kisah

Tersengal proyek Piala Dunia

"Kalau seorang bos kamp tahu ada pekerjanya berbicara kepada wartawan mengenai masalahnya dengan perusahaan, dia bakal dipecat."

20 Mei 2015 18:53

Lokasi itu tidak layak buat sebuah stadion kriket. Berada di tengah kawasan industri di Ibu Kota Doha, Qatar. Isinya berupa pabrik dan bengkel. Jalannya juga belum diaspal. Stadion berkapasitas 24 ribu tempat duduk dengan rumput lapangan tampak sehat dan dilengkapi papan skor elektronik ini kelihatan berdiri di tempat salah.

Tidak jauh dari sana, sejumlah buruh proyek Piala Dunia 2022 asal Asia Selatan tengah menyelesaikan tahap air dari pembangunan sebuah masjid terlihat elegan dengan plafon tinggi.

Tapi paling menarik adalah Kota Buruh baru-baru ini diresmikan. Di sini tersedia kamar-kamar dalam ukuran luas untuk empat orang, dilengkapi penyejuk udara dan lemari penyimpanan. Di sini juga terdapat tempat buat menonton televisi bareng.

Makanan mereka juga diperhatikan. Di sana terdapat katering dikelola manajer dari Libanon, Filipina, dan Mesir. Pasukan buruh asal India, Nepal, Bangladesh, dan Sri Lanka saban hari bekerja keras di tengah suhu 40 derajat celcius.

"Kami berharap bisa menghapus kata 'kamp pekerja paksa' dan bicara soal kota-kota buruh di masa depan," kata Menteri Tenaga Kerja Qatar Abdullah al-Khulaifi. "Kami sudah memiliki yang baik, buruk, dan jelek. Ini standar baru."

Qatar sudah merencanakan membangun tujuh kota buat menampung tambahan 280 ribu buruh migran bakal bekerja membangun infrastruktur buat Piala Dunia 2022. Proyek besar ini menelan anggaran 137 miliar pound sterling atau setara Rp 2.798,3 triliun.

Kontroversi jadwal pelaksanaan turnamen sepak bola terbesar sejagat ini telah selesai setelah badan sepak bola dunia FIFA memutuskan Piala Dunia 2022 dilaksanakan pada November-Desember. Tapi Qatar banyak dikecam lantaran sistem kafala diberlakukan bagi buruh migran itu telah membatasi hak-hak dan kebebasan mereka.

Perbaikan soal perumahan bagi para buruh itu kelihatan mengesankan. Kamar-kamar baru itu mirip asrama mahasiswa di Amerika Serikat daan Eropa.

Minuman beralkohol dan perlatan memasak dilarang, tapi Wifi, tenis meja, dan mesin cuci menjadi fasilitas wajib. "Kami tidak mau mereka bosan jadi kami harus membikin mereka tetap sibuk," ujar manajer properti Emmanuel Encinares Austria.

Tiap blok dapat menampung 1.250 pekerja ditandai dengan warna berlainan. Kantin dengan pilihan menu dalam bahasa Asia Selatan, Arab, atau Filipina, menyajikan makanan di atas baki logam. Makanan itu mesti mengandung lebih banyak karbohidrat bagi para buruh lelaki bekerja di luar ruangan. Mereka wajib mengenakan helm dan masker.

Di mana saja di kawasan industri itu selalu menyampaikan cerita usang serupa: delapan lelaki berdesakan di sebuah ruangan sempit, dapur kotor, toilet kusam dan bau, serta koridor dipenuhi jemuran.

Di salah satu dari sekian banyak jalan tidak bernama, sebuah bangunan dilengkapi masjid sementara di bagian belakang tengah diperbarui. Pemiliknya telah diperingatkan untuk mencerahkan kembali bangunan mereka. Kalau tidak, bakal didenda atau dilarang.

"Kayaknya di sini saja," ucap Ramesh seraya mengangkat bahu. Petugas keamanan berbadan pendek dan gemuk asal Nepal ini terlihat tidak nyaman berbicara di depan para pejabat Qatar. "Saya sudah di sini tujuh tahun tapi tidak banyak berubah."

Dalam liputan tanpa kawalan di sebuah kawasan, Guardian menemukan belum ada perbaikan terhadap kehidupan para buruh Piala Dunia. Delapan buruh bangunan dari Nepal menempati satu kamar dengan satu meja kecil di antara bangku tidur mereka.

Tidak ada lemari penyimpanan di sana. Mesin penyejuk udara cukup menolong dari hawa panas, tapi bila rusak perlu berhari-hari buat memperbaiki. Patung Dewa Syiwa terbuat dari kardus seukuran kotak sepatu seolah menjadi saksi getirnya hidup mereka di negara Arab superkaya itu.

Tiga bulan lalu seluruh bangunan di kawasan itu diperbarui. Kementerian Tenaga Kerja telah menambah jumlah pengawas hingga 300 orang. Tetap saja fasilitas akomodasi lebih baik masih jauh dari harapan.

