kisah

Warisan Saddam kendalikan ISIS

"Mereka hanya ingin kekuasaan. Mereka biasa berkuasa dan ingin itu kembali, kata Abu Hamzah, bekas anggota ISIS membelot tahun lalu.

17 April 2015 12:03

Ketika Abu Hamzah, bekas pemberontak Suriah, setuju bergabung ke ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah), dia mengira bakal menjadi bagian dari khilafah islamiyah diimpikan milisi Islam radikal ini.

Ternyata dia menjadi anak buah seorang emir ISIS asal Irak. Dia menerima perintah dari orang-orang Irak tak dikenal dan biasa keluar masuk palagan di Suriah. Saat Abu Hamzah tidak sependapat dengan para komandan ISIS dalam sebuah rapat tahun lalu, dia ditahan atas perintah seorang lelaki Irak bertopeng. Kerjanya selama pertemuan itu cuma duduk diam dan mencatat.

Abu Hamzah tidak pernah tahu siapa orang-orang Irak itu. Mereka cuma diketahui lewat nama samaran atau bahkan tidak dikenali sama sekali. Semua pria itu bekas perwira militer semasa rezim Saddam Husain, termasuk lelaki bertopeng itu. Dia pernah bekerja di badan intelijen Irak dan kini bergabung dalam pasukan keamanan rahasia ISIS.

Meski kebanjiran jihadis asing, hampir semua pentolan ISIS merupakan bekas perwira militer Irak, termasuk anggota komite keamanan dan militer dalam milisi dipimpin Abu Bakar al-Baghdadi ini. Mereka tidak hanya membawa masuk kemampuan militer sekaligus sejumlah agenda Partai Baath pernah berkuasa di zaman Saddam ke dalam kelompok Islam radikal itu, tapi juga jaringan penyelundupan dibangun buat menghindari sanksi di era 1990-an dan kini memfasilitasi jaringan pasar gelap minyak dikuasai ISIS.

Menurut Abu Hamzah, emir-emir lokal di Suriah memiliki wakil orang Irak sejatinya sebagai pembuat keputusan. Abu Hamzah merupakan nama samaran demi alasan keamanan. Dia kabur dari ISIS ke Turki musim panas tahun lalu setelah sadar milisi itu sesat.

"Semua pembuat keputusan adalah orang-orang Irak dan kebanyakan dari mereka mantan perwira militer. Merekalah berkuasa, membuat taktik dan rencana pertempuran," kata Abu Hamzah. "Namun orang-orang Irak itu tidak berperang, mereka menempatkan para jihadis asing di garis depan."

Hasan Hasan, pengamat sekaligus penulis buku ISIS: Inside the Army of Terror, menjelaskan kekejaman rezim Baathis Saddam, pembubaran militer Irak selepas invasi Amerika Serikat pada 2003, pemberontakan dan keterasingan warga Sunni Irak oleh kaum Syiah kini berkuasa, semuanya saling berhubungan dengan ISIS.

"Banyak orang berpikir ISIS adalah kelompok teroris dan tidak berguna," ujar Hasan. "Memang benar mereka kelompok teroris tapi lebih dari itu. ISIS adalah pemberontakan dilancarkan orang-orang Irak dan berkaitan dengan Irak."

Undang-undang pelemahan Partai Baath diumumkan L. Paul Bremer pada 2003 menjadi salah satu faktor tumbuh suburnya perlawanan Irak. Sebanyak 400 ribu bekas anggota angkatan darat Irak dilarang bekerja di pemerintahan dan tidak mendapat uang pensiun namun dibolehkan memegang senjata.

Kolonel Joel Rayburn, peneliti senior di Universitas Pertahanan Nasional dan pernah menjadi penasihat para jenderal Irak, juga menggambarkan keterkaitan antara orang-orang Partai Baath dengan ISIS dalam bukunya Iraq After America.

Dia bilang militer Amerika selalu mengetahui para mantan pejabat Partai Baath telah bergabung dengan kelompok-kelompok pemberontak dan memberikan sokongan taktis terhadap AQI (Al-Qaidah di Irak), cikal bakal berdirinya ISIS. Tapi para pejabat Amerika tidak mengantisipasi orang-orang Partai Baath ini bukan sekadar pelengkap, namun anggota inti dari kelompok jihadis.

