kisah

Penyelundup di batas Suriah

"Di saat itu tidak seorang pun mau ke sana karena ISIS ada di sana."

23 Maret 2015 18:05

Di sebuah jalan desa nan gelap tidak jauh dari perbatasan Suriah, mknibus itu akhirnya menyerah. "Mobilnya mogok," kata sang sopir seraya mengangkat bahu. "Saya akan panggilkan seseorang untuk membawa kalian menyeberang ke Suriah."

Temannya sopir tiba seperempat jam kemudian dengan mobil kecil. Dia mengintip ke dalam minibus lalu bertanya, "Apakah kalian semua akan ke kawat?"

Kawat adalah sebutan bagi daerah perbatasan antara Turki dan Suriah sepanjang 805  kilometer. Turki mendapat tekanan internasional untuk menutup batas itu lantaran dipakai buat menyelundupkan para jihadis dan dana bagi kelompok ISIS (Negara islam Irak dan Suriah).

"Mudah untuk menyeberang di sepanjang perbatasan dalam wilayah ini," ujar sopir minibus lain baru menurunkan penumpang dari Gaziantep, kota perbatasan di Turki. "Tapi Anda perlu mengambil jalan pinggir, itu lebih aman."

Di jalur-jalur kecil berlumpur, beberapa minibus dan mobil tengah menunggu para penumpang ingin pergi ke titik-titik tertentu di perbatasan, namun semua jalan masuk dikuasai oleh ISIS. Sedikit demi sedikit penumpang minibus itu turun dan setibanya di kota terdekat dengan pagar batas hanya dua orang tersisa.

Di terminal bus itu dua remaja lelaki mendekat dan segera menawarkan bantuan buat menyeberang ke Suriah. "Cuma sepuluh lira Turki," tawar Ahmad, dengan celana dan kaki telanjang berlumpur.

Para penyelundup Suriah, seperti Ali dan rekannya, Ahmad, membantu mengantar barang dan orang menyeberang ke dalam wilayah kekuasaan ISIS. Mereka rutin menyaksikan horor tapi mereka tidak peduli.

Ahmad menceritakan pertengahan bulan ini dia menyaksikan pemenggalan kepala tiga anggota FSA (Tentara Pembebasan Suriah). Seorang pria baru saja menyeberang kembali ke Turki mengiyakan.

"Kami melihat seorang lelaki disalib dalam perjalanan menuju perbatasan. Anda tidak tahu apa yang kami saksikan di Suriah saban hari sekarang," tuturnya. "Kehidupan kami seperti film horor."

Ali mengaku sudah tidak terhitung lagi telah membantu membawakan perbekalan orang-orang asing masuk ke wilayah ISIS. Dia ingat beberapa pria Prancis membawa semua anggota keluarga mereka masuk ke Suriah. "Saya pernah membawa setas penuh dolar. Lelaki saya tolong ini ingin memberikan fulus itu kepada ISIS."

Menurut para penyelundup ini, bisnis tumbuh subur di perbatasan Turki-Suriah. "Kami membawa masuk senjata dan amunisi," kata Ali. "Sopir-sopir minibus mendapat 500 lira per tas."

Tapi mereka bukan pendukung ISIS. "Saya tidak suka mereka tapi apa yang bisa saya lakukan," tanya Ahmad seraya menyeringai. "Ini pekerjaan dan saya butuh uang."

Keluarganya tinggal di Suriah dan dia satu-satunya yang bekerja di Turki. ISIS pernah menangkap dia dua kali dan hampir dieksekusi. "Paman saya dua kali menolong dan sekarang saya membawa surat resmi dari mereka," ujarnya.

Sudah lama orang-orang asing menyeberang ke Suriah tanpa kesulitan karena pihak berwenang di Turki menutup mata. Namun akhir-akhir ini penjagaan di perbatasan diperketat. Meski begitu jalur kehidupan bagi ISIS ini tetap mulus berfungsi.

"Di waktu tertentu saban malam mereka melakukan bisnis mereka di sini," tutur seorang lelaki Turki. "Di saat itu tidak seorang pun mau ke sana karena ISIS ada di sana."

Ali menganggukkan kepalanya. "Semua berlangsung di jam sama tiap malam."

Sebuah keluarga terlihat lelah dan bersimbah lumpur menaiki bus kecil akan membawa mereka kembali ke Gaziantep. Dalam perjalanan pulang ini para penunmpang saling bertukar cerita lucu dan taktik agar aman keluar masuk perbatasan.

Biasanya jok-jok minibus itu dilapisi plastik. "Ketika mereka merayap di bawah kawat pagar pembatas, mereka semua berlumpur," kata seorang sopir. "Saya tidak mau harus mencuci jok mobil saban hari."

Seorang perempuan renta dari Manbij dengan tangan merangkul cucunya dengan pandangan iri menyaksikan sekelompok perempuan Suriah tengah berpiknik di pinggiran Gaziantep. "Saya merindukan itu," ujarnya. "Saya kangen duduk di luar rumah bareng tetangga-tetangga saya."

Tapi sejak ISIS menguasai kotanya, perempuan dilarang duduk di luar rumah seperti itu. "Kaum hawa tidak boleh menunjukkan diri mereka di luar,"  ucapnya seraya menutup wajahnya dengan kerudung, menirukan cadar wajib dipakai perempuan di wilayah kekuasaan ISIS.

Ketika minibus itu berbelok masuk ke dalam terminal bus Gaziantep, sekelompok orang membawa tas plastik dan koper usang sudah menunggu. Ahmad langsung melambaikan tangan ke arah mereka.

"Ke kawat?" tanya sopir minibus. Orang-orang Suriah ini menganggukkan kepala mereka. "Ya, ke kawat."

Evakuasi korban tewas dan luka akibat serangan teror di klub malam Reina, Istanbul, Turki, 1 Januari 2017. (Twitter/@emergensa24)

Rekrutmen Nusrah dan ISIS di Turki

ISIS merekrut orang-orang kurang secara ideologi dan jaringan, sedangkan calon jihadis Jabhat Nusrah mesti lulus indoktrinasi dan direkomendasikan anggota lainnya.

Pemimpin gereja ortodhoks Siriak di Bartella, Irak, berpose bareng pasukan elite Irak membebaskan kota itu dari caplokan ISIS. (ADFA)

Dentang lonceng gereja di tepi Mosul

"Ketika jihadis ISIS itu mulai menurunkan dan menghancurkan salib serta injil, kami sadar kami sudah tidak aman lagi," ujar Nagham.

Seorang jihadis ISIS merobohkan salib di sebuah gereja di Kota Mosul, Irak, pada 2014. (The Assyrian International News Agency)

Nestapa pemuja Yesus

Di tarikan napas terakhir, gadis Kristen berusia 12 tahun meminta ibunya memaafkan jihadis ISIS pembakar rumah mereka.

Abu Abdullah, perancang serangan bunuh diri ISIS di Ibu Kota Baghdad, Irak. (Sam Tarling untuk the Guardian)

Perancang ledakan Baghdad

"Yang saya lakukan ini jihad karena saya membunuh orang-orang Syiah," Abu Abdullah menegaskan. "Mereka itu kafir dan saya yakin itu."





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Lika-liku pembunuhan Jamal Khashoggi

"Kami mengetahui kapan Jamal (wartawan Saudi Jamal Khashoggi) dibunuh, di ruangan mana dia dibunuh, dan di mana mayatnya dibawa untuk dimutilasi,"

12 Oktober 2018
Nihil Jamal di Istanbul
05 Oktober 2018
Bungkam ulama guncang Al-Haram
26 September 2018

TERSOHOR