kisah

Resah di Raqqah

Penduduk Raqqah dan jihadis asing sama-sama keranjingan Internet.

02 Maret 2015 13:33

Ketika ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) mencaplok Raqqah, Suriah, seantero kota seakan diselimuti warna hitam. Bendera hitam ISIS berkibar di mana anggotanya tinggal atau bekerja, kaum hawa diwajibkan berabaya, berjilbab, dan bercadar serba hitam, serta bangunan dan tempat-tempat terbuka dicat hitam.

Raqqah berlokasi di tepi utara Sungai Eufrat berjarak sekitar 160 kilometer sebelah timur Kota Aleppo dan hanya 40 kilometer dari Waduk Tabqa, bendungan terbesar di Suriah. Raqqah sekarang telah menjadi ibu kota ISIS.

Ketika Amerika Serikat mulai melancarkan serangan udara, para aktivis memperingatkan penduduk Raqqah untuk tidak menjemur pakaian berwarna gelap di luar atau di atas atap rumah. Takutnya dikira bendera ISIS.

Barangkali kelompok dipimpin Abu Bakar al-Baghdadi itu juga cemas. Mereka mulai mengecat ulang semuanya. Alun-alun di tengah Kota Raqqah - tempat eksekusi, penyaliban, atau hukuman lain biasa dilaksanakan secara terbuka - kini dipenuhi warna mirip permen: merah muda, hijau, dan putih. Bagian lainnya dicat kuning emas.

Akhirnya tekanan pemberitaan dan mahalnya urusan mengelola sebuah kota memaksa ISIS melakukan sejumlah kompromi.

Musim panas tahun lalu, kejahatan seperti merokok atau tidak menutup toko saat waktu salat lima waktu tiba, pelakunya bisa dicambuk lusinan kali. Tapi sekarang beberapa polisi syariah ISIS mesti mulai menerima denda bagi yang kuat membayar sebagai pengganti hukuman cemeti.

Bahkan ada sejumlah laporan menyebutkan mereka memaksa pedagang tetap berjualan meski sudah masuk waktu salat wajib. Alhasil, polisi-polisi syariah itu dapat mengumpulkan fulus denda dari para pedagang, sekitar 1.500 pound Suriah atau Rp 102 ribu saban kali waktu salat tiba.

ISIS bukan sekadar kekurangan duit, cadangan darah bagi anggota mereka cedera juga sangat menipis. Siapa tidak mau menyumbang darah dipaksa. Donor darah ini menjadi sebuah kewajiban dan tidak dapat diganti uang. Tiap orang berurusan dengan pengadilan diminta pergi ke rumah sakit telah ditunjuk buat mendonorkan darah. Setelah memberi bukti menyumbang darah, baru kasus dilanjutkan.

ISIS telah menutup banyak perusahaan, termasuk firma hukum. Mereka tidak percaya sistem hukum bikinan manusia dan mengklaim melaksanakan syariat Islam.

ISIS tidak mau orang bekerja, mereka hanya ingin penduduk menderita. Alhasil, kaum lelaki akan bergabung dengan ISIS dan perempuan bakal menikah dengan jihadis. Anggota SIS kelihatan seperti orang haus seks. Mereka selalu menjarah viagra dari toko-toko obat. Banyak dari mereka telah memiliki sejumlah istri tapi masih bernafsu mencari budak seks.

Raqqah telah menjadi penjara bagi perempuan di bawah 45 tahun. Pemerintah Suriah bilang wanita tidak kabur dari kota itu karena bisa diperkosa ISIS atau kelompok pemberontak lainnya. Perempuan-perempuan di Raqqah putus asa sebab jihadis ISIS gila kawin.

Brigade perempuan ISIS telah mengeluarkan pengumuman: siapa saja ingin menikah dengan pejuang ISIS dapat memakai cadar putih dibalik cadar hitam dan mereka akan dihubungi. Tapi gadis-gadis benar-benar tidak menyukai mereka dan tidak ingin menjadi istri mereka, kecuali beberapa keluarga terhimpit masalah ekonomi.

Ketika seorang gadis terpaksa menikah dengan militan ISIS, dia bakal menghadapi persoalan lain. Dia tidak pernah mengetahui identitas asli suaminya, cuma nama samaran saja dia kenal. Kalau suaminya tewas, dia tidak tahu bagaimana cara menghubungi keluarganya dan di mana mereka tinggal.

ISIS tekah melarang seluruh laki-laki kelahiran setelah 1992 meninggalkan Raqqah meski buat alasan ikut ujian, mengambil gaji, atau lainnya. Artinya tidak ada yang bisa pergi ke manapun. Siapa mau kabur dari Raqqah tanpa istri dan anak?

Selain itu, bila mereka nekat kabur ISIS akan mengambil alih rumah mereka. ISIS sudah merampas banyak rumah kaum Nasrani, anggota Tentara Pembebasan Suriah (FSA), dan aktivis telah mereka tangkap.

Sebelum dikuasai ISIS, Raqqah berpenduduk satu juta orang tapi sekarang hanya 400 ribu. Tanpa kerjaan, kebanyakan dari mereka berdiam diri di rumah menonton televisi atau berselancar di Internet. Orang biasa atau anggota ISIS sama-sama keranjingan Internet.