Sekilas dogma sekuler Baath bertentangan dengan paham religius ISIS. Tapi kekejaman dilakoni rezim Baathis mirip yang dilakukan ISIS saat ini. Seperti ISIS, Partai Baath juga menganggap dirinya sebagai gerakan transnasional, membentuk cabang di seantero Timur Tengah dan membikin kamp pelatihan bagi relawan asing dari negara-negara Arab.

Profesor Ahmad S. Hasyim dari Universitas Teknologi Nanyang, Singapura, menerangkan hingga invasi Amerika pada 2003, Saddam mulai menerapkan pendekatan lebih religius dalam memerintah.

Lewat peluncuran Kampanye Keyakinan pada 1994, penerapan syariat Islam diperkenalkan. Kalimat Allahu Akbar (Allah Maha Besar) dimasukkan ke dalam bendera Irak. Hukum potong tangan berlaku bagi pencuri.

Para bekas anggota Baath masih ingat teman-teman mereka tiba-tiba saja berhenti menenggak minuman beralkohol, mulai rajin salat, dan menjalankan paham Salafi beberapa tahun menjelang serbuan Amerika.

Dua tahun terakhir kepemimpinan Saddam, hukum pancung diberlakukan bagi pelacur dan pelaksanaannya oleh pasukan elite Fidayin. Menurut laporan sejumlah kelompok hak asasi manusia, waktu itu lebih dari 200 orang menemui ajal akibat dipenggal.

Hasan mengatakan kebiadaban ISIS mengingatkan orang terhadap apa yang pernah dilakukan beberapa anggota Fidayin. Saddam juga menyiarkan rekaman video berisi pasukan Fidayin sedang berlatih, berparade dengan berpakaian dan bertopeng serba hitam, memenggal kepala orang, dan bahkan memakan daging anjing.

Menurut Hisyam al-Hasyimi, pengamat Irak dan pernah menjadi penasihat pemerintah, sejumlah anggota Baath direkrut oleh pendiri AQI Abu Musab al-Zarqawi. Beberapa warga Irak lainnya menjadi radikal setelah mendekam di Penjara Buqqa di selatan Irak. Di sini ribuan orang Irak biasa berbaur dengan tahanan dari kelompok teroris.

Namun, kata Hasyim, Zarqawi tidak terlalu percaya kepada orang-orang Baath lantaran mereka berpandangan sekuler.

Baru di masa kepemimpin Baghdadi, ISIS benar-benar menyasar para mantan pejabat Baath buat direkrut. Tugas mereka untuk membangun kembali kekuatan ISIS lemah setelah 2010. Banyak dari orang-orang Baath menganggur atau sudah bergabung dengan kelompok militan lain tertarik bergabung ke ISIS. Beberapa di antara mereka pernah bertempur menghadapi Al-Qaidah setelah berubah haluan dan bergabung dengan gerakan Kebangkitan sokongan Amerika pada 2007.

Ketika pasukan Amerika ditarik pulang dan gerekan Kebangkitan ditelantarkan pemerintah Irak, ISIS menjadi satu-satunya pilihan bagi orang-orang merasa dikhianati dan ingin berganti keberpihakan, kata Brian Fishman, peneliti di the New America Foundation.

Makin banyak orang-orang Baath bergabung setelah Perdana Menteri Nuri al-Maliki melancarkan kampanye anti-Baath. Dia memecat banyak perwira militer bekas anggota Baath meski mereka sudah direhabilitasi oleh Amerika.

Salah satunya adalah Brigadir Jenderal Hasan Dulaimi, bekas perwira intelijen di angkatan darat Irak. Amerika merekrut dia kembali pada 2006 dan diangkat menjadi kepala kepolisian di Ramadi, ibu kota Provinsi Anbar.

Dalam hitungan bulan setelah Amerika memulangkan pasukannya dari Irak, Dulaimi bareng 124 perwira pernah bekerja untuk Amerika dipecat tanpa fulus pensiun. "Krisis lantaran ISIS tidak muncul begitu saja. Itu merupakan hasil akumulasi dari masalah diciptakan oleh Amerika dan pemerintah Irak," tutur Dulaimi.

