kisah

Petaka setamat Qaddafi

Libya di ambang perang saudara setelah pecah pertempuran antar milisi.

20 Maret 2015 08:29

Air mata langsung jatuh ke pipi Khadijah saat pesawat berbaling-baling dengan kapasitas 17 tempat duduk dia tumpangi segera menjejakkan rodanya di Ibu Kota Tripoli. Dia tadinya berharap Libya bakal lebih baik selepas rezim Kolonel Muammar al-Qaddafi tumbang. Dia pulang ke tanah airnya buat menghadiri penguburan pamannya terbunuh.

"Mestinya tidak seperti ini," kata Khadijah. "Kami telah kehilangan martabat kami. Kami telah memerangi Qaddafi agar kami bisa bebas berbicara. Sekarang keadaannya sama saja seperti sebelumnya."

Banyak warga Libya sependapat dengan dia. Sejak berakhirnya kekuasaan Qaddafi empat tahun lalu, Libya terbelah - dengan dua pemerintahan dan masing-masing pihak disokong milisi buat merebut kekuasaan. Demokrasi baru lahir telah digantikan oleh sistem penindasan dan menimbulkan ketakutan.

Milisi-milisi sudah menjadi pemain paling berkuasa di negara tanpa aturan hukum, militer, atau pasukan polisi itu. Siapa saja menentang mereka, politisi atau warga sipil, dibungkam biasanya dengan todongan senjata.

Di Libya baru, persis Libya lama, berbicara menolak penguasa bakal membuat Anda terancam atau dibunuh. Memang banyak yang mengakui Libya pernah mengalami masa emas, yakni beberapa bulan setelah berakhirnya empat dasawarsa tirani Qaddafi. Tapi petaka akhirnya datang setelah Libya terpecah dalam banyak faksi dan mulai tidak terkendali.

Padahal baru tiga tahun lalu rakyat Libya bergegas ke bilik suara untuk menentukan pemerintahan pertama terpilih lewat cara demokratis. Surat-surat kabar menjamur. Misrata, kota terbesar kedua di Libya, bahkan sampai memiliki 23 koran. Dalam ruangan hotel-hotel berbintang lima, para tokoh berdebat untuk menyusun konstitusi. Tapi ketika sampai tahap urusan memerintah segalanya berjalan keliru.

Butuh delapan bulan buat menggulingkan kediktatoran Qaddafi, namun dalam waktu sebentar sudah jelas kelihatan mental para penguasa Libya sekarang perlu diubah. Tanpa basis sosial buat berdemokrasi, pemerintahan baru bergaya seperti rezim lama. Korupsi bahkan lebih buruk ketimbang zaman Qaddafi. Tiap politikus mengamankan posisi mereka lewat nepotisme dan patronase.

"Tiap kali ada perdana menteri baru, dia memecat staf di semua departemen dan lembaga digantikan orang-orangnya," ujar Muhsin Derregia, mantan kepala Otoritas Investasi Libya (LIA), badan mengurus dana kekayaan negara bernilai US$ 65 miliar atau Rp 857,3 triliun. "Dalam empat tahun LIA mempunyai enam kepala. Belum sempat mempelajari tugas harus dilakukan, dia sudah dipindah."

Negara kaya minyak ini menuju kegagalan. Dalam kondisi pemerintahan tidak berwibawa dan sedikitnya kesempatan kerja, kelompok-kelompok dibikin buat menumbangkan Qaddafi menolak dibubarkan. Mereka malah saling menuding sebagai pendukung rahasia Qaddafi. Baku tembak kerap pecah dalam perebutan fasilitas-fasilitas kunci di Libya.

Ratusan orang tewas akibat pertempuran antara milisi asal Misrata dan faksi dari Zintan, kota kecil di pelosok gunung. Perang antara dua milisi ini buat memperebutkan bandar udara internasional di Tripoli berakhir dengan hancurnya ruang tunggu penumpang serta serakan bangkai pesawat di landasan.

Tiap orang berusaha memelihara kekayaan dan kekuasaan mereka di masa Libya baru serta membuktikan mereka paling berjasa menumbangkan kekuasaan Qaddafi. Jumlah anggota milisi membludak dari sekitar 40 ribu orang pada 2011 kini 160 ribu personel. Di tengah-tengah mereka lantas muncul Ansar Syariah, kelompok ekstremis Islam telah berbaiat kepada ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah). Ansar dituduh membunuh Duta Besar Amerika Serikat untuk Libya Chris Stevens.

