kisah

Bertamu ke rumah pilot syuhada

"Muaz itu masih bersama kami. Orang mati syahid sesungguhnya dia tidak meninggal tapi masih hidup," ujar Safi Yusuf.

29 April 2015 23:21

Safi Yusuf, 67 tahun, memiliki empat putra dengan urutan dari tertua - Jawad, Jaudat, Muaz, dan Yusuf - mestinya dan seperti kebiasaan orang Arab dipanggil dengan sebutan Abu Jawad atau ayahnya Jawad. Tapi sejak Muaz, putra ketiganya itu dikabarkan wafat dibakar ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah), dia lebih dikenal dengan sapaan Abu Muaz.

Menurut sejumlah pejabat Yordania, rekaman video memperlihatkan Muaz dibakar hidup-hidup dalam sebuah kandang besi, berlangsung pada 13 Januari lalu. Dia ditangkap di dekat Raqqah, wilayah di utara Suriah kini menjadi ibu kota ISIS, sehari menjelang Natal tahun lalu, setelah jet tempur F-16nya jatuh. Lelaki berpangkat letnan ini adalah pilot jet tempur Angkatan Udara Yordania.

Semua orang di baladiyah Ai, barangkali setingkat kecamatan di Indonesia, kini mengenal di mana kediaman keluarga mendiang Muaz. Mulai anak kecil hingga dewasa, lelaki atau perempuan.

"Wain daar Abu Muaz (Di mana rumah Abu Muaz)? tanya Asir, sopir angkutan kami sewa untuk melawat ke rumah sang syuhada, kepada dua pemuda di sebuah toko. Dengan ramah mereka menunjukkan arahnya. Rupanya Asir masih bingung. Dia mengajukan pertanyaan serupa kepada seorang pelajar sekolah dasar tengah berjalan pulang.

Jarak antara Muktah, kota kecil di Provinsi Al-Karak dengan Ai, tempat tinggal keluarga Muaz, sekitar sepuluh menit bermobil. Baladiyah Ai ini berada di kawasan perbukitan tandus. Musim kering mulai menyapa Yordania membikin daerah ini kian gersang dan panas.

Saya datang bareng Miftah, mahasiswa Indonesia tengah belajar di Universitas Muktah, akhirnya tiba di kediaman keluarga Muaz. Asir mengetuk pintu gerbang kecil berwarna coklat tua dan mendapat jawaban dari tuan rumah. Baru tiga helaan napas, tiba dua lelaki mengaku teman almarhum. Safi Yusuf ramah menyambut kami.

Muaz boleh dibilang dari keluarga kelas menengah. Jabatan terakhir Safi adalah semacam kepala kantor dinas pendidikan di Al-Ghour, masih di Provinsi Al-Karak. Kompleks rumah Muaz seluas 200 meter persegi dengan teras luas.

Saat masuk ke dalam rumah, saya merasakan aura duka masih menyelimuti rumah itu. Foto-foto Muaz terpampang di meja dan lemari suvenir. Di meja pojok sofa tamu, juga terdapat foto Muaz dalam balutan seragam pilot.

Yusuf, putra bungsu Safi, lantas menyediakan seteko kopi panas dan ayahnya, Safi menuangkan sepertiga gelas ke semua tamunya. Belum tuntas karena kepanasan, saya sudah kedatangan teh beraroma mint. Segar banget rasanya. Lalu giliran sebotol air kemasan dan ditutup sajian buah berupa jeruk, ketimun, dan pisang. "Memang seperti itu kebiasaan di sini," kata Miftah.

Kami mengobrol ngalor-ngidul sebelum akhirnya saya berani menanyakan seputar Muaz. Dia pun membawakan saya foto Muaz tengah berpose di depan sebut jet tempur di Tanzania dan piagam penghargaan dari Angkatan Udara Yordania.

"Muaz itu masih bersama kami. Orang mati syahid sesungguhnya dia tidak meninggal tapi masih hidup," ujar Safi mengutip Al-Quran, surat Al-Baqarah ayat 154.

Ulama Syiah berpengaruh asal Irak Muqtada Sadr bertemu Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman di Kota Jeddah, Arab Saudi, 30 Juli 2017. (Supplied)

Sapa Muqtada

Ali Akbar Velayati, penasihat utama Pemimpin Agung Iran Ali Khamenei, Februari lalu bilang Teheran akan mencegah Sadr dan aliansi politiknya memerintah Irak.

Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz dan Presiden Joko Widodo berdiri di teras Istana Bogor, di sela pertemuan bilateral dilakoni kedua pemimpin itu pada 1 Maret 2017. (Dokumentasi Albalad.co)

Menerka dalang upaya kudeta di Arab Saudi

"Kalau cuma pesawat nirawak mainan kenapa baku tembaknya berlangsung dua sampai tiga jam? Mengapa menggunakan senapan mesin?"

UNHCR Eminent Advocate Dato Tahir menggendong Hanan, 4 tahun, anak pengungsi Suriah tinggal di sebuah kamp di Lembah Bekaa, Libanon, 11 April 2018. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Kenangan pahit di negara Syam

Perang memang cuma menyisakan kenangan pahit bagi pelaku dan korban.

UNHCR Eminent Advocate Dato Tahir menggendong Hanan, 4 tahun, anak pengungsi Suriah tinggal di sebuah kamp di Lembah Bekaa, Libanon, 11 April 2018. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Bersua Mustafa di Lembah Bekaa

Di akhir lawatannya, seperti biasa Dato Tahir berdoa memohon kebaikan bagi Mustafa sekeluarga dan seluruh pengungsi Suriah.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Sapa Muqtada

Ali Akbar Velayati, penasihat utama Pemimpin Agung Iran Ali Khamenei, Februari lalu bilang Teheran akan mencegah Sadr dan aliansi politiknya memerintah Irak.

21 Mei 2018

TERSOHOR