Dulaimi lalu bercerita soal kasus menimpa seorang sahabatnya, mantan perwira intelijen di Baghdad. Dia dipecat pada 2003 dan susah payah buat bertahan hidup. Dia kini menjadi wali ISIS di Hit, kota kecil di Provinsi Anbar. "Saya terakhir melihat dia 2009. Dia mengeluh karena sangat miskin. Dia teman lama saya, jadi saya memberi dia uang," kata Dulaimi. "Jika seseorang memberi dia pekerjaan dan gaji, dia tidak bakal bergabung dengan ISIS."

Hasyim menegaskan banyaknya orang-orang Baath dalam struktur kepemimpinan ISIS membuat milisi ini mudah meraih kemenangan. Hingga 2013 Baghdadi dikelilingi para mantan perwira Irak bertanggung jawab atas perluasan wilayah kekuasaan di Suriah dan Irak.

Beberapa di antara mereka bahkan termasuk orang kepercayaan Baghdadi. Di antaranya adalah Abu Muslim at-Turkmani, wakil Baghdadi di Irak, dan Abu Aiman al-Iraqi, komandan militer ISIS di Suriah. Keduanya mantan perwira militer Irak.

Untuk mencegah mata-mata dan pengkhianatan, kepemimpinan ISIS amat dirahasiakan dari para jihadis asing. "Mereka mengenalkan cara pandang serba rahasia berlaku di Baath dan keahlian berperang," ujar Dulaimi.

Lelaki bertopeng memerintahkan Abu Hamzah ditahan merupakan salah satu pentolan dalam sebuah unit keamanan rahasia ISIS paling ditakuti. Anggota unit intelijen ini biasa berkeliling Suriah buat memantau jika ada anggota ISIS berusaha memberontak. "Mereka adalah mata dan telinga keamanan ISIS dan mereka amat berkuasa," ujar Abu Hamzah.

Dia kurang meyakini orang-orang Baath di ISIS berperilaku saleh. "Mereka hanya ingin kekuasaan. Mereka biasa berkuasa dan ingin itu kembali."

Poster Huzaifah al-Badri, putra pemimpin ISIS Abu Bakar al-Baghdadi, tewas dalam pertempuran di Homs, Suriah. (Amaq)

Putra pemimpin ISIS tewas di Suriah

Baghdadi memiliki empat anak dari istri pertama dan satu putra dari iatri kedua.

Pemimpin ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) Abu Bakar al-Baghdadi saat berpidato di Masjid Agung An-Nuri di Kota Mosul, Irak, Juni 2014. (Al-Arabiya)

ISIS benarkan Abu Bakar al-Baghdadi tewas

Dia dinyatakan terbunuh akibat serangan udara di Provinsi Ninawih, Irak.

Pemimpin ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) Abu Bakar al-Baghdadi saat berpidato di Masjid Agung An-Nuri di Kota Mosul, Irak, Juni 2014. (Al-Arabiya)

Calon pengganti Baghdadi

Iyad al-Ubaidi dan Ayad al-Jumaili sebagai dua kandidat terkuat merupakan bekas perwira angkatan darat zaman Saddam Husain.

Pemimpin ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) Abu Bakar al-Baghdadi saat berpidato di Masjid Agung An-Nuri di Kota Mosul, Irak, Juni 2014. (Al-Arabiya)

Rusia sangat yakin serangan udaranya tewaskan pemimpin ISIS Abu Bakar al-Baghdadi

Serangan udara itu terjadi pada 28 Mei dini hari di pinggiran selatan Kota Raqqah.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Lika-liku pembunuhan Jamal Khashoggi

"Kami mengetahui kapan Jamal (wartawan Saudi Jamal Khashoggi) dibunuh, di ruangan mana dia dibunuh, dan di mana mayatnya dibawa untuk dimutilasi,"

12 Oktober 2018
Nihil Jamal di Istanbul
05 Oktober 2018
Bungkam ulama guncang Al-Haram
26 September 2018

TERSOHOR