kisah

Ditembak lelaki Arab, diselamatkan dokter Arab

Ahmad Id bakal tersinggung jika ada yang menanyakan soal kesetiannya terhadap Israel lantaran dia orang Arab.

25 Mei 2015 23:01

Ahad, 4 Agustus 2014. Seorang lelaki bersenjata dan bersepeda motor dari jarak dekat menembak ke arah Chen Schwartz di daerah Gunung Skopus, Yerusalem. Dua peluru mengenai serdadu Israel itu. Dia luka parah dan segera dilarikan ke Rumah Sakit Hadassah.

Profesor Ahmad Id, kepala tim operasi rumah sakit, diminta ke ruang operasi dan menangani korban. “Dia kehilangan banyak darah,” kenang Id. Dia kemudian menelepon dokter ahli dari sebuah rumah sakit di daerah Ein Karem. Dokter perempuan itu datang dikawal seorang polisi bermotor.

Operasi berlangsung lancar dan ditangani oleh tim beranggotakan sejumlah dokter pakar di pelbagai bidang. “Cederanya sangat fatal. Dia tentu akan mati jika tidak dioperasi secara sangat cermat,” kata Id.

Setelah menjalani beberapa kali operasi, kondisi Schwartz kini telah membaik. Dengan senyum mengembang penuh, Miri, ibunya Schwartz, sangat berterima kasih kepada dokter Id.

Ini bukan sekadar cerita seorang pria bersenjata menembak korban dan dokter menyelamatkan dia dari kematian. Ini adalah kisah seorang lelaki Arab menembak tentara Yahudi dan dokter Arab menolong nyawanya.

Id tidak peduli konflik berkepanjangan antara Yahudi dan Arab sejak Israel terbentuk. Apalagi penembakan terhadap Schwartz terjadi saat mesin perang Israel tengah membantai warga Gaza. Perang tengah berkecamuk ini memicu banyak bentrokan di Tepi Barat.

“Ya, seorang Arab menembak dia dan satu Arab lainnya menyelamatkan dia,” ujar Id merujuk kepada kasus Schwartz. “Saya hanya mengerjakan tugas saya.”

Ahmad Id dilahirkan 64 tahun lalu di Daburiyya, sebelah timur Nazareth. Dia memiliki sembilan saudara kandung dan cuma dia berkuliah. “Saya berotak encer dan belajar sungguh-sungguh. Saya mendapat banyak sokongan,” tuturnya.

Dia lalu mendapat beasiswa untuk lanjut ke SMP di Nazareth. Dari sana dia ke SMA di Yerusalem pada 1968. Dia lulus dengan nilai terbaik dalam pelajaran fisika dan matematika. Dia kemudian kuliah jurusan kedokteran. “Ayah berharap saya membuka klinik di Daburiyya tapi saya mengecewakan dia dan memilih tinggal di sini (Yerusalem),” tuturnya seraya tersenyum.

Sehabis lulus, dia bekerja di Rumah Sakit Hadassah dengan spesialisasi operasi transplantasi. Dari 1986 hingga 1990, Id belajar soal transplantasi hati di Klinik Mayo, Amerika Serikat. Setahun kemudian dia menjadi dokter pertama di Israel berhasil menjalankan operasi transplantasi hati. Pasiennya adalah bocah imigran asal Rusia. “Dia masih hidup dan kami tetap berkomunikasi. Sayangnya, dia tinggal di New York,” kata Id.

Id becerita semasa kecil dia berhubungan baik dengan anak-anak imigran Yahudi dari Kibbutz Ein Dor. Permukiman itu hanya beberapa menit jauhnya dari Daburiyya, desa kelahiran Id. “Saya sering bermain ke sana dan mereka juga kerap datang ke sini,” ujarnya.

Meski beretnik Arab, Id merasa bagian dari Israel. Sebab itu, dia suka tersinggung jika ada orang mempertanyakan kesetiaannya terhadap negara Zionis itu. “Saya orang Israel dan saya tidak perlu membuktikan itu,” tegasnya. “Kesetiaan saya kepada negara ini tidak perlu diragukan.”

Id menjelaskan Rumah Sakit Hadassah adalah contoh kecil positif dari hubungan antara orang Arab dan Yahudi. Setengah dari total pasien di sana adalah orang Arab. “Tidak ada drama di sini. Para elite politik seharusnya ke mari dan belajar dari sini.”

Mantan Perdana Menteri dan Presiden Israel Shimon Peres dengan latar kapal berpeluru kendali. (IDF Archives)

Raibnya wajah damai Israel

Shimon Peres bersalin rupa dari pionir nuklir menjadi master perdamaian.

Prasasti soal Kerajaan Himyar di Bir Hima, Arab Saudi. (You Tube)

Kerajaan Yahudi di tanah suci

Arab Saudi dulunya masuk wilayah Himyar, kerajaan Yahudi.

Mariam Halabi di sebuah klinik di Kota Istanbul, Turki, bersama Moti Kahana, pengusaha membantu dia sekeluarga keluar dari Aleppo, Suriah. (Moti Kahana  buat Albalad.co)

Yahudi buncit dari Aleppo

"Saya tidak hanya menolong orang Yahudi. Saya sudah menyumbang US$ 100 ribu hingga US$ 2 juta buat rakyat Suriah," kata Moti Kahana.

Karl Marx, pencipta paham komunis, juga orang Yahudi. (Wikimedia)

Seencer otak Yahudi

Sejak abad pertama, seluruh anak lelaki Yahudi wajib disekolahkan paling lambat umur enam tahun.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Lika-liku pembunuhan Jamal Khashoggi

"Kami mengetahui kapan Jamal (wartawan Saudi Jamal Khashoggi) dibunuh, di ruangan mana dia dibunuh, dan di mana mayatnya dibawa untuk dimutilasi,"

12 Oktober 2018
Nihil Jamal di Istanbul
05 Oktober 2018
Bungkam ulama guncang Al-Haram
26 September 2018

TERSOHOR