kisah

Diganjal ginjal

Iran satu-satunya negara di dunia melegalkan penjualan ginjal.

15 Mei 2015 19:59

Seperti di kota-kota lain di seantero Iran, keriuhan peringatan Asyura juga berlangsung di Ahvaz. Kota di tepi sungai Karun ini berada di Provinsi Khuzistan. WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) pada 2011 menetapkan kota ini sebagai wilayah berpolusi udara terparah sejagat.

Dari kejauhan tetabuhan drum dalam festival saban 10 Muharam - memperingati wafatnya Imam Husain, cucu Nabi Muhammad, terbunuh dalam perang di padang Karbala - terdengar hingga ruang rawat inap dihuni Ghaffar Naghdi, 24 tahun. Dia sebenarnya ingin berbaur dengan orang-orang Syiah lainnya, tapi tidak bisa.

Dia mesti menunggu operasi transplantasi ginjal. Dia hanya bisa melihat keramaian tahunan itu dari balik jendela rumah sakit.

Dalam ruang transplantasi perempuan, tiga gadis muda tampak riang. Tandis dan Chaman menunjukkan kepada Narin bekas luka sayatan di dada mereka. Keduanya sudah menerima sumbangan ginjal dan sedang dalam tahap pemulihan. Narin juga bakal memiliki luka serupa. Dia akan menjual satu dari dua ginjalnya kepada Ghaffar.

Iran adalah satu-satunya negara di dunia melegalkan penjualan ginjal, tapi cuma satu dibolehkan. Undang-undang berkenaan dengan hal itu disahkan kabinet pada 1997. Dua tahun kemudian hampir semua antrean transplantasi ginjal lenyap.

Negara menghadiahkan fulus 300 pound sterling bagi tiap pendonor dan asuransi kesehatan setahun. Tapi kebanyakan penjualan ginjal itu berlangsung secara tertutup.

Di tembok-tembok luar di banyak rumah sakit di mana operasi transplantasi bisa dilaksanakan, terpampang ribuan iklan jual beli ginjal. Misalnya tulisan seperti ini: "A+ 25 tahun, saya menjual ginjal saya" atau "B negatif menjual ginjal, 33 tahun, harga nego".

Informasi penting untuk diketahui pasien memerlukan ginjal adalah golongan darah, nomor telepon bisa dihubungi, dan umur. Bila calon pendonor mendekati usia 35 tahun - umur maksimal untuk mendonasikan ginjal di Iran - harganya kian murah.

"Saya ingin menjadi guru tapi saya harus berhenti kuliah karena sakit," kata Ghaffar. "Beberapa tahun terakhir saya hanya mempunyai satu tujuan: mendapatkan donor ginjal."

Ghaffar telah menghubungi ratusan nomor telepon dan menemukan 72 donor potensial sesuai golongan darahnya. Tapi dokter menolak mereka semua lantaran tidak layak atau kesehatan mereka buruk.

"Setahun lalu saya menemukan donor bernama Asykan, dia lolos semua uji kelayakan, tapi dia mengambil uangnya tiga hari sebelum menjalani operasi kemudian kabur," ujarnya. "Saya putus asa."

Beberapa bulan kemudian dia membaca iklannya Narin. "Saya lalu menelepon dia, dia minta 20 juta Toman, saya hanya menyanggupi 13. Akhirnya kami sepakat di harga 15 juta Toman (3.600 pound sterling)."

Pengalaman Ghaffar tidak lazim di Iran. Biasanya pembeli ginjal adalah orang-orang tajir. Harga diminta Narin setara dua tahun gaji pegawai pemerintah.

"Kami menjual semua tanah keluarga untuk membayar operasi transplantasi," kata Ghulamreza, ayahnya Ghaffar. "Kami harus memilih antara kelangsungan hidup keluarga dan menyelamatkan putra kami, kami lebih condong kepada Ghaffar. Tapi bagaimana kami menjalani hidup sekarang?"

Narin juga datang dari keluarga miskin. Dia baru saja menikah. Dia dan suaminya menganggur dan tinggal bersama orang tuanya. Mereka termasuk angka pengangguran di Iran akibat krisis ekonomi dan turunnya harga minyak mentah dunia.

Narin menolak memberi alasan menjual ginjalnya. "Saya cuma ingin menolong orang lain," katanya.

Tapi Ghaffar tahu lebih banyak. Beberapa hari sebelum menjalani operasi transplantasi, dia mengundang Narin dan suaminya makan di rumah. Mereka saling kenal setelah bertukar cerita. "Di Iran adalah memalukan bagi pasangan menikah tapi masih tinggal dengan orang tua," ujar Ghaffar. "Dengan menjual ginjalnya, Narin dan suaminya akan bisa mengontrak rumah, setidaknya buat sementara."

WHO meyakini penjualan ginjal sebaiknya dilarang. "Komersialisme transplantasi  menyasar kaum papa dan donor-donor rentan lainnya." demikian bunyi Deklarasi Istanbul.

Pagi menjelang operasi Ghaffar gugup. Dia tidak banyak berbicara. Operasi transplantasi ini berjalan sukses setelah empat jam berlangsung. Ghaffar masih harus dirawat tiga pekan untuk pemulihan, sedangkan Narin boleh pulang tiga hari kemudian.

Sebulan berselang tubuh Ghaffar menolak ginjal milik Narin. Dia meninggal dan dikubur di kampung halamannya.

Ayahnya Ghaffar kemudian pergi ke rumah sakit untuk memprotes kejadian itu. Pihak rumah sakit bilang telah memperingatkan ginjal bakal diterima Ghaffar terlalu besar.

Tapi menurut Narin, rumah sakit sudah berbohong. "Mereka sudah melaksanakan banyak tes sebelum operasi. Mereka telah membunuh Ghaffar karena kelalaian mereka."

Narin pun masih merasakan sakit di ginjal tersisa. "Dokter mengatakan saya mesti diet dan banyak minum."

Ali Khamenei (kiri) saat Perang Iran-Irak. (Wikipedia)

Saat Iran dan Israel masih bersahabat

Iran memasok minyak dan balasannya Israel menyuplai senjata.

Basrah pada 1913, dipotret oleh pengusaha Swedia bernama Arne C Waern. (Wikimedia Commons)

Kanal Basrah, riwayatmu dulu

Di awal abad ke-20, tepian kanal-kanal di Basrah - menjadi pintu keluar menuju Teluk Persia - dihuni orang-orang Yahudi, Nasrani, dan muslim dengan damai.

Sheikha Latifa, daughter of Dubai Emir Sheikh Muhammad bin Rashid al-Maktoum, with her Finnish friend, Tiina Jauhiainen. (@detainedindubai for Albalad.co)

Nestapa Syekha Latifah

Bahkan sepanjang hidupnya, Syekha Latifah baru sekali keluar Dubai, yakni saat kabur tahun ini.

Menteri Luar Negeri Qatar Syekh Muhamnad bin Abdurrahman ats-Tsani. (Saudi Gazette)

Duit sebukit tebusan pangeran

Uang tebusan untuk pembebasan rombongan pemburu asal Qatar itu sebesar US$ 1 miliar ditambah US$ 150 juta.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Saat Iran dan Israel masih bersahabat

Iran memasok minyak dan balasannya Israel menyuplai senjata.

01 Agustus 2018
Nestapa Syekha Latifah
25 Juli 2018
Sapa Muqtada
21 Mei 2018

TERSOHOR