kisah

Berasa bukan teroris dalam Al-Hair

Narapidana kasus terorisme di Arab Saudi hidup dalam penjara seperti tinggal di hotel.

06 Maret 2015 07:06

Jangan bayangkan seperti penjara khusus narapidana terorisme di Nusa Kambangan, Cilacap, Jawa Tengah. Kondisi penjara bagi teroris di Arab Saudi enak banget.

Kecuali senapan mesin dan menara penjaga, penjara superketat Al-Hair benar-benar mirip hotel, terutama ruang kunjungannya.

Setelah melewati gerbang besi nan berat, pengunjung bakal melewati lorong dilapisi karpet merah. Di sini terdapat 38 sel masing-masing dilengkapi sebuah ranjang berukuran besar, lemari es, televisi, dan kamar mandi dengan pancuran.

Tidak jauh dari mesin anjungan tunai mandiri (ATM), terdapat sejumlah kamar khusus bagi tahanan telah menikah. Setidaknya sebulan sekali mereka diberi waktu tiga hingga lima jam buat berduaan dengan istri di ruangan bercinta itu. Ranjang di tiap kamar senggama itu selalu dilapisi seprei baru, juga disediakan teh, dan makanan lainnya.

Hampir 1.100 narapidana terkait kasus terorisme mendekam di penjara berjarak hanya beberapa kilometer sebelah selatan Ibu Kota Riyadh ini. Al-Hair adalah yang terbesar dari lima penjara khusus buat teroris, dibangun dekade lalu.

Penjara-penjara di Saudi sudah lama tertutup bagi wartawan dan pegiat hak asasi manusia. Namun Menteri Dalam Negeri Muhammad bin Nayif telah memerintahkan mengizinkan jurnalis berkunjung untuk menangkis tudingan Saudi menyiksa para tahanan kasus terorisme.

Pada Ahad sore baru-baru ini, Wardin Muhammad al-Ahmad mengajak wartawan surat kabar the Washington Post Kevin Sullivan berkeliling Al-Hair selama enam jam. Mulai melihat blok sel, rumah sakit, sel isolasi, kelas, dan areal bersenang-senang. Tidak ada batasan kecuali dilarang memotret.

"Kami tidak menyembunyikan apapun," kata Wardin. "Tunjuk gedung dan sel mana saja, Anda bisa melihat segala hal ingin Anda saksikan."

Pemerintah Saudi memperlakukan semua narapidana kasus terorisme itu senyaman mungkin, bukan seperti dilakoni Amerika Serikat terhadap penghuni kamp Guantanamo.

Kesejahteraan tiap keluarga tahanan diperhatikan. Saudi memberikan uang buat membeli makanan, menyewa tempat tinggal, dan membayar sekolah anak-anak tahanan. Mereka juga membelikan tiket pesawat dan menanggung hotel bagi keluarga ingin menjennguk, termasuk kerabat tahanan dari luar negeri.

Dikawal sejumlah penjaga, banyak narapidana (kecuali terbukti membunuh), dibolehkan menghadiri pemakaman dan pernikahan keluarga dekat. Mereka bahkan diberi fulus US$ 2.600 atau sekitar Rp 33,8 juta buat membeli kado.

Di dalam kompleks Al-Hair terdapat Rumah Keluarga, sebuah hotel dalam penjara dipakai sebagai hadiah bagi narapidana berkelakuan baik. Hotel ini memiliki 18 kamar berukuran besar bisa memuat sembilan orang. Di sini ada banyak bunga-bunga segar, cadangan makanan mencukupi, dan arena bermain anak-anak.

Pemerintah Saudi tahun lalu menggelontorkan US$ 35 juta (Rp 455 miliar) buat menyediakan kenyamanan bagi semua narapidana teroris di lima penjara superketat. "Hanya karena seseorang itu penjahat, kita tidak boleh menghukum keluarganya juga," ujar Wardin. "Strategi kami adalah merawat orang-orang ini sehingga masyarakat menjadi lebih baik. Ini Islam ajarkan."

