan dua adik perempuan kini berusia 25 dan 23 tahun. Orang tua mereka selalu mengantar dan menjemput ke sekolah.

Ayahnya bekerja sebagai sopir taksi dan ibunya mengurus rumah tangga. Keluarganya pindah ke Inggris pada 1993 saat Imwazi berumur enam tahun. Dia biasa salat bersama keluarganya di sebuah masjid di Greenwich, tenggara London. Dia bersekolah di Quintin Kynaston Academy di St John's Wood, utara London. Penyanyi pop Tulisa Contostavios juga alumnus dari sana.

Teman-teman sekolah dasarnya di St Mary Magdalene Church of England, Maida Vale, barat London, mengenal Jihadi John - kini ketahuan bernama Muhammad Imwazi - sangat suka bermain game komputer dan olahraga beladiri. "Dia satu-satunya muslim di kelas kami," kata seorang bekas teman sekolahnya.

Dalam buku tahunan sekolahnya saat dia berusia sepuluh tahun, dia menulis daftar kesukaannya. Dia menggemari game menembak "Duke Nukem: Time To Kill" dan buku favoritnya adalah How To Kill A Monster. Grup band favoritnya ialah S Club 7. Saat ditanya ingin menjadi apa dia usia 30 tahun, dia menulis, "Saya ingin masuk tim sepak bola dan mencetak gol."

Meski tinggal di London dan di sana ada klub Arsenal serta Tottenham Hotspurs, Imwazi merupakan pendukung Manchester United, pemegang rekor terbanyak juara Liga Primer Inggris, yakni 20 kali.

Imwazi juga menulis warna kesukaannya biru, binatang favoritnya monyet, film kartun kesayangannya the Simpsons, dan keripik adalah makanan kegemarannya.

Guru sekolahnya masih ingat Imwazi itu rajin, pekerja keras, dan menyenangkan. Dia menilai mantan muridnya ini bertanggung jawab dan pendiam. "Tidak ada tanda-tanda dia menyukai kekerasan," ujarnya kepada stasiun televisi Channel 4.

Seorang sumber mengaku pernah bertemu Imwazi di Suriah mengungkapkan Imwazi termasuk dalam rombongan jihadis London paling awal berjuang ke Suriah buat mendirikan khilafah Islamiyah. Dia salah satu dari 700 militan asing tergabung dalam Brigade Muhajirin tiba di Suriah tiga tahun lalu. Karena fasih berbahasa Arab, dia ditugaskan memeriksa tawanan sebelum disiksa.

Imwazi sekeluarga dikabarkan pernah menghuni sebuah flat di kawasan Queen's Park. Namun para tetangganya mengaku tidak pernah melihat atau mendengar namanya. "Saya tinggal di sini seumur hidup saya, saya kenal semua orang sekitar sini dan saya tidak tahu Muhammad Imwazi," tutur Umar Syafi, 18 tahun.

Jamaah masjid di ujung jalan lingkungan tempat tinggalnya juga tidak mengenal dirinya. "Saya tidak kenal dia dan saya pikir saya tidak pernah melihat dia sebelumnya, syukurlah," kata seorang pria 26 tahun menolak ditulis identitasnya.

Seorang warga setempat kaget jika benar pernah bertetangga dengan Imwazi alias Jihadi John. "Benar-benar mengkhawatirkan orang seperti dia bisa tinggal dekat rumah saya."

Muhammad Imwazi dulu dikenal santuan dan pendiam kini telah berubah menjadi Jihadi John: brutal dan berdarah dingin.

Wartawan Amerika Serikat James Foley saat akan dieksekusi, Agustus 2014. (abcnews.go.com)

Jihadi John diduga kabur dari ISIS

Muhammad Imwazi diyakini kabur dari ISIS beberapa pekan lalu. Dia ketakutan setelah identitas aslinya terbongkar.

Muhammad Imwazi alias Jihadi John, algojo ISIS. (www.dailymail.co.uk)

Alasan Jihadi John bergabung dengan ISIS

Muhammad Imwazi alias Jihadi John batal bergabung dengan Asy-Syabab karena takut dibunuh seperti beberapa temannya.

Muhammad Imwazi alias Jihadi John, algojo ISIS. (www.dailymail.co.uk)

Jihadi John minta maaf kepada keluarga

Muhammad Imwazi meminta maaf melalui pihak ketiga.

Jasim Imwazi, ayah dri Muhammad Imwazi alias Jihadi John, algojo ISIS. (dailymail.co.uk)

Ayah Jihadi John diminta tinggalkan Kuwait

Keberadaan Jasim Imwazi, 51 tahun, memalukan dan memusingkan pemerintah Kuwait.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Sapa Muqtada

Ali Akbar Velayati, penasihat utama Pemimpin Agung Iran Ali Khamenei, Februari lalu bilang Teheran akan mencegah Sadr dan aliansi politiknya memerintah Irak.

21 Mei 2018

TERSOHOR