kisah

Batal ajal Yahiya

Bandar al-Yahiya bebas dari hukuman pancung setelah mendapat maaf dari Nura, putri korban.

25 Maret 2015 15:41

Pembunuhan hampir memisahkan kepala Bandar al-Yahiya dari badannya bermula dari utang lama dengan teman dekatnya, Mutlaq al-Humaidani

Yahiya sebenarnya sudah berusaha mencari fulus buat melunasi utangnya, namun tidak kunjung terkumpul. Hingga suatu hari dia mengundang Humaidani ke rumahnya dan menawarkan utang dibayar dengan sebuah senapan. Yahiya kelewat marah saat tawarannya ditolak. Dia menembak dada Humaidani hingga dia tewas seketika di ruang tamu, seperti dikisahkan oleh Falah al-Humaidani, abang korban.

Yahiya mengakui pembunuhan itu. Sesuai hukum berlaku di Arab Saudi, dia bakal menghadapi hukuman mati, yakni dipancung di tempat terbuka.

Namun eksekusi itu tidak pernah berlangsung.

Kelompok-kelompok hak asasi manusia kerap mengecam sistem hukum Saudi dianggap kurang transparan dan menerapkan hukuman mengerikan: pemenggalan kepala dan pemotongan anggota tubuh. Kritik kian menguat setelah muncul berita soal narablog liberal dipenjara lantaran mengkritik ulama, aktivis ditahan karena menyerukan reformasi, dan perempuan dikurung sebab mengemudikan mobil.

Hukuman pancung dan potong anggota tubuh diterapkan di Saudi sering dibandingkan dengan ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) juga memberlakukan sanksi serupa atas nama syariat Islam.

Yahiya selamat dari hukuman pancung lantaran upaya keras dilakoni sejumlah ulama dan keluarga kerajaan hingga akhirnya dia mendapatkan maaf seorang anak perempuan Humaidani.

"Hukuman-hukuman tertera dalam Al-Quran itu memelihara keamanan negara ini," kata Pangeran Faisal bin Misyaal bin Saud bin Abdul Aziz, Gubernur Provinsi Qassim, lokasi Yahiya membunuh. "Jika tidak ada balasan atau qisas akan muncul kekacauan total."

Dia menegaskan ada satu hal sering dilupakan banyak pengecam, yakni pemaafan juga masuk dalam sistem hukum Saudi.

Beberapa kejahatan memang jelas ancaman hukumannya, seperti pancung untuk pembunuhan, amputasi buat pencurian dalam jumlah amat besar, dan cambuk bagi seks sebelum menikah serta menenggak minuman beralkohol. Negeri Dua Kota Suci ini juga menerapkan sistem hukum modern untuk kasus penyelundupan narkotik, penggunaan senjata, kejahatan dunia maya, dan terorisme.

Tapi banyak pula kejahatan tidak jelas sanksinya, semacam perampasan mobil, perampokan, seks sesaat, gangguan, dan penipuan. Ini memberi para hakim - dilatih dengan hukum syariah - kekuasaan sangat besar untuk menentukan jenis kejahatan dan ancaman hukumannya.

Para pengacara Saudi mengeluhkan tidak jelasnya aturan hukum berakibat pada banyak putusan berbeda untuk kasus serupa.

Abdul Aziz al-Gassim, pengacara tinggal di Ibu Kota Riyadh, mengungkapkan dia pernah melihat kasus-kasus pemerkosaan pelakunya divonis penjara dua hingga 18 tahun. "Ada sebuah perbedaan besar," ujarnya.

Dalam yurisprudensi Saudi, zinah dan murtad hukumannya mati, namun dua jenis kasus ini amat jarang berlaku sanksi itu lantaran aturannya ketat. Dalam kasus perzinahan mesti ada empat saksi lelaki muslim betul-betul melihat kejadian itu dan ini amat sulit diperoleh.

Hukuman potong anggota tubuh atau amputasi juga jarang berlangsung karena memang tidak disukai. Menurut seorang mantan pengcara dan jaksa di Riyadh, tahun lalu hanya terjadi satu kali amputasi terhadap pencuri.

Seorang hakim di Riyadh mengatakan pernah terjadi kasus melibatkan empat maling. Mereka masuk ke dalam ruang tamu rumah korban dan mengambil perabotan, televisi, dan kulkas. Kejahatan ini sebenarnya layak dikenai vonis amputasi, tapi hakim membiarkan mereka mengakui perbuatan dan menghukum keempat pelaku dengan dua tahun penjara serta seratus kali cambukan. "Tujuannya untuk menegakkan hukum bukan untuk menakuti orang," tuturnya.

Tindakan Yahiya membunuh Humaidani pada 2002 mengagetkan penduduk Qassim. Di sana ikatan kesukuannya amat kuat dan mereka bangga akan tradisi konservatif.

Keduanya sering saling mengunjungi. Humaidani, perwira di Garda Nasional, telah menikah dan memiliki enam anak. Yahiya dan Humaidani sama-sama dari suku tersohor sehingga muncul kekhawatiran akan ada balas dendam bila hukum tidak adil ditegakkan. "Hukum berlaku syariat Islam," tegas Falah al-Humaidani. Artinya, Yahiya mesti dipancung di depan umum.

Pengadilan di semua tingkat memutuskan Yahiya bersalah dan vonisnya adalah hukuman mati. Dia bisa selamat jika ada keluarga korban memaafkan perbuatannya. Tapi vonis ini tidak bisa segera dilaksanakan karena semua anak mesti menyetujui dan putra bungsu korban waktu itu baru berumur tiga tahun. Sehingga Yahiya mesti menunggu dalam penjara sampai anak terakhir Humaidani berusia 15 tahun.