Pemerintah Qatar telah memberlakukan sistem pembayaran gaji lewat bank untuk menghindari upah telat atau tidak dibayar. Pengusaha mesti melaksanakan aturan itu paling lambat Agustus nanti. "Kami masih menerima gaji kami dalam bentuk tunai tapi kami biasanya dibayar tepat waktu," tutur Bhaktabahadur, buruh bangunan dari Nepal. Seperti rekan-rekan sekamarnya, tubuh kurusnya memakai kaus oblong dan sandal jepit. Persis sebagian besar pekerja proyek lainnya, dia menolak menyebut nama lengkapnya.

Upah murah dan kerja melebihi batas waktu adalah persoalan utama buruh migran di Qatar. Duncan Njunge, petugas keamanan dari Kenya, memperoleh 1.600 riyal Qatar atau sekitar Rp 5,8 juta sebulan dengan 12 jam kerja sehari. Dia bilang kondisi hiduonya meningkat belakangan ini dan dia dibolehkan memegang paspornya. "Hal paling penting menaikkan gaji dan mengurangi jam kerja," katanya. "Jika Anda mengambil libur, Anda akan mengeluarkan uang bukan mendapat fulus."

"Kondisi mereka tidak bagus," ujar Aarav, lelaki India memperkerjakan 90 buruh Asia, mulai tukang kayu hingga tukang pasang besi, di sebuah stadion Piala Dunia. Mereka digaji antara 900-1.200 riyal Qatar ditambah duit lembur.

"Para pekerja saya benar-benar miskin," ucapnya. "Mereka mengemis kepada saya agar menaikkan gaji mereka."

Dekorator bernama Shubash telah bekerja di Qatar empat tahun dan masih digaji 950 riyal. Angka itu disepakati saat dia bertemu calo di Ibu Kota Kathmandu, Nepal, di mana dia mendapat tiket pesawat dan visa ke Doha. "Saya tidak puas dengan gaji itu sekarang," tuturnya. "Upah itu berdasarkan kontrak saya teken di awal dan mereka tidak meningkatkan betapapun saya telah bekerja sekeras atau sebaik mungkin."

Mahendra mempermasalahkan debu atau gas lantaran tempatnya bekerja dekat pabrik. Dia mengaku tenggorokannya kerap sakit saban pagi.

Bahaya bila keluhan-keluhan semacam itu tersebar luas. Menurut peneliti independen Sayid Muhammad, ada kekhawatiran bakal kehilangan pekerjaan atau dideportasi jika berani berkoar. "Kalau seorang bos kamp tahu ada pekerjanya berbicara kepada wartawan mengenai masalahnya dengan perusahaan, dia bakal dipecat."

Buruh dari Nepal dan Bangladesh menempati kasta terbawah. Mereka menerima gaji paling rendah dan kondisi kehidupan terburuk. Sedangkan buruh migran dari negara lain menilai sistem kafala cukup baik.

"Ada banyak perubahan karena Piala Dunia," kata Ricardo, lelaki Filipina telah bekerja di Doha tujuh tahun. Dia mesti menunggu empat tahun lagi buat menerima paspor dari majikannya. "Kami biasanya tujuh orang sekamar tapi sekarang bertiga."

Stadion Pelabuhan Doha di Ibu Kota Doha, Qatar. Ini salah satu stadion bakal dipakai untuk turnamen Piala Dunia 2022 di Qatar. (theguardian.com)

Qatar gelontorkan US$ 500 juta sepekan buat proyek Piala Dunia 2022

Sebanyak 90 persen kontrak buat proyek Piala Dunia 2022 sudah diberikan.

Stadion Al-Bait bakal dipakai dalam Piala Dunia 2022 di Qatar. (sc.qa)

FIFA menangi kasus soal penunjukan Qatar gelar Piala Dunia 2022

Penggugat mengklaim FIFA keliru memilih Qatar.

Ibu Kota Doha, Qatar. (Arabian Business)

Qatar akan bikin pengadilan khusus buat adili pemabuk selama Piala Dunia 2022

Produsen bir terbesar di dunia juga bakal mensponsori Piala Dunia 2022.

Desain Stadion Al-Bait bakal dibangun di Kota Al-Khor, Qatar, untuk Piala Dunia 2022. (iloveqatar.net)

Perusahaan Italia dapat kontrak bangun stadion untuk Piala Dunia 2022

Stadion Al-Bait, direncanakan berkapasitas 70 ribu penonton, akan menempati lahan seluas 200 ribu meter persegi.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Saat Iran dan Israel masih bersahabat

Iran memasok minyak dan balasannya Israel menyuplai senjata.

01 Agustus 2018
Nestapa Syekha Latifah
25 Juli 2018
Sapa Muqtada
21 Mei 2018

TERSOHOR