kisah

Ibu ideal asal Luxor

Sisa Abu Dauh menyamar menjadi lelaki selama 42 tahun agar bisa bekerja menyemir sepatu demi menghidupi putri tunggalnya.

27 Maret 2015 07:06

Dia telah bekerja lebih dari empat dasawarsa di tengah para penyemir sepatu di Kota Luxor, Mesir. Dia duduk bareng kaum lelaki di kedai-kedai kopi, salat bersama mereka di masjid, dan berpakaian persis mereka: bercelana panjang dan berjubah panjang dikenal dengan nama galabiya, serta berturban.

Banyak orang meyakini Sisa Abu Dauh itu pria hingga beberapa pekan lalu dia membongkar rahasia telah bertahan 42 tahun.

Barangkali sambutan dia terima mengejutkan di mana sebagian besar masyarakat Mesir masih berpikiran kolot soal peran berdasarkan jenis kelamin. Pengumuman Abu Dauh - dia sebenarnya perempuan - itu disambut bukan dengan kecaman tapi rasa ingin tahu dan reaksi positif dari pelbagai media dan pejabat setempat.

Presiden Mesir Abdil Fattah as-Sisi Ahad lalu menyerahkan sendiri penghargaan kepada Abu Dauh, 65 tahun, sebagai ibu ideal dan luar biasa. Pemerintah Kota Luxor menghadiahi dia sebuah kios untuk berjualan.

Meski sekarang seantero Luxor sudah mengenal dia sebagai perempuan, Abu Dauh tidak ingin berhenti berdandan sebagai pria. "Saya telah memutuskan untuk mati dengan pakaian seperti ini. Saya sudah terbiasa," katanya.

"Saya bersyukur kepada Allah," ujar Abu Dauh. Mengenakan galabiya abu-abu gelap dengan kerudung hijau disampirkan di bahu, dia duduk sambil merokok di rumah kerabatnya di Aqaltah, desa pertanian mungil di tepi barat Sungai Nil, dekat Luxor.

Untuk mengungkapkan betapa nyamannya hidup menyamar menjadi lelaki, Abu Dauh mencium ujung jarinya seperti koki puas atas sup masakannya. "Dia bahkan berpakaian seperti ini di rumah," ucap Huda.

Dia mengawali hidupnya melakoni pekerjaan kasar dan menyamar sebagai laki-laki pada 1970-an setelah menjanda di usia 21 tahun. Suaminya meninggal saat dia tengah hamil anak pertama enam bulan.

"Abang-abang saya ingin saya menikah lagi," ujar Abu Dauh. "Mereka sering membawakan calon suami buat saya."

Abu Dauh menolak semua lelaki ingin melamar dia, tapi dia bingung mencari pekerjaan karena tidak pernah bersekolah. Abu Dauh memilih jalan lain terbilang nekat untuk bekerja demi menghidupi Huda. Dia memutuskan menyamar menjadi laki-laki.

Dia lalu mencukur rambutnya hingga kepalanya pelontos. Sejak itu dia mulai berpakaian seperti pria: bergalabiya, bercelana panjang, dan berturban.

Abu Dauh mengakui awalnya sulit menjadi pria. "Namun saya akan melakukan apa saja untuk putri saya. Itu satu-satunya cara untuk mencari fulus," tuturnya. "Apa lagi bisa saya lakukan? Saya tidak dapat membaca atau menulis, keluarga saya tidak menyekolahkan saya, jadi cuma ini caranya."

Dia mengawali profesinya sebagai buruh bangunan, mengangkat bata dan semen. Dia senang bisa mencari uang meski harus berpura-pura menjadi lelaki. "Saya bekerja di Aswan, memakai celana panjang dan galabiya. Jika tidak berpakaian seperti itu, tidak akan ada orang mau mempekerjakan saya," katanya.

Tahun-tahun awal penyamarannya berjalan sukar. Abu Dauh sering dilecehkan secara lisan atau fisik oleh orang-orang mengetahui dia sebenarnya wanita. Karena itu dia sering membekali diri dengan sebuah tongkat kayu.

Selama tujuh tahun pertama dia menjadi buruh bangunan dan melakoni pekerjaan kasar lainnya. Penghasilannya kurang dari sedolar per hari. Kebanyakan rekan kerjanya tidak tahu Abu Dauh itu sejatinya perempuan. Karena itu, mereka tidak segan menawarkan rokok kepada dirinya. Hingga akhirnya dia dipanggil dengan sebutan Abu Huda.

Menurut hasil penelitian Forum Ekonomi Dunia, ketidakadilan antara kaum lelaki dan perempuan dalam dunia kerja di Mesir termasuk terburuk di dunia. Negeri Nil ini menempati peringkat ke-129 dari 142 negara. Hanya 26 persen perempuan di Mesir bekerja, sedangkan kaum prianya berjumlah 76 persen.

Seiring berjalannya waktu, Abu Dauh beralih profesi menjadi penyemir sepatu di jalan-jalan Kota Luxor hingga saat ini. Saban hari dia bisa membawa pulang duit 15-20 pound Mesir. Hanya keluarga dan tetangga desanya saja tahu lelaki penyemir sepatu bergalabiya dan berturban itu sebenarnya perempuan.

Bahkan dia kini menjadi tulang punggung bagi Huda telah berkeluarga. Sebab mantunya itu sakit keras sehingga tidak bisa bekerja.

Sabtu pekan lalu adalah Hari Ibu Sedunia. Untuk merayakan hari istimwa ini, Huda membelikan ibunya beberapa pakaian lengan pendek dan satu galabiya baru.

"Dia bukan hanya ibu saya," kata Huda seraya tersenyum. "Dia adalah ibu, ayah, dan segalanya dalam hidup saya."

Sinagoge Beith Shalom di Jalan Kayoon 4-6, Surabaya, Jawa Timur, pada 2007. (Jono David, HaChayim Ha Yehudim Jewih Photo Library)

Bertemu pemuka Yahudi

"Sesudah itu, semua orang Barat ditawan di dalam kamp, termasuk seluruh keluarga Mussry, karena berkewarganegaraan Belanda," ujarnya.

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Menakar kestabilan Arab Saudi

Para pembangkang Saudi makin berani tampil terbuka setelah Khashoggi dihabisi

Foto raksasa mendiang Imam Khomeini tergantung di tembok sebuah bangunan dekat rumahnya di kawasan elite Jamaran di utara Ibu Kota Teheran, Iran, 31 Mei 2016. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Fulus Kabah goyang Mullah

Pada 2012, Amerika menghapus MEK dari daftar organisasi teroris lantaran ingin menggunakan kelompok ini untuk membikin Iran tidak stabil.

Rahaf Muhamnad al-Qunun, 18 tahun, gadis asal Arab Saudi kabur dari keluarganya dan ingin meminta suaka ke Australia. (Twitter)

Harap Rahaf

"Hidup di Arab Saudi seperti tinggal dalam penjara. Saya tidak bisa membikin keputusan sendiri," ujar Rahaf. "Bahkan soal rambut pun saya tidak boleh memutuskan sendiri."





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Bertemu pemuka Yahudi

"Sesudah itu, semua orang Barat ditawan di dalam kamp, termasuk seluruh keluarga Mussry, karena berkewarganegaraan Belanda," ujarnya.

04 Maret 2019
Fulus Kabah goyang Mullah
16 Januari 2019
Harap Rahaf
07 Januari 2019

TERSOHOR