kisah

Berharap Yaman tidak menjadi Suriah

"(Perang) ini bakal berlangsung lama. Saya harap kami tidak akan menjadi seperti Suriah," tutur Zwadi.

01 April 2015 07:06

Yasmin, perempuan di awal 20-an tahun dan tengah hamil anak pertama tujuh hulan, meringkuk di lantai dapur rumahnya di Distrik Assir, Ibu Kota Sanaa, Yaman, di tengah suara gempuran udara kian keras akhir pekan lalu.

Yasmin, menolak menyebut nama belakangnya, mengaku merasakan serangan-serangan itu seolah terjadi dekat dirinya. Dia berdiri ketika mendengar suara jendela bergetar serta piring dan gelas bergemirincing.

"Tas-tas saya sudah disiapkan dan saya siap pergi," kata Yasmin kepada stasiun televisi Al-Jazeera. Dia berharap kembali ke desa kelahirannya. Tampak ringkih sekaligus letih karena tidak tidur tiga malam, Yasmin bilang bisa merasakan bayi dalam rahimnya bergerak lebih sering dari biasanya. Ibunya berusaha menenangkan Yasmin dengan berseloroh sang bayi sedang lapar.

Yasmin, pindah ke Sanaa setelah menikah kurang dari setahun lalu, tidak pernah bermimpi perang bakal terjadi.

Setelah malam pertama serangan udara dilakukan koalisi Arab beranggotakan sepuluh negara dan dikomandoi Arab Saudi terhadap milisi Al-Hutiyun, anteran panjang mobil terjadi di pompa-pompa bensin di seantero Sanaa. Sudah banyak penduduk mengungsi. Karena serbuan udara kian intensif, makin banyak keluarga meninggalkan ibu kota menuju kampung halaman mereka.

Keluarga-keluarga di Sanaa mengambil beragam langkah pencegahan. "Takut rumah mereka terkena serangan udara Saudi atau roket antipesawat milik Al-Hutiyun, meski itu sebuah kecelakaan," ujar Yasmin.

Walid al-Zwadi, mahasiswa jurusan administrasi bisnis di Universitas Sanaa, mengungsi bersama 15 anggota keluarganya ke Desa Al-Haima. Dia membawa hanya sedikit barang pribadi, termasuk tabung gas dan mesin cuci. Serbuan pasukan koalisi Arab itu telah mengganggu pasokan kebutuhan saban hari, termasuk air, gas, dan listrik.

"Paling tidak di desa nanti kami bisa mendapatkan air bersih dan tepung gandum," tutur Zwadi. "Di sana kami juga dapat memperoleh kayu buat memasak roti."

Hingga Juli tahun lalu, lebih dari 334 ribu orang mengungsi di Yaman. Dengan berlangsungnya gempuran pasukan koalisi Arab, angka pengungsi kemungkinan besar bertambah.

Presiden Yaman Abdurabbu Mansyur Hadi memperkuat sokongannya atas bantuan militer Saudi dan menyalahkan Iran karena telah memicu pemberontakan. "Kalian sedang menghancurkan Yaman dengan sissat anak remaja," kata Hadi saat berpidato di Konferensi Tingkat Tinggi Liga Arab di Syarm asy-Syekh, Mesir.

Husain al-Bukhaiti, anggota partai Al-Hutiyun, mengutuk serangan itu sebagai tindakan agresif oleh Amerika Serikat, Arab Saudi, dan sekutunya terhadap rakyat Yaman. "Kurang dari sepuluh hari lalu, mereka baru mengucapkan selamat tinggal kepada anggota keluarga tercinta tewas oleh serangan bom di masjid saat salat Jumat. Mereka sekarang membunuh lebih banyak orang," ujarnya.

Meski berharap dapat kembali ke Sanaa, Zwadi mengungkapkan kecemasannya. "(Perang) ini bakal berlangsung lama. Saya harap kami tidak akan menjadi seperti Suriah," tuturnya.

Perang di Suriah - dimulai dari unjuk rasa besar-besaran menuntut Presiden Basyar al-Assad lengser - telah memasuki tahun kelima. Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa, lebih dari 200 ribu orang terbunuh dan sepertiga dari total penduduk Suriah terpaksa mengungsi.

Hasna Muhammad, ibu beranak empat berusia 12-20 tahun, pindah dari rumah sewaannya di kawasan Faj Attan, karena menjadi sasaran serangan udara Sabtu pekan lalu, ke desanya di Hayaz, utara Sanaa. Dia berencana tidak akan balik ke ibu kota dalam setahun ke depan karena dia mengira situasi tidak bakal aman dalam waktu dekat. "Saya tidak peduli dengan sekolah dan kuliah anak-anak saya ketika saya mengkhawatirkan keselamatan mereka. Saya akan menyekolahkan mereka di desa."

"Saya mau ke Arab Saudi dan menanyakan apakah mereka paham situasi bakal dihadapi anak-anak saya. Mereka mengalami trauma fisik dan mental," katanya. "Setidaknya di desa insya Allah serangan tidak akan mendekati kami."

Ali Khamenei (kiri) saat Perang Iran-Irak. (Wikipedia)

Saat Iran dan Israel masih bersahabat

Iran memasok minyak dan balasannya Israel menyuplai senjata.

Gadis-gadis Timur Tengah. (Twitter)

Mencari cinta di negara Kabah

Bagi muda-mudi di Arab Saudi, Snapchat menjadi patokan keseriusan dalam menjalin hubungan.

Pangeran Muhammad bin Salman diangkat menjadi wakil putera mahkota. (al-arabiya)

Kilap sang pangeran

"Dia telah menjadi orang tahu segalanya. Tapi dia baru 29 tahun, apa yang dia tahu?"

Abir, korban penganiayaan suaminya ketika tinggal di Kota Makkah, Arab Saudi. (alsharq.net.sa)

Rumah neraka di tanah suci

"Suami saya mengancam mempermalukan saya dan anak-anak saya jika saya tidak kembali ke Makkah."





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Saat Iran dan Israel masih bersahabat

Iran memasok minyak dan balasannya Israel menyuplai senjata.

01 Agustus 2018
Nestapa Syekha Latifah
25 Juli 2018
Sapa Muqtada
21 Mei 2018

TERSOHOR