kisah

Belajar menjadi nabi

Cukup merogoh US$ 53, orang bisa belajar menjadi nabi di sebuah sekolah di Tel Aviv.

27 April 2015 22:34

Alih-alih berjubah serta berjenggot panjang dan tebal, sepuluh orang ini malah berpenampilan santai: mengenakan celana panjang olah raga dan kaus oblong. Mereka juga tidak membawa suhuf (lembaran berisi wahyu Tuhan) atau tongkat seperti Nabi Musa, tapi bawaan mereka komputer tablet dan telepon pintar.

Mereka adalah murid di the Cain and Abel School for Prophets dibuka awal Desember 2012. Lokasinya bukan di atas gunung sunyi atau pinggir sungai terpencil, tapi di Florentine, selatan Ibu Kota Tel Aviv, Israel, dikenal sebagai tempat pesta jalanan.

Meski begitu, mereka diajarkan untuk menjadi nabi, lebih tepatnya cenayang versi Yahudi. Hebatnya lagi, cukup mengikuti 40 kali kelas dengan merogoh 200 shekel atau sekitar US$ 53. Laporan lain menyebutkan dengan mengikuti sepuluh kali kelas saban Selasa, mereka dapat mengantongi ijazah sebagai nabi. Tiap pertemuan berlangsung sejam. “Semua generasi dalam bangsa Yahudi selalu memiliki orang suci diilhami oleh ruh kudus dan bisa melihat di balik kenyataan,” kata Rabbi Shmuel Fortman Hapartzi, pendiri sekolah itu.

Rabbi Fortman berasal dari Chabad, salah satu sekte Yahudi Ortodoks. Kelompok ini dikecam banyak pihak lantaran pernah menganggap salah satu pemimpin mereka sebagai Sang Penyelamat. Rabbi Fortman, berusia sekitar 40 tahun, mengaku sudah mempelajari ajaran Yahudi Ortodoks sejak remaja.

Bangsa Yahudi, menurut Alkitab, meyakini lusinan nabi. Mulai dari figur paling tersohor, seperti Abraham, Moses, dan Elijah, hingga nama-nama jarang didengar, termasuk Micah dan Habakkuk. Menurut ajaran Yahudi, tidak ada lagi yang bisa menjadi nabi sejak kuil Sulaiman di Kota Yerusalem dihancurkan oleh bangsa Romawi pada 70 Masehi. Nabi baru muncul lagi selepas kuil dibangun kembali.

Namun Rabbi Fortman percaya semua orang bisa menjadi nabi dan berbicara kepada Tuhan. “Murid-murid saya ada yang berlatar agama dan tidak, lelaki dan perempuan. Pada tingkat dasar, orang bukan Yahudi bisa belajar,” ujarnya.

Sejumlah siswa mengaku tertarik belajar di sekolah nabi itu karena merasa ada yang hilang dalam hidup mereka. Seorang janda beranak empat dari kelompok Ortodoks mengaku ingin berbicara dengan Tuhan dan mendapatkan jawan langsung dari Dia. Seorang lelaki sekuler telah belajar astrologi dan numerologi menyatakan ingin mencari pengalaman baru.

Di sekolah ini mereka belajar bagaimana membaca wajah, mengartikan mimpi, dan cara-cara mencapai ruh kenabian. Mereka juga dididik bagaimana berkomunikasi dengan malaikat.

Sejumlah tokoh mengecam gagasan Rabbi Fortman itu. Menurut Rabbi Israel Gelis dari Yerusalem, tidak ada orang bisa mengajarkan orang lain menjadi nabi. “Ini benar-benar bertentangan dengan Yudaisme dan sistem kepercayaan kita,” dia menegaskan.

Rachel Elior, profesor di bidang pemikiran Yahudi dari Universitas Hebrew, Yerusalem, juga berpendapat serupa. “Ini seperti membuka sekolah untuk menjadi Einstein dan Mozart,” ucapnya merujuk pada ahli fisika Albert Einstein dan komposer Wolfgang Amadeus Mozart.

Rabbi Fortman membantah dia orang sinting. Dia menjelaskan semua pelajaran berasal dari kitab-kitab terpercaya. Dia pun mengakui perlu puluhan tahun buat menjadi nabi. “Saya bukan nabi. Saya juga ingin menjadi nabi.”

Tentunya mustahil buat meyakini Rabbi Fortman dan murid-muridnya bisa menjadi nabi. Bayangkan saja, dalam pertemuan pertama ada yang belajar sambil menenteng gitar dan merokok kalau sudah bosan.

Apalagi Allah sudah menetapkan Nabi Muhammad sebagai penutup semua nabi sekaligus rasul. Dia nabi terakhir hingga kiamat tiba.

Rabbi Avraham Sinai bersama putranya, Amos Sinai, pada Mei 2016 berdiri memandang ke arah Libanon dari wilayah perbatasan di Israel. (Channel 2)

Rabbi pengkhianat Partai Tuhan

Selama sepuluh tahun, Ibrahim Yasin bergabung dengan Hizbullah sekaligus menjadi informan Israel. Sejak 1997, dia dan keluarganya pindah ke Israel.

Gideon Fan, orang Cina berdarah Yahudi, tengah berdoa di Tembok Ratapan di Kota Yerusalem Timur. (Courtesy)

Yahudi bermata sipit

Untuk pertama kalinya militer Israel menerima tujuh orang Yahudi berdarah Cina menjadi tentara.

Logo Mossad. (mysticpolitics.com)

Melawat ke markas Mossad

Mossad hanya memiliki hampir 1.200 pegawai, termasuk sekretaris dan sopir.

Pendiri sekaligus pemimpin senior Hamas di Jalur Gaza Mahmud Zahar tengah memegang senapan AK-47 milik mendiang putranya, Husam, di rumahnya, Kota Gaza, Rabu, 24 Oktober 2012. (faisal assegaf/albalad.co)

Kenangan Perang Gaza

Waktu perang meledak tahun lalu, kediaman Zahar rata dengan tanah akibat gempuran udara Israel.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Sentuhan Zionis dalam Perang Yaman

Israel secara rahasia menjual senjata dan amunisi kepada Arab Saudi, termasuk bom fosfor merupakan senjata terlarang.

21 November 2018
Nihil Jamal di Istanbul
05 Oktober 2018

TERSOHOR