kisah

Atmosfer Yahudi di White Hart Lane

Penggemar Tottenham dan Ajax memakai slogan Yahudi untuk memompa semangat tim kesayangan mereka.

30 Maret 2015 10:03

Beginilah atmosfer saban Tottenham Hotspur melakoni laga kandang di Stadion White Hart Lane. Bendera Bintang Daud berukuran raksasa terbentang dan slogan 'Yid Army' bergemuruh.

Bagi sebagian pihak, yel Yid Army itu merupakan pelecehan bagi kaum Yahudi dan bagian dari tindakan anti-Semit. Namun para penggemar Tottenham menyanggah. Mereka menyebut yel itu sebagai suntikan semangat dan slogan membanggakan.

FA (Asosiasi Sepak Bola Inggris) pada September tahun 2013 memperingatkan fans Tottenham agar tidak lagi menggunakan slogan Yid Army. Mereka bisa terancam perkara pidana atau dilarang masuk ke dalam stadion. Tentu saja tradisi sebuah klub tidak dapat dicegah. Apalagi para penggemar Tottenham tidak percaya slogan Yid Army itu melecehkan kaum Yahudi. "Kami menyanyi dengan bangga sebagai sebuah tanda identitas kami," kata penggemar bernama James Mariner, sudah satu dasawarsa membeli tiket tahunan.

Orang boleh saja menganggap slogan itu sebagai hinaan bagi orang Yahudi. Tapi Mariner menilai sebaliknya. "Kami tidak ingin menghina siapapun."

Klub asal London Utara, Inggris, ini begitu tersohor di kalangan imigran Yahudi. Mereka tiba di sana akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 serta bermukim di kawasan East End. "Spurs kemudian lebih glamor ketimbang West Ham United atau Arsenal," ujar Anthony Clavane, wartawan Daily Mirror berdarah Yahudi, Agustus tahun lalu menerbitkan sebuah buku soal bagaimana orang-orang Yahudi mempengaruhi sejarah sepak bola Inggris.

Permukiman warga Yahudi di London Utara bukan hanya di East End. Orang-orang Yahudi juga banyak tinggal di distrik Barnet, Hackney, dan Harrow.

Fenomena serupa juga terdapat di kalangan fans Ajax Amsterdam, klub dari Belanda. Mereka menyebut Ajax sebagai Super Yahudi. Mereka juga menyanyikan lirik berbunyi, "Siapa saja tidak melompat bukan seorang Yahudi." Beberapa penggemar bahkan memiliki rajah bergambar Bintang Daud.

Citra Ajax sebagai klub Yahudi muncul lantaran Amsterdam terkenal dengan sebutan 'Yerusalemnya Barat' sebelum Perang Dunia Kedua. Sekitar 80 ribu orang Yahudi menetap di sana dan banyak mengidolakan Ajax. Stadion De Meer dipakai sebagai markas klub hingga 1990-an dulunya basis permukiman orang Yahudi di Amsterdam.

Sehabis Perang Dunia Kedua Ajax pernah dipimpin sejumlah pemuka Yahudi, termasuk Jaap van Prag, putranya, Michael, dan Uri Coronel. Ketiganya menjabat presiden klub. Ajax pada 1960-an dan awal 1970-an juga dihuni sejumlah pemain berdarah Yahudi, seperti Bennie Muller, Sjaak Swaart, dan Salo Muller.

Selama dan setelah 1970-an Ajax kerap menjadi sasaran serangan anti-Yahudi. Hal itu dilawan oleh kelompok penggemar fanatik Ajax bernama F Side. Grup ini masih aktif meski mereka tidak tertarik dengan Israel atau Yudaisme.

"Sekitar 90 persen fans Ajax bahkan tidak tahu di mana letak Israel," tutur Hans Knoop, jurnalis Belanda keturunan Yahudi. "Ketika mereka berteriak 'Yahudi, Yahudi!' atau 'Super Yahudi' itu buat menyemangati tim bukan untuk tujuan lain."

Kadang penggemar tim lawan membalas dengan slogan ledekan. "Hamas! Hamas! Yahudi dikirim ke kamp gas," begitu teriakan dari fans Feyenoord Rotterdam saban kali kesebelasan mereka bertanding menghadapi Ajax.

Lex Immers, pemain dari klub ADO Den Haag, empat tahun lalu mendapat hukuman larangan bermain di lima laga karena meledek penggemar Ajax berhasil mereka kalahkan. "Kami akan memburu Yahudi!"

Prasasti soal Kerajaan Himyar di Bir Hima, Arab Saudi. (You Tube)

Kerajaan Yahudi di tanah suci

Arab Saudi dulunya masuk wilayah Himyar, kerajaan Yahudi.

Mariam Halabi di sebuah klinik di Kota Istanbul, Turki, bersama Moti Kahana, pengusaha membantu dia sekeluarga keluar dari Aleppo, Suriah. (Moti Kahana  buat Albalad.co)

Yahudi buncit dari Aleppo

"Saya tidak hanya menolong orang Yahudi. Saya sudah menyumbang US$ 100 ribu hingga US$ 2 juta buat rakyat Suriah," kata Moti Kahana.

Karl Marx, pencipta paham komunis, juga orang Yahudi. (Wikimedia)

Seencer otak Yahudi

Sejak abad pertama, seluruh anak lelaki Yahudi wajib disekolahkan paling lambat umur enam tahun.

Perempuan Haredim di Yerusalem. (Al-Arabiya)

Cinta gadis Yahudi saleha

Orang tua sang gadis menolak Moshe karena dia belajar di sekolah umum dan tidak mengenakan yarmulke.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Lika-liku pembunuhan Jamal Khashoggi

"Kami mengetahui kapan Jamal (wartawan Saudi Jamal Khashoggi) dibunuh, di ruangan mana dia dibunuh, dan di mana mayatnya dibawa untuk dimutilasi,"

12 Oktober 2018
Nihil Jamal di Istanbul
05 Oktober 2018
Bungkam ulama guncang Al-Haram
26 September 2018

TERSOHOR