Selama mendekam di penjara Yahiya berubah menjadi alim dan bahkan menjadi pemimpin agama. Bukan sekadar dihormati, para ulama, termasuk ketua komite ulama Provinsi Qassim Syekh Rasyid asy-Syalasy, juga ikut berkampanye meminta permohonan maaf bagi Yahiya dari keluarga korban.

Syekh Rasyid membela penerapan hukum pancung di Saudi. Menurut dia, itu masih lebih baik ketimbang suntik mati atau kursi listrik karena membikin terpidana cepat dijemput ajal. Selain itu, hukuman pancung membikin orang takut berbuat jahat.

"Ketika Anda melihat pedang menebas leher seseorang, apakah Anda muak?" dia bertanya. "Ada orang ingin membunuh tapi saat dia melihat pembunuhan (hukuman pancung), mereka tidak jadi membunuh."

Menurut Syekh Rasyid, terpidana mati juga masih memiliki kesempatan hidup bila mendapat maaf dari keluarga korban dan mesti membayar uang pengganti darah kepada pemberi maaf. Karena itu dalam sejumlah kasus berakhir dengan drama menegangkan di lokasi pemancungan.

Arab Saudi telah memenggal 88 orang tahun lalu dan 35 lainnya dipancung di Amerika Serikat. Human Rights Watch mencatat 30 hukuman mati terkait kasus pembunuhan tapi tidak pernah ada lansiran data soal terpidana mati lolos dari hukuman pancung setelah dimaafkan.

Syekh Rasyid mengklaim berhasil menyelamatkan 13 terpidana mati dari 17 kasus dia tangani dalam beberapa tahun belakangan. Setengah dari mereka tidak harus membayar uang pengganti dan sebagian keluarga korban menerima ratusan ribu dolar. Bahkan ada yang memperoleh ganti US$ 1,3 juta

Kasus Yahiya mendapat sorotan lantaran kaum ulama ikut mengupayakan maaf dari keluarga Humaidani. Bahkan menurut Falah Humaidani, beberapa anggota keluarga kerajaan datang atau mengirim perwakilan ke pemimpin suku untuk menyampaikan cek kosong buat diisi sesuai kemauan keluarga.

Jawaban Falah tidak pernah berubah. "Jika masalahnya uang, lelaki itu (Yahiya) akan mati."

Dari sembilan anggota keluarga bisa memberi maaf, Syekh Rasyid melihat Nura, putri korban, adalah orang bersimpati terhadap Yahiya. Karena itu, dia mendekati Nura.

Suatu hari Syekh Rasyid menelepon kepala sekolah Nura. Dia ingin berbicara dengan gadis 17 tahun itu lewat telepon. Setelah dibujuk hati Nura luluh dan akhirnya bersedia meneken surat pemberian maaf bagi Yahiya. Anggota keluarganya lain tidak ada yang tahu.

Mereka benar-benar terkejut atas keputusan Nura tapi akhirnya menerima hal itu. "Jika mereka membunuh dia (Yahiya) apakah bakal menguntungkan ayah saya?" kata Nura seperti ditirukan Falah Humaidani. "Insya Allah akan ada balasan bagi ayah saya dan dia bakal masuk surga."

Meski sudah dapat kata maaf, Syekh Rasyid masih cemas keluarga korban akan balas dendam setelah yahiya keluar dari penjara. Sebab itu, komite ulama dia pimpin memberikan uang pengganti US$ 800 ribu kepada keluarga korban dan tambahan US$ 130 ribu buat Nura telah berbaik hati memberi maaf.

Nura kini mahasiswi di tahun kedua. Keluarganya melarang dia menerima wawancara seputar kasus pembunuhan ayahnya itu.

Yahiya - keluar dari penjara empat tahun lalu saat berusia 33 tahun - juga menolak berkomentar. Dia baru-baru ini menikah dan sudah meraih gelar sarjana hukum.

Di atas meja kopi dalam ruang tamu kediaman Syekh Rasyid terdapat hiasan pedang terbuat dari perak dan emas berisi ucapan terima kasih karena telah menyelamatkan leher pemuda bernama Bandar al-Yahiya.

Berkat usaha gigihnya, ajal batal menjemput Yahiya.

Wartawan pengkritik Arab Saudi Jamal Khashoggi. (Twitter)

Lika-liku pembunuhan Jamal Khashoggi

"Kami mengetahui kapan Jamal (wartawan Saudi Jamal Khashoggi) dibunuh, di ruangan mana dia dibunuh, dan di mana mayatnya dibawa untuk dimutilasi,"

Pangeran Sultan bin Turki (Hugh Miles)

Jejak gelap pengkritik penguasa negara Kabah

Sejak Pangeran Muhammad bin Salman menjadi putera mahkota pada 21 Juni lalu, Arab Saudi kian getol menangkapi para pembangkang, termasuk ulama.

Jamal Khashoggi, pengkritik pemerintah Arab Saudi. (Twitter)

Nihil Jamal di Istanbul

Arab Saudi membantah telah menahan Jamal Khashoggi.

Gadis-gadis Timur Tengah. (Twitter)

Mencari cinta di negara Kabah

Bagi muda-mudi di Arab Saudi, Snapchat menjadi patokan keseriusan dalam menjalin hubungan.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Lika-liku pembunuhan Jamal Khashoggi

"Kami mengetahui kapan Jamal (wartawan Saudi Jamal Khashoggi) dibunuh, di ruangan mana dia dibunuh, dan di mana mayatnya dibawa untuk dimutilasi,"

12 Oktober 2018
Nihil Jamal di Istanbul
05 Oktober 2018
Bungkam ulama guncang Al-Haram
26 September 2018

TERSOHOR