Kebanyakan dari 3.500 narapidana di lima penjara superketat divonis bersalah dalam kasus terorisme. Kelima penjara ini dioperasikan oleh polisi rahasia Mabahith. Juru bicara Kementerian Dalam Negeri Jenderal Mansyur at-Turki menjelaskan merawat keluarga tahanan merupakan bagian strategi Saudi untuk memperbaiki orang-orang radikal.

Saudi memiliki program jangka panjang bagi narapidana terorisme untuk menjalani pendidikan dan pelajaran agama secara intensif. Ketika masa hukuman mereka berakhir, narapidana-narapidana ini dipindahkan ke dua pusat rehabilitasi di Riyadh dan Jeddah.

"Bila kita kehilangan narapidana ini saat dipenjara, mereka bakal lebih radikal setelah bebas," tutur Turki seraya menambahkan dukungan bagi keluarga tahanan juga bertujuan agar mereka tidak jauh dalam pengaruh teroris.

Turki mengungkapkan seperlima dari tahanan telah menjalani program rehabilitasi kembali ke jalur terorisme. Namun aktivis hak asasi manusia memperkirakan tingkat kegagalannya lebih tinggi ketimbang angka versi pemerintah.

Kritikan kerap muncul menyebut program rehabilitasi itu merupakan bentuk simpati terhadap teroris lantaran Arab Saudi atau banyak orang kaya Saudi mendukung kelompok-kelompok Islam radikal.

"Program seperti ini bisa benar-benar berhasil," kata Bruce Hoffman, Direktur Pusat Studi Keamanan di Universitas George Washington, Amerika Serikat.

Narapidana teroris di Penjara Dhahban beralamat di Madinah Road, Jeddah, juga tidak kalah senang. Mereka saban bulan mendapat hibah US$ 533-US$ 799.

Di sini juga terdapat 30 kamar senggama. Narapidana telah menikah dikasih waktu satu sampai tiga jam untuk bercinta dengan istrinya di kamar khusus itu.  Mereka juga boleh menghadiri pernikahan keluarga dekat dan dikasih uang buat membeli kado.

Semua tahanan juga diizinkan menelepon keluarganya. Bahkan, narapidana ingin menikah diberi kesempatan dan cuti beberapa hari untuk menikmati bulan madu. Tahanan berkelakuan baik juga diberikan izin keluar penjara 24 jam.

"Kami hanya membolehkan narapidana kami yakin tidak akan menimbulkan masalah di masyarakat," kata seorang pejabat penjara. "Tidak pernah ada kasus tahanan lari."

Nura, bukan nama sebenarnya, menjadi cacat akibat serangan udara pasukan koalisi Arab Saudi di Yaman pada 2015. (Save the Children)

Sentuhan Zionis dalam Perang Yaman

Israel secara rahasia menjual senjata dan amunisi kepada Arab Saudi, termasuk bom fosfor merupakan senjata terlarang.

Pangeran Ahmad bin Abdul Aziz dari Arab Saudi. (huseofsaud.com)

Berpadu buat kudeta putera mahkota

Pangeran Ahmad bin Abdul Aziz pulang dengan misi menggulingkan Pangeran Muhammad bin Salman. Dia mendapat jaminan keamanan dari Amerika dan Inggris.

Wartawan pengkritik Arab Saudi Jamal Khashoggi. (Twitter)

Lika-liku pembunuhan Jamal Khashoggi

"Kami mengetahui kapan Jamal (wartawan Saudi Jamal Khashoggi) dibunuh, di ruangan mana dia dibunuh, dan di mana mayatnya dibawa untuk dimutilasi,"

Pangeran Sultan bin Turki (Hugh Miles)

Jejak gelap pengkritik penguasa negara Kabah

Sejak Pangeran Muhammad bin Salman menjadi putera mahkota pada 21 Juni lalu, Arab Saudi kian getol menangkapi para pembangkang, termasuk ulama.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Sentuhan Zionis dalam Perang Yaman

Israel secara rahasia menjual senjata dan amunisi kepada Arab Saudi, termasuk bom fosfor merupakan senjata terlarang.

21 November 2018
Nihil Jamal di Istanbul
05 Oktober 2018

TERSOHOR