kisah

Rasisnya rezim Zionis

"Negara ini rasis dari atas hingga bawah."

11 Mei 2015 07:07

Sambil duduk di pojok tokonya di Kiryat Malachi, Uri Admo mengaku tidak kaget menyaksikan rekaman video dua polisi memukuli seorang tentara berdarah Ethiopia.

"Perbedaannya kali ini peristiwa itu terekam kamera," katanya. Kiryat Malachi, berlokasi di antara Jalur Gaza dan Yerusalem, dihuni lebih dari empat ribu warga Israel keturunan Ethiopia. Admo termasuk di antara mereka.

Marah lantaran rekaman video itu, ribuan orang Yahudi berkulit hitam turun ke jalan memprotes perlakuan semena-mena Israel terhadap penduduk keturunan Ethiopia. Unjuk rasa beberapa hari ini berlangsung rusuh.

Pemerintah cepat menanggapi. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu meminta maaf secara terbuka kepada serdadu nahas itu. Foto keduanya berpelukan segera tersebar luas. Polisi terlibat dalam pemukulan itu dihukum, satu dipecat dan seorang lagi diskors hingga menunggu penyelidikan selesai.

Netanyahu juga bertemu para pemimpin komunitas Yahudi Ethiopia. Dia lalu membikin sebuah komite menteri untuk memberantas rasisme dan mengeluarkan kebijakan mengenai perumahan serta lapangan kerja bagi orang Ethiopia.

Ketika Netanyahu mengungkapkan kekagetannya atas rekaman video pemukulan itu, sebagian besar dari 135 ribu orang Ethiopia - tidak sampai dua persen dari sekitar delapan jutaan penduduk Israel - mengatakan rasisme dan diskriminasi adalah masalah usang di negara Zionis itu. "Menjadi orang Ethiopia di sini (Israel) susah," ujar Admo, 48 tahun, seraya menuangkan sesendok kopi ke dalam cangkir.

Di akhir 1970-an Israel memberikan kewarganegaraan penuh terhadap Beta Israel, komunitas Yahudi Ethiopia hingga abad ke-20 jarang berkomunikasi dengan masyarakat Yahudi lain di seluruh dunia.

Karena dilarang pemerintah Ethiopia beremigrasi, pada 1980-an dan 1990-an banyak orang Yahudi Ethiopia nekat berjalan kaki kabur ke Sudan. Dari kamp-kamp pengungsi di sana mereka lantas diterbangkan ke Israel. Sejak itu sebagian kecil orang Yahudi Ethiopia pindah ke Israel.

Admo termasuk dalam rombongan pertama Yahudi Ethiopia tiba di Israel. Dia saat itu baru berumur 18 tahun. Setelah menjalani wajib militer, dia mulai mencari pekerjaan. "Saya pernah ditelepon untuk diwawancarai," tuturnya. "Ketika saya datang dan mereka melihat saya, mereka selalu mengatakan manajer lagi tidak ada atau 'Kami akan menghubungi Anda'" Tapi mereka tidak pernah menelepon lagi.

Ini baru sebagian contoh dari perbedaan perlakuan diterima orang Yahudi Ethiopia. Gaji rata-rata mereka per jam sekitar sepertiga dari pendapatan saban jam diterima penduduk Israel lainnya.

Selang beberapa jalan dari toko Admo, terdapat sebuah bar bercat bendera Ethiopia di pintu masuknya. Di dalamnya ada Agumas, 27 tahun, menjejakkan kaki di Israel waktu berusia tiga tahun. "Negara ini rasis dari atas hingga bawah."

Ketika kecil dia tidak terlalu merasakan diskriminasi tapi setelah dia besar semuanya berubah. "Saya tidak diterima bekerja di perusahaan bukan dipimpin oleh orang Ethiopia...Saya juga ditolak dari klub sepanjang waktu," katanya.

Dia dan temannya Daniel sepakat polisi selalu mengira dia  penjahat lantaran warna kulitnya hitam.

Keduanya menempuh perjalanan panjang menumpang bus ke Ibu Kota Tel Aviv untuk ikut berunjuk rasa. Seperti Admo, mereka tidak yakin dengan janji pemerintah memberantas rasisme.

Daniel menilai pemerintah tidak membangun infrastruktur memadai di permukiman dihuni mayoritas Yahudi Ethiopia. "Mereka bahkan tidak memiliki cukup klub olahraga bagi anak-anak muda. Anda tidak akan pernah melihat bocah Ethiopia 12 tahun berlajar bermain tenis," ujarnya.

Meski menerima tindakan rasis dan diskriminatif, orang-orang Ethiopia ini tetap setia kepada negara Bintang Daud. Mereka ikut wajib militer dan berperang demi Israel.

Sejatinya bukan minoritas Ethiopia saja menjadi korban rasisme rezim Zionis. Kaum Arab juga bernasib serupa. Bahkan Yahudi Sephardi (Timur Tengah) menjadi warga negara kelas dua ketimbang Yahudi Ashkenazi (asal Eropa) sejak lama menjadi elite di Israel.

"Kami adalah orang Yahudi," ucap Admo. "Kami besar dan belajar soal Israel, berpuasa Yom Kippur...Tidak peduli seberapa sulit perlakuan kami terima, ini negara kami."

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. (bbc.com)

Knesset sahkan beleid Israel negara bagi bangsa Yahudi

Undang-undang itu juga menyatakan Ibrani bahasa resmi di negara Zionis itu.

Rabbi Avraham Sinai bersama putranya, Amos Sinai, pada Mei 2016 berdiri memandang ke arah Libanon dari wilayah perbatasan di Israel. (Channel 2)

Rabbi pengkhianat Partai Tuhan

Selama sepuluh tahun, Ibrahim Yasin bergabung dengan Hizbullah sekaligus menjadi informan Israel. Sejak 1997, dia dan keluarganya pindah ke Israel.

Prasasti soal Kerajaan Himyar di Bir Hima, Arab Saudi. (You Tube)

Kerajaan Yahudi di tanah suci

Arab Saudi dulunya masuk wilayah Himyar, kerajaan Yahudi.

Mariam Halabi di sebuah klinik di Kota Istanbul, Turki, bersama Moti Kahana, pengusaha membantu dia sekeluarga keluar dari Aleppo, Suriah. (Moti Kahana  buat Albalad.co)

Yahudi buncit dari Aleppo

"Saya tidak hanya menolong orang Yahudi. Saya sudah menyumbang US$ 100 ribu hingga US$ 2 juta buat rakyat Suriah," kata Moti Kahana.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Saat Iran dan Israel masih bersahabat

Iran memasok minyak dan balasannya Israel menyuplai senjata.

01 Agustus 2018
Nestapa Syekha Latifah
25 Juli 2018
Sapa Muqtada
21 Mei 2018

TERSOHOR