Mereka hanya bermain Facebook atau WhatsApp karena tidak bisa menonton video atau Skype. Namun warga Raqqah mesti waspada. Militan ISIS di pos pemeriksaan kadang suka mengecek telepon seluler warga lewat. Jika ditemukan gambar atau pesan tidak islami, masalah akan menghampiri.

Warga Raqqah mencemaskan masa depan anak-anak mereka. Anak-anak memang tidak dipaksa bergabung dalam pasukan ISIS, tapi mereka bosan. Mereka tidak boleh bersekolah dan anak-anak berusia di bawah 13 tahun dilarang bekerja. Saban hari anak-anak menyaksikan militan ISIS bersenjata Kalashnikov.

Bulan lalu sekolah-sekolah dibuka lagi. Namun guru-guru diharamkan memakai buku terbitan Barat. Tidak seorang pun menyukai buku-buku karya ISIS.

Hanya saja sekolah digelar sampai kelas 9 atau tiga SMP. Orang-orang tua menjadi khawatir anak mereka bakal dicuci otak sehingga memilih anak-anak mereka di rumah saja. Sedikit orang membuka sekolah rahasia di rumah, tapi bila ketahuan sungguh berbahaya. ISIS mengancam membunuh guru mana saja nekat mengajar di sekolah pribadi, khususnya sekolah bagi anak-anak perempuan.

Tak satu pun penduduk Raqqah berpikir ISIS akan segera diusir dari sana karena jumlah mereka begitu banyak. Angka para pejuang asing di kota itu mengejutkan. Tidak ada kawasan di Raqqah tanpa kehadiran mereka dan lusinan rumah telah mereka rampas.

Jihadis dari pelbagai negara memilih hidup bareng rekan-rekan sesama negara atau bahasa. Jihadis Inggris mengelompok terpisah, demikian pula yang asal Belanda. Mereka tidak banyak bergaul dengan warga Raqqah. Keduanya sama-sama takut.

Jika seseorang berusaha berbicara dengan orang asing, polisi syariah ISIS bakal menghampiri untuk menanyakan keperluannya atau bahkan dia mungkin bisa dituduh mata-mata. Para militan asing ini juga gugup, mungkin lantaran keluarga atau pemerintah mereka tidak mengetahui mereka berada di Raqqah. Mereka juga cemas kalau foto atau nama mereka sebenarnya tersebar. Ini bisa memnimbulkan masalah sepulang mereka ke negara masing-masing.

Kenyataannya, tidak mudah buat jihadis-jihadis itu pulang. Masuk ke Raqqah itu mudah, namun amat sulit buat keluar. Setiba mereka di sana ISIS bakal melenyapkan paspor-paspor mereka dan penduduk setempat dilarang membuatkan kartu identitas bagi militan-militan dari luar negeri ini.

Beberapa di antara mereka dari London atau New York menjadi bosan. Raqqah tidak pernah menjadi kota menarik dan sekarang tidak ada yang bisa dilakukan. Para jihadis asing akhirnya kehilangan semangat. Mereka tidak ingin berperang, jadi kalau disuruh mereka tidak senang. Siapa saja berusaha kabur dari ISIS bakal dibunuh secara rahasia.

Siapa saja - penduduk atau jihadis asing - kini merasa resah tinggal di Raqqah.

Jihadis ISIS berpawai di Kota Raqqah, Suriah, menggunakan kendaraan Toyota. (ABC News)

Markas ISIS dipindah dari Raqqah ke Dair az-Zur

Pemindahan itu berlangsung dua bulan lalu.

Evakuasi korban tewas dan luka akibat serangan teror di klub malam Reina, Istanbul, Turki, 1 Januari 2017. (Twitter/@emergensa24)

Rekrutmen Nusrah dan ISIS di Turki

ISIS merekrut orang-orang kurang secara ideologi dan jaringan, sedangkan calon jihadis Jabhat Nusrah mesti lulus indoktrinasi dan direkomendasikan anggota lainnya.

Pemimpin gereja ortodhoks Siriak di Bartella, Irak, berpose bareng pasukan elite Irak membebaskan kota itu dari caplokan ISIS. (ADFA)

Dentang lonceng gereja di tepi Mosul

"Ketika jihadis ISIS itu mulai menurunkan dan menghancurkan salib serta injil, kami sadar kami sudah tidak aman lagi," ujar Nagham.

Seorang jihadis ISIS merobohkan salib di sebuah gereja di Kota Mosul, Irak, pada 2014. (The Assyrian International News Agency)

Nestapa pemuja Yesus

Di tarikan napas terakhir, gadis Kristen berusia 12 tahun meminta ibunya memaafkan jihadis ISIS pembakar rumah mereka.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Lika-liku pembunuhan Jamal Khashoggi

"Kami mengetahui kapan Jamal (wartawan Saudi Jamal Khashoggi) dibunuh, di ruangan mana dia dibunuh, dan di mana mayatnya dibawa untuk dimutilasi,"

12 Oktober 2018
Nihil Jamal di Istanbul
05 Oktober 2018
Bungkam ulama guncang Al-Haram
26 September 2018

TERSOHOR