kisah

Belia bersenjata

"Saya mengangkat senjata untuk melindungi diri, keluarga, dan negara saya," kata Hasan, 7 tahun.

20 April 2015 10:04

Di gerbang Bab al-Yaman, Sanaa lama, Hasan (nama samaran) seperti anak terlantar, menjadi cebol dibanding Kalashnikovnya, berdiri di sebuah pos pemeriksaan. Kedua bola mata hitamnya mengamati tiap kendaraan melintas.

Seperti kebanyakan anak lelaki tujuh tahun di Ibu Kota Sanaa, Hasan tadinya menghabiskan sebagian besar waktunya saban hari di sekolah atau bermain sepak bola meja dengan teman-temannya. Itu berlangsung hingga empat pekan lalu.

"Sekarang sekolah saya diliburkan," kata Hasan seraya mencermati Toyota Yaris putih tengah memasuki kota tua Sanaa. Kurang dari sepekan, dia berubah predikat dari pelajar menjadi penjaga pos pemeriksaan milik pemberontak Al-Hutiyun.

Pengambilalihan Sanaa tahun lalu oleh milisi Syiah Al-Hutiyun ini mengakibatkan Presiden Abdurabbu Mansyur Hadi akhirnya berlindung ke Arab Saudi. Perang kian meluas ke seantero Yaman dan bahkan menggaet negara-negara Arab dipimpin Saudi. "Kami bertempur buat mempertahankan negara kami dari musuh-musuh," ujar Hasan dengan nada marah.

Jamal asy-Syami, bos the Demokrasi School, lembaga nirlaba berkantor di Sanaa, menjelaskan tanggung jawab soal makin banyak anak terlibat dalam perang bukan hanya di pemerintah, tapi juga beban Al-Hutiyun dan milisi-milisi di selatan Yaman mendorong mereka untuk angkat senjata. Anak-anak ini bisa dibujuk dengan fulus dan ditanamkan ajaran perang itu merupakan tugas melindungi suku mereka.

"Sekolah-sekolah ditutup dan anak-anak memiliki akses mudah ke senjata," tuturnya. "Semua pihak berkonflik menyambut mereka dengan tangan terbuka. Ini sebuah kekacauan."

Hasan adalah satu dari jutaan anak Yaman terpaksa tidak bersekolah setelah pasukan koalisi Arab dipimpin Saudi mulai menggempur Al-Hutiyun.

Kepala perwakilan UNICEF di Yaman Julien Harneis awal bulan ini bilang sekitar 30 persen anggota milisi terlibat dalam perang berumur di bawah 18 tahun. "Kami menyaksikan anak-anak di palagan, pos pemeriksaan, dan amat disesalkan beberapa di antara mereka tewas dan luka," katanya kepada kantor berita Prancis AFP.

Situasi berbahaya membikin sulit untuk memperoleh angka pasti mengenai jumlah serdadu belia itu.

Mereka berada di garis depan medan tempur, memeriksa kendaraan atau berpatroli di pos pemeriksaan di Yaman merupakan hal tidak lazim. Anak-anak sudah digunakan untuk kepentingan militer bahkan sebelum pasukan Al-Hutiyun mencaplok Sanaa. Padahal usia resmi untuk bergabung dengan militer Yaman minimal 18 tahun.

Pemerintah Yaman dan Perserikatan Bangsa-Bangsa Mei tahun lalu sudah meneken rencana aksi buat menghentikan dan mencegah perekrutan anak-anak ke militer. Abdul Malik al-Hutiyun, pemimpin Al-Hutiyun, telah berjanji menyetop merekrut serdadu anak.

Namun itu tidak berpengaruh bagi Hasan. "Pemimpin kami (Abdul Malik al-Hutiyun) telah menyerukan kepada kami untuk berperang menghadapi musuh. Saya mengangkat senjata untuk melindungi diri, keluarga, dan negara saya," ujarnya bangga.

Bocah tinggal di Distrik Safiya, Sanaa, ini tidak pernah mendpat pelatihan militer. "Ayah saya mengajarkan cara menggunakan Kalashnikov."