"Tahun lalu saya diancam dibunuh setelah menulis di Facebook kritikan terhadap pertempuran antar milisi," tutur seorang pemuda Misrata menolak disebut identitasnya dengan alasan keamanan. "Saya benci atas apa yang sedang terjadi di sini. Kenapa mereka melakukan ini? Bagaimana mereka bisa mengangkat senjata terhadap orang-orang ikut berjuang semasa revolusi?"

Benghazi dijuluki ibu kota revolusi di mana protes anti-Qaddafi pertama kali terjadi di sana empat tahun lalu, sekarang menjadi tempat suram dan berbahaya. Diperkirakan 200 orang terbunuh di Benghazi. Korbannya termasuk kaum liberal dan orang-orang menyokong gagasan federasi, yakni memisahkan wilayah timur dan barat Libya.

Libya Dawn, koalisi milisi mencakup pula faksi islamis, Agustus tahun lalu menguasai Tripoli, memaksa anggota parlemen mengungsi ke Tobruk. Di sana mereka bersekutu dengan Khalifah Haftar, mantan jenderal angkatan darat di era Qaddafi dan pernah bekerja untuk badan intelijen Amerika Serikat CIA.

Hari demi hari situasi di Tripoli berangsur normal. Toko-toko buka, termasuk gerai pakaian ternama seperti Mango serta Mark and Spencer. Lalu lintas macet. Gadis-gadis kosmopolitan asyik mengobrol di kedai-kedai kopi bertebaran di ibu kota. Kaum lelaki berpakaian bebas mengendarai mobil polisi dan tentara dalam truk-truk bak terbuka dengan seragam tidak pas menegakkan hukum.

"Kami di sini untuk menjaga keamanan," kata Kapten Murad, 40 tahun, dari Brigade Nawasi, salah satu milisi terbesar dalam koalisi Libya Dawn di Tripoli. "Orang-orang kami berpatroli. Kami menghentikan kejahatan."

Kenyataannya tidak semua merasa nyaman dengan kehadiran Libya Dawn di Tripoli. Apalagi setelah pecah konflik bersenjata antara kubu Haftar melawan Libya Dawn. "Jika Anda mengkritik Libya Dawn, mereka menuduh Anda di pihak Haftar. Begitu pula sebaliknya," ujar Murad, nama samaran, pegiat hak sipil Libya saat ditemui di sebuah kafe di Tripoli.

Kekacauan dan ketakutan membikin ribuan orang lari dari Libya. Dengan pandangan gugup ke arah jendela pesawat membawa dia kembali ke kampung halamannya, Khadijah adalah salah satu dari pengungsi itu. Dia meninggalkan Libya dua tahun lalu.

Banyak kolega Murad juga sudah pergi dari Libya, negara kini di ambang perang saudara. "Ini soal tiap orang berusaha mendapat fulus sebanyak mereka bisa," tuturnya. "Pilihannya sekarang junta militer seperti sebelumnya atau kacau balau."

Foto Aisyah bersama suaminya di pelaminan, pemberian seorang pemberontak kepada saya saat berkunjung ke rumah Aisyah di Tripoli, Libya, 2011. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Curahan hati Aisyah Qaddafi

"Kami tidak boleh menelepon, hanya bisa menggunakan perpustakaan elektronik untuk mengajari kedua anak saya. Itulah alasannya saya hanya bisa menulis pesan kepada kamu," kata Aisyah kepada Albalad.co.

Ulama Syiah berpengaruh asal Irak Muqtada Sadr bertemu Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman di Kota Jeddah, Arab Saudi, 30 Juli 2017. (Supplied)

Sapa Muqtada

Ali Akbar Velayati, penasihat utama Pemimpin Agung Iran Ali Khamenei, Februari lalu bilang Teheran akan mencegah Sadr dan aliansi politiknya memerintah Irak.

Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz dan Presiden Joko Widodo berdiri di teras Istana Bogor, di sela pertemuan bilateral dilakoni kedua pemimpin itu pada 1 Maret 2017. (Dokumentasi Albalad.co)

Menerka dalang upaya kudeta di Arab Saudi

"Kalau cuma pesawat nirawak mainan kenapa baku tembaknya berlangsung dua sampai tiga jam? Mengapa menggunakan senapan mesin?"

UNHCR Eminent Advocate Dato Tahir menggendong Hanan, 4 tahun, anak pengungsi Suriah tinggal di sebuah kamp di Lembah Bekaa, Libanon, 11 April 2018. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Kenangan pahit di negara Syam

Perang memang cuma menyisakan kenangan pahit bagi pelaku dan korban.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Sapa Muqtada

Ali Akbar Velayati, penasihat utama Pemimpin Agung Iran Ali Khamenei, Februari lalu bilang Teheran akan mencegah Sadr dan aliansi politiknya memerintah Irak.

21 Mei 2018

TERSOHOR