kisah

Dag dig dug di Sanaa

Sebanyak 60 orang Yahudi masih tetap bertahan tinggal di Yaman.

03 April 2015 00:02

Aharon, ayah dari Yahya Zandani, Juni 2012 tewas ditusuk di sebuah pasar di Ibu Kota Sanaa, Yaman. Jenazahnya diterbangkan ke Israel untuk dikuburkan. Rupanya kematian sang ayah tidak membikin hati Yahya kecut. Dia memilih tetap tinggal di Sanaa bareng ibu dan tiga saudara kandungnya.

Bahkan setelah milisi Syiah Al-Hutiyun menguasai Sanaa Januari lalu, Zandani sekeluarga tidak berniat mengungsi. Padahal dia tahu pemberontak Al-Hutiyun memiliki sikap anti-Yahudi, namun sampai sekarang mereka merasa belum terancam. Meski begitu, lelaki 31 tahun ini meyakini kecemasan bersemayam dalam hatinya.

Keluarga Zandani termasuk dalam 60 orang Yahudi masih tinggal di Yaman, negara Arab termiskin kerap bergolak. Sebanyak 40 orang Yahudi hidup dalam kompleks dijaga ketat pasukan pemerintah di Sanaa. Presiden Ali Abdullah Saleh memindahkan mereka ke sana pada 2008 setelah komunitas Yahudi ini diusir oleh pasukan Al-Hutiyun dari Provinsi Saadah.

Para diplomat Arab dari Irak dan Mesir juga mengungsi ke kompleks itu setelah kedutaan besar mereka digempur.

Sedangkan 20 orang Yahudi lainnya menetap di Kota Raidah, utara Yaman. Mereka dikabarkan tengah bersitegang dengan kaum muslim lantaran masalah tanah dan rumah.

"Saya suka tinggal di sini (Sanaa). Sejak ayah saya dibunuh, saya berusaha memastikan orang Arab itu (pembunuh ayahnya) tidak bebas dari hukuman," kata Zandani saat dihubungi surat kabar the Times of Israel melalui telepon Selasa lalu. "Sekarang sejak tidak ada pemerintahan, tak ada yang bisa dikerjakan di sini."

Dia menjelaskan seperti warga Yaman lainnya, komunitas Yahudi di Sanaa juga merasakan kecemasan atas serangan udara dilancarkan pasukan koalisi Arab saban malam.

Gempuran atas komando Arab Saudi ini sudah dilakukan sejak pekan lalu untuk menghambat laju milisi Al-Hutiyun serta mengembalikan pemerintah sah dipimpin Presiden Abdurabbu Mansyur Hadi.

Slogan dari pemberontak Syiah muncul pada 2004 di Saddah ini adalah hancur Amerika, hancur Israel, terkutuk Yahudi, dan kejayaan Islam. Tapi Zandani memastikan belum ada orang Yahudi menjadi korban serangan Al-Hutiyun.

"Situasi sulit di Yaman karena perang dan segalanya, tapi tidak ada masalah bagi orang Yahudi," ujar Zandani. "Sasarannya adalah pemerintah."

Orang-orang Al-Hutiyun memang tidak berbicara dengan orang Yahudi, namun mereka tetap khawatir. "Kami tidak tahu siapa Al-Hutiyun siapa bukan, siapa baik, siapa jahat," tuturnya.

Dia mengungkapkan komunitas Yahudi di Sanaa kini hanya keluar kompleks untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Setelah itu mereka buru-buru pulang ke rumah.

Zandani masih ingat kehidupan mereka dulu di Saadah jauh lebih baik. "Kami mempunyai dua rumah dan sebuah generator. Tapi apa yang bisa kami lakukan, Al-Hutiyun merampas semuanya," kata Zandani. "Kami sekarang tidak memiliki apa-apa."

Di tengah keterbatasan, Zandani bersama istrinya akhir pekan ini merayakan Paskah. Mereka akan membuat roti matzah, tradisi kaum Yahudi selama dua ribu tahun sejak mereka pindah ke selatan Semenanjung Arab. "Kami menggiling sendiri tepung di rumah," ujarnya.

Eli Tamim, ipar dari Zandani tinggal di Rishon Lezion, Israel, sudah meminta Zandani sekeluarga meninggalkan Yaman. "Mereka tidak punya usaha di sana. Anak-anaknya tidak memiliki masa depan di Yaman. Saya benar-benar khawatir."

Jenazah wartawan Al-Jazeera Syirin Abu Aqilah sehabis didoakan pada 13 Mei 2022 di Gereja Katolik Yunani, Yerusalem Timur, Palestina. (Twitter/@ZaidAmali)

Mata, telinga, dan lisan Palestina untuk dunia

Prosesi pemakaman Syirin adalah ketiga terbesar sejak kematian Faisal al-Husaini pada 2001 dan Yasir Arafat di 2004.

Muhammad Saud, warga Arab Saudi tinggal di Ibu Kota Riyadh, merupakan salah satu pemuja Israel. (Twitter/@mosaud08)

Puja Zionis di negara Kabah

Muhammad Saud, warga Saudi tinggal di Riyadh, berteman baik dengan Netanyahu.

Peziarah Yahudi pada 21 April 2022 mengunjungi kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur, Palestina. (Shehab Agency)

Memahami status quo di Al-Aqsa

Sejak 1967, sudah ada fatwa haram bagi kaum Yahudi untuk mengunjungi Al-Aqsa. keputusan ini dkeluarkan oleh pemimpin rabbi AShkenazi dan Sephardi dengan dukungan 200 rabbi.

Ahmad as-Saadi, komandan Brigade Saraya al-Quds di Jenin, Tepi Barat, Palestina, berpose sebelum terbunuh dalam baku tembak dengan pasukan Israel pada 9 April 2022. (Albalad.co/Supplied)

Jenin, simbol perlawanan dan kehormatan

Jenin memang kerap berkobar. Bahkan pemerintah Palestina tidak kuasa mengendalikan.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Mata, telinga, dan lisan Palestina untuk dunia

Prosesi pemakaman Syirin adalah ketiga terbesar sejak kematian Faisal al-Husaini pada 2001 dan Yasir Arafat di 2004.

13 Mei 2022

TERSOHOR