kisah

Jaga nyawa ubah nama

"Jujur saja, sekarang menakutkan menjadi orang Sunni. Tidak aman, membingungkan, dan kasihan," kata Iyad Allawi.

15 April 2015 23:38

November tahun lalu Umar Mazin, 21 tahun, pindah dari kampung halamannya di Baquba ke Ibu Kota Baghdad, Irak, 96 kilometer ke arah selatan. Rumahnya terbakar dan ayahnya hilang.

Tapi dia tidak sekadar meninggalkan tempat tinggalnya. Dia memutuskan mengganti namanya.

Dia menempuh perjalanan penuh bahaya. Saban kali melewati pos pemeriksaan, anggota milisi Syiah atau tentara Irak mencermati baik-baik kartu identitasnya dan memandang penuh curiga ke arah Mazin. "Saya tidak mau menunjukkan kepada mereka (saya orang Sunni)," katanya. "Saya benar-benar ketakutan. Begitu banyak warga Sunni hilang di pos-pos pemeriksaan dan ayah saya salah satunya."

Hingga dia akhirnya tiba di Baghdad. Dia menghadapi dilema soal bagaimana bertahan di sebuah kota dan masyarakat di mana Sunni tadinya kelas berkuasa semasa rezim Saddam Husain kini kerap dipandang kaum Syiah tengah memerintah sebagai mata-mata pemberontak atau kelompok ekstremis seperti ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah).

Mazin lantas mengubah namanya menjadi Ammar supaya terdengar lebih netral dan dia tinggal di antara komunitas Syiah. Dia pergi ke kantor kependudukan Februari lalu dan mulai mendaftar. "Mereka amat membantu," ujarnya. "Mereka bilang proses registrasi itu akan memakan waktu sebulan."

Dilema dirasakan Mazin muncul akibat perang melawan ISIS sudah memasuki tahun kedua. Sunni kembali terpojok lantaran milisi dipimpin Abu Bakar al-Baghdadi itu mengklaim berjihad atas nama keyakinan Sunni. Mereka bukan sekadar membenci Syiah tapi menganggap pengikut Ali bin Abi Thalib ini sesat dan halal darahnya. Perang menghadapi ISIS sekali lagi menjadi ujian terhadap perdamaian semu Sunni-Syiah di Irak.

Ketika milisi Syiah berhasil mengusir ISIS dari Baquba, mereka juga memaksa penduduk Sunni kabur dari sana. Di Tikrit - kota kelahiran Saddam dihuni mayoritas penganut Sunni - milisi Syiah dan pasukan pemerintah dilaporkan menjarah dan merusak properti milik orang-orang Sunni dituduh berkomplot dengan ISIS.

Kawasan permukiman Syiah di Baghdad juga kerap jadi sasaran ledakan bom. Kemajemukan di Irak kembali dipertanyakan jika memang ISIS akhirnya benar-benar lumat di negeri Dua Sungai ini.

"Bagaimana Anda memandang soal ini tergantung apakah Anda Sunni atau Syiah," tutur Muhammad Abu Bakar, pelajar Sunni dari Distrik Yusufiyah di selatan Baghdad. "Masyarakat dan keluarga saya bilang negara ini sudah hancur. Tidak ada lagi kepercayaan. Negara ini sekarang teokrasi Syiah."

Para pejabat Irak sudah menyadari soal fenomena pergantian nama demi alasan keamanan, tapi mereka tidak mau mencampuri urusan pribadi itu. "Bulan lalu kami mulai menerima permintaan buat mengubah nama...seperti mengubah nama Syiah atau Sunni," kata Mayor Jenderal Tahsin Abdurrazak, kepala biro kependudukan di Baghdad. "Kebanyakan nama berganti dari Umar menjadi Ammar atau menghapus nama keluarga dari kartu identitas. Kami memiliki banyak kasus seperti itu tapi belum sampai pada tahap berlebihan."

Wakil Presiden Irak Urusan Rekonsiliasi Allawi pun mengakui kini berbahaya menjadi penganut Sunni di negaranya. "Jujur saja, sekarang menakutkan menjadi orang Sunni. Tidak aman, membingungkan, dan kasihan," ujarnya.

