kisah

Merapat ke Tembok Ratapan

Obama berdoa di Tembok Ratapan ketika warga muslim salat subuh di Masjid Al-Aqsa.

09 Maret 2015 19:15

Strategi paling jitu mendekati satu kaum yakni mengikuti perilaku mereka, termasuk cara bersembahyang. Calon presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat, Barack Hussein Obama, pun menyadari taktik semacam ini dapat digunakan untuk meyakinkan para pemilih Yahudi.

Karena itu, di hari terakhir lawatannya ke Israel akhir Juli 2008, dia mengunjungi Tembok Ratapan atau Kotel dalam bahasa Ibrani sangat disucikan oleh bangsa Yahudi. Tempat suci ini berada di sekitar kompleks Masjid Al-Aqsa, Yerusalem Timur.

Bukan sekadar datang seperti wisatawan. Meski penganut Nasrani, kandidat presiden kulit hitam pertama Amerika ini hadir untuk berdoa. Dia mengenakan kippa (peci khas Yahudi) berwarna putih dan didampingi Rabbi Shmuel Rabinowitz berwenang atas Tembok Ratapan. Bersama istrinya, Michele, Obama selama sepuluh menit membaca Psalm 122 merupakan doa demi kedamaian Yerusalem.

Kota suci bagi tiga agama – Islam, Yahudi, dan Kristen – ini memang menjadi rebutan. Palestina ingin negaranya nanti beribu kota di sana. Namun Israel sudah menetapkan Yerusalem mereka rebut setelah Perang Enam Hari 1967 sebagai ibu kota abadi mereka dan tidak dapat dibagi dua melalui Hukum Dasar Yerusalem disahkan Knesset (parlemen Israel) pada 1980.

Seperti kebiasaan, dia memasukkan gulungan kertas berisi doa di antara rekahan tembok. Namun doa seharusnya rahasia itu bocor ke publik setelah seorang pelajar seminari Yahudi bernama depan Aleph mengambil dan menyerahkan doa Obama ke surat kabar Maariv.Isinya: “Tuhan, lindungi saya dan keluarga. Ampuni dosa-dosa saya dan bantulah saya menghadapi kebanggaan dan keputusasaan. Berikan saya kearifan untuk berbuat benar dan adil. Jadikan saya alat untuk mencapai kehendak-Mu.”

Sejatinya, demi kerahasiaan doa peziarah, dua kali setahun gulungan kertas di Tembok Ratapan dipindahkan ke tempat dirahasiakan. Waktunya menjelang peringatan hari suci Rosh Hasanah dan Paskah.

Tentu saja, tersiarnya doa Obama itu membuat otoritas keagamaan Yahudi kebakaran jenggot. Rabbi Rabinowitz menulis surat permintaan maaf kepada senator Illinois itu. “Tuhan melarang seseorang membaca doa orang lain,” katanya. Aleph yang ketakutan juga bertobat lewat stasiun televisi Channel 2.

Pengacara Yerusalem, Shahar Alon, meminta Jaksa Agung Menachem Mazuz memerintahkan polisi menyelidiki kasus ini. “Dengan menyebarluaskan ke masyarakat, Maariv telah melanggar hukum dan hak dasar soal kehormatan dan kebebasan seseorang,” Alon menegaskan.

Sebab itu, dia menyerukan boikot sampai koran itu meminta maaf. Namun pihak Maariv membela diri. Mereka bilang Obama menyerahkan doanya ke media setelah meninggalkan tempatnya menginap di Hotel King David, Yerusalem. “Karena Obama bukan Yahudi, tidak ada pelanggaran hak.”

Tapi Obama tak peduli atas kontroversi itu. Yang penting, kaum Yahudi lebih tertarik kepada dia ketimbang pesaingnya, John McCain dari kubu Republik. Karena itu, dia juga berkampanye di Tembok Ratapan. “Kami akan terus menjamin keamanan Israel karena Israel sahabat sejati kami,” katanya.

Para peziarah pun sangat antusias melihat kunjungan Obama. Sampai-sampai para perempuan berdoa di sebelah lain tembok berdiri di atas kursi untuk melihat lebih dekat. Mereka juga berebutan menyalami lelaki baru berulang tahun ke-47 itu. Bahkan seorang pegiat sayap kanan, Itamar Ben-Gvir, berteriak, “Yerusalem bukan untuk dijual!”

Yang pasti, Obama kembali menyakiti perasaan orang-orang Arab dan muslim, kalangan pernah dekat sebelum dia menjadi senator. Bayangkan saja, dia tiba pukul lima pagi di Tembok Ratapan ketika warga muslim salat subuh di Masjid Al-Aqsa.

Foto raksasa mendiang Imam Khomeini tergantung di tembok sebuah bangunan dekat rumahnya di kawasan elite Jamaran di utara Ibu Kota Teheran, Iran, 31 Mei 2016. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Fulus Kabah goyang Mullah

Pada 2012, Amerika menghapus MEK dari daftar organisasi teroris lantaran ingin menggunakan kelompok ini untuk membikin Iran tidak stabil.

Rahaf Muhamnad al-Qunun, 18 tahun, gadis asal Arab Saudi kabur dari keluarganya dan ingin meminta suaka ke Australia. (Twitter)

Harap Rahaf

"Hidup di Arab Saudi seperti tinggal dalam penjara. Saya tidak bisa membikin keputusan sendiri," ujar Rahaf. "Bahkan soal rambut pun saya tidak boleh memutuskan sendiri."

Nura, bukan nama sebenarnya, menjadi cacat akibat serangan udara pasukan koalisi Arab Saudi di Yaman pada 2015. (Save the Children)

Sentuhan Zionis dalam Perang Yaman

Israel secara rahasia menjual senjata dan amunisi kepada Arab Saudi, termasuk bom fosfor merupakan senjata terlarang.

Pangeran Ahmad bin Abdul Aziz dari Arab Saudi. (huseofsaud.com)

Berpadu buat kudeta putera mahkota

Pangeran Ahmad bin Abdul Aziz pulang dengan misi menggulingkan Pangeran Muhammad bin Salman. Dia mendapat jaminan keamanan dari Amerika dan Inggris.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Fulus Kabah goyang Mullah

Pada 2012, Amerika menghapus MEK dari daftar organisasi teroris lantaran ingin menggunakan kelompok ini untuk membikin Iran tidak stabil.

16 Januari 2019
Harap Rahaf
07 Januari 2019

TERSOHOR