kisah

Menangguk untung imigran buntung

"Bahkan bila kesempatan mati di laut itu 99 persen, mereka akan tetap menyeberang," ujar seorang penyelundup. "Karena mereka sudah membayar."

03 Juni 2015 23:26

Di tengah kegelapan malam Hermon Angosom dan Efrem Fitwi, dua bocah Eritrea berumur delapan tahun, menaiki kapal pencari ikan sudah mengeluarkan bunyi berderit. Keduanya bergabung dengan lebih dari 200 orang, termasuk 39 anak dan paling muda berusia dua tahun dalam gendongan ibunya.

Mereka menangis. "Kami benar-benar takut," kenang Hermon dengan nada tenang.

Untuk sampai ke Libya, keduanya sudah menumpang sebuah truk bareng dua anak lain dan selusin orang dewasa. Berhari-hari mereka menempuh perjalanan panjang melintasi padang pasir di Ethiopia, Sudan, dan Libya.

Belum lama kapal renta itu menjauh dari dermaga, mesinnya mati hidup berulang-ulang. Setelah tujuh jam terlunta di tengah laut, mereka diselamatkan satu kapal nelayan Libya.

Sejak saat itu Hermon dan Efrem mendekam di pusat penahanan pengungsi di Kota Zawiyah, Libya, bersama tiga lusin bocah Eritrea lainnya, berusia 8-16 tahun. Kamp ini tadinya sebuah bangunan sekolah. Mereka tidur di atas kasur tipis melapisi lantai semen. Di pojok ruangan terdapat sebuah toilet seadanya.

Mereka cuma boleh keluar dua jam sehari, biasanya sehabis makan dengan menu itu-itu saja sehari tiga kali: nasi atau makaroni dengan irisan kecil dan sedikit kentang atau daging, tapi tidak pernah dikasih buah atau sayur.

Keduanya ikut dalam aliran ribuan pengungsi ingin menyeberangi Laut Tengah menuju Eropa untuk mencari kehidupan lebih baik. Jumlah pengungsi semacam ini tahun lalu 170 ribu orang.

Itu adalah sebuah perjalanan melewati Libya, negara gagal sehabis rezim Muammar Qaddafi berakhir empat tahun lalu. Tentara perbatasan ada tapi pura-pura tidak tahu, korupsi merajalela, patroli pantai selalu siaga namun tidak berdaya.

Alhasil, bisnis penyelundupan manusia Afrika dan Arab ke Eropa menggurita, makin besar kian tahun. Dalam laporan terbarunya, Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan omzet bisnis ini tahun lalu mencapai US$ 170 juta.

Tidak semua kaum migran beruntung. Musim semi ini saja, dari 25 ribu orang mencoba menyebrang ke Italia dari Libya, sebanyak 1.750 tewas ditelan ombak. Sekitar 3.200 orang mati tenggelam tahun lalu. Tapi tetap saja banyak yang nekat.

"Orang-orang Afrika itu menyaksikan kematian di depan mata mereka lantaran penyiksaan dan kekerasan dilakoni milisi Libya," kata seorang penyelundup seraya menyeruput segelas kecil kapucino saat ditemui di sebuah kedai kopi di satu pelabuhan di Ibu Kota Tripoli.

"Bahkan bila kesempatan mati di laut itu 99 persen, mereka akan tetap menyeberang," ujarnya. "Karena mereka sudah membayar."

Lelaki menolak ditulis namanya ini bilang para penyelundup seperti orang tidak ingat Tuhan. "Mereka hanya ingin mengangkut sebanyak mungkin penumpang dalam kapal. Makin banyak kian baik bagi mereka," tuturnya.

Jarak terdekat antara pantai Libya dengan Pulau Lampedusa di Italia cuma 466 kilometer. Waktu Qaddafi masih berkuasa, menyeberang ke sana dari Libya mesti merogoh hingga US$ 5 ribu lantaran harus menyuap aparat keamanan.

Tapi kini angkanya melorot menjadi US$ 1.600 per orang, menurut sejumlah penyelundup dan kaum migran di Tripoli. Dengan asumsi orang Maroko, Suriah, dan Tunisia memiliki banyak uang, tarif bagi orang Afrika lebih murah.