Syekh Mustafa, imam Masjid Abu Hanifah - pusat pengajaran Sunni di Irak berlokasi di kawasan Azamiyah, Baghdad - membenarkan diskriminasi terhadap penduduk dan pengungsi Sunni merupakan masalah sangat besar. Dia bilang pengungsi Sunni tidak boleh menetap di ibu kota tanpa penjamin.

"Penjamin itu harus bilang orang ini bukan anggota Dais (kepanjangan dari Daulah Islamiyah, nama lain dari ISIS)," tuturnya. "Bila perang sektarian meletup, Baghdad bakal menjadi kolam darah."

Mahasiswa bernama Jamal Abdul Nasir mengungkapkan di kampusnya ada sekelompok kecil orang selalu menyamakan Sunni dengan ISIS. Mereka tidak mau bergaul dengan orang-orang Sunni.

Tapi dia yakin orang Sunni dan Syiah masih dapat hidup berdampingan dengan damai. "Kakak saya sudah melamar gadis Syiah bulan lalu."

Menurut Jamal, persoalan sebenarnya di Irak adalah tiap orang berpikir sektarian dan semua politisi juga berpandangan sektarian. Dia menegaskan rekonsiliasi sebanarnya baru bisa dicapai dengan mengganti seluruh politisi korup, baik itu dari kalangan Syiah atau Sunni. "Sejak invasi kami bertemu muka-muka lama dengan posisi baru," katanya.

Salah satu ulama ternama Syiah di Irak Amar al-Hakim menyatakan rekonsiliasi saat ini jauh lebih penting. "Sekarang ini adalah kesempatan bersejarah untuk mewujudkan perdamaian sebenarnya," ujarnya. Dia pun mengetahui soal fenomena pergantian nama agar bisa hidup selamat.

Di utara Baghdad, Mazin sekarang bekerja di pusat komunitas dan masjid Syiah. Proses perubahan namanya sudah selesai. Dia kelihatannya bakal segera menganut Syiah. "Saya ingin menikmati kehidupan saya dan melindungi keluarga saya," tuturnya. "Orang-orang Syiah ini sungguh baik terhadap saya."

Demi menjaga nyawanya, Mazin kini berubah. Tadinya bernama depan Umar sekarang Ammar. Dulunya Sunni sebentar lagi Syiah.

Ulama Syiah berpengaruh asal Irak Muqtada Sadr bertemu Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman di Kota Jeddah, Arab Saudi, 30 Juli 2017. (Supplied)

Sapa Muqtada

Ali Akbar Velayati, penasihat utama Pemimpin Agung Iran Ali Khamenei, Februari lalu bilang Teheran akan mencegah Sadr dan aliansi politiknya memerintah Irak.

Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz dan Presiden Joko Widodo berdiri di teras Istana Bogor, di sela pertemuan bilateral dilakoni kedua pemimpin itu pada 1 Maret 2017. (Dokumentasi Albalad.co)

Menerka dalang upaya kudeta di Arab Saudi

"Kalau cuma pesawat nirawak mainan kenapa baku tembaknya berlangsung dua sampai tiga jam? Mengapa menggunakan senapan mesin?"

UNHCR Eminent Advocate Dato Tahir menggendong Hanan, 4 tahun, anak pengungsi Suriah tinggal di sebuah kamp di Lembah Bekaa, Libanon, 11 April 2018. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Kenangan pahit di negara Syam

Perang memang cuma menyisakan kenangan pahit bagi pelaku dan korban.

UNHCR Eminent Advocate Dato Tahir menggendong Hanan, 4 tahun, anak pengungsi Suriah tinggal di sebuah kamp di Lembah Bekaa, Libanon, 11 April 2018. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Bersua Mustafa di Lembah Bekaa

Di akhir lawatannya, seperti biasa Dato Tahir berdoa memohon kebaikan bagi Mustafa sekeluarga dan seluruh pengungsi Suriah.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Sapa Muqtada

Ali Akbar Velayati, penasihat utama Pemimpin Agung Iran Ali Khamenei, Februari lalu bilang Teheran akan mencegah Sadr dan aliansi politiknya memerintah Irak.

21 Mei 2018

TERSOHOR