Tentara belia lainnya adalah Asif (bukan nama sebenarnya), 11 tahun. Sejak berusia enam tahun, dia sudah mengunjungi Provinsi Saadah di utara Yaman untuk berlatih di kamp milik Al-Hutiyun. "Saya hanya akan bertindak seperti yang disebut dalam Al-Quran," tuturnya. "Saya tidak suka sekolah. Saya tidak pernah pergi sekolah. Saya senang bertempur demi negara saya menghadapi Arab Saudi dan ISIS."

Walau pernah dilatih berperang, tugas utama Asif berpatroli di jalan-jalan dan berjaga di pos pemeriksaan di Sanaa. Ketika milisi Al-Hutiyun memasuki ibu kota, Asif rutin membawa senjata.

Dia membantah mendapat bayaran buat berperang bareng Al-Hutiyun, namun mengakui dikasih makanan dan setas qat, daun narkotik dikonsumsi luas di Yaman. "Orang tua saya bangga dan mendorong saya buat bertempur."

Syami menjelaskan karena pertempuran berlangsung di pelbagai wilayah, banyak keluarga mendorong anak-anak muda mereka bergabung dengan milisi. "Bagi mereka, itu sumber pemasukan sangat dibutuhkan," katanya.

Muhammad, 13 tahun, dari Provinsi Hajjah di barat Yaman, sudah lebih setengah tahun tidak berjumpa keluarganya. Dia berkeliling negeri berperang di pihak pemberontak Al-Hutiyun. Tanpa bersekolah, pengalaman masa kecilnya lebih banyak di palagan.

"Tahun lalu saya berperang bersama Al-Hutiyun, pertama di Amran lalu di Ibu Kota Sanaa," ujarnya. "Seperti saya, ada ratusan anak ikut bertempur bareng Al-Hutiyun di Marib (kota di sebelah timur Sanaa)."

Dari Syahara, berbatasan dengan Provinsi Hajjah, Muhammad satunya lagi menegaskan sekolah itu tidak penting. Dia bilang orang tuanya tidak berpendidikan. Keluarganya hidup dengan cara bertani menanam gandum dan barley (semacam gandum untuk membikin bir).

Syami memperingatkan bakal ada pertempuran lebih besar lagi setelah perang habis. "Banyak anak terbiasa dengan pendapatan, kekerasan, dan medan tempur. Akan sulit buat meyakinkan mereka kembali ke kelas."

Foto raksasa mendiang Imam Khomeini tergantung di tembok sebuah bangunan dekat rumahnya di kawasan elite Jamaran di utara Ibu Kota Teheran, Iran, 31 Mei 2016. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Fulus Kabah goyang Mullah

Pada 2012, Amerika menghapus MEK dari daftar organisasi teroris lantaran ingin menggunakan kelompok ini untuk membikin Iran tidak stabil.

Rahaf Muhamnad al-Qunun, 18 tahun, gadis asal Arab Saudi kabur dari keluarganya dan ingin meminta suaka ke Australia. (Twitter)

Harap Rahaf

"Hidup di Arab Saudi seperti tinggal dalam penjara. Saya tidak bisa membikin keputusan sendiri," ujar Rahaf. "Bahkan soal rambut pun saya tidak boleh memutuskan sendiri."

Facebook menghapus artikel the New York Times soal gadis kelaparan di Yaman. (Al-Bawaba)

Facebook hapus artikel soal gadis kelaparan di Yaman

Sejatinya, artikel ini mengecam keterlibatan Arab Saudi dan UEA karena menciptakan krisis kemanusiaan terbesar di Yaman.

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Argentina selidiki dugaan kejahatan perang anak Raja Salman dalam Perang Yaman

Save the Children mengatakan 85 ribu anak berumur di bawah lima tahun mati kelaparan di Yaman sejak 2015.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Fulus Kabah goyang Mullah

Pada 2012, Amerika menghapus MEK dari daftar organisasi teroris lantaran ingin menggunakan kelompok ini untuk membikin Iran tidak stabil.

16 Januari 2019
Harap Rahaf
07 Januari 2019

TERSOHOR