Sekali angkut 200 orang atau lebih dengan ongkos US$ 1.600 per kepala, penyelundup bisa mengantongi paling tidak US$ 320 ribu, namun mereka mesti mengeluarkan banyak uang juga untuk menyuap milisi. "Segalanya mahal," ucap seorang penyelundup.

Perjalanan darat menggunakan truk berisi 15-20 orang, seorang penyelundup harus mengeluarkan US$ 100 di tiap pos pemeriksaan untuk satu truk. Dia bisa merogoh kocek US$ 5 ribu sebulan untuk menyewa sebuah rumah penampungan migran dan membayar penjaga agar tidak ketahuan.

Bahkan sering pula mengeluarkan US$ 20 ribu saban bulan untuk menyuap seorang pemimpin milisi lokal agar tenang memakai pelabuhan penyeberangan. "Dengan syarat dia amat berkuasa," ujarnya.

Satu perahu karet bisa membawa 20 orang ke kepal sedang menunggu di tengah laut ongkos sewanya US$ 4 ribu. Kalau ingin menyewa kapal berkapasitas 250 penumpang untuk sekali jalan, penyelundup mesti membayar US$ 80 ribu.

Seorang nahkoda kapal, biasanya orang Mesir atau Tunisia, mendapat jatah US$ 5 ribu hingga US$ 7 ribu untuk sekali angkut. Penyelundup juga mesti membekali kapten kapal sebuah telepon satelit seharga US$ 800. Telepon ini akan dipakai nahkoda menghubungi Palang Merah Internasional ketika kapal dia bawa sampai di perairan internasional, supaya diselamatkan oleh patroli pantai Italia.

Beberapa penyelundup menjual jaket pelampung seharga US$ 40. Tapi lebih banyak penyelundup memberikan jaket penyelamat itu gratis sebagai bonus.

Walau kini mendekam di pusat penahanan pengungsi, Hermon dan Efrem tidak ingin pulang. Keduanya sudah kabur dari rumah. Mereka mengatakan saudara kandung mereka telah tiba di Italia sudah membayar kepada para penyelundup agar keduanya sampai ke sana. "Kami ingin pergi ke Italia."

Ulama Syiah berpengaruh asal Irak Muqtada Sadr bertemu Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman di Kota Jeddah, Arab Saudi, 30 Juli 2017. (Supplied)

Sapa Muqtada

Ali Akbar Velayati, penasihat utama Pemimpin Agung Iran Ali Khamenei, Februari lalu bilang Teheran akan mencegah Sadr dan aliansi politiknya memerintah Irak.

Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz dan Presiden Joko Widodo berdiri di teras Istana Bogor, di sela pertemuan bilateral dilakoni kedua pemimpin itu pada 1 Maret 2017. (Dokumentasi Albalad.co)

Menerka dalang upaya kudeta di Arab Saudi

"Kalau cuma pesawat nirawak mainan kenapa baku tembaknya berlangsung dua sampai tiga jam? Mengapa menggunakan senapan mesin?"

UNHCR Eminent Advocate Dato Tahir menggendong Hanan, 4 tahun, anak pengungsi Suriah tinggal di sebuah kamp di Lembah Bekaa, Libanon, 11 April 2018. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Kenangan pahit di negara Syam

Perang memang cuma menyisakan kenangan pahit bagi pelaku dan korban.

UNHCR Eminent Advocate Dato Tahir menggendong Hanan, 4 tahun, anak pengungsi Suriah tinggal di sebuah kamp di Lembah Bekaa, Libanon, 11 April 2018. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Bersua Mustafa di Lembah Bekaa

Di akhir lawatannya, seperti biasa Dato Tahir berdoa memohon kebaikan bagi Mustafa sekeluarga dan seluruh pengungsi Suriah.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Sapa Muqtada

Ali Akbar Velayati, penasihat utama Pemimpin Agung Iran Ali Khamenei, Februari lalu bilang Teheran akan mencegah Sadr dan aliansi politiknya memerintah Irak.

21 Mei 2018

TERSOHOR