kisah

Nikah dengan saya atau jadi budak saya

Syukrana Khalil Alawi dan putranya lari dari Suriah setelah seorang emir ISIS memaksa ingin menikahi dirinya.

10 Juni 2015 04:36

Bagi Syukrana Khalil Alawi, menolak lamaran adalah hal paling berbahaya pernah dia lakoni selama perang saudara di Suriah.

Selama empat tahun menjanda, dia bertahan hidup dengan putra tunggalnya, Mustafa, 7 tahun, di tengah kecamuk perang di Dair az-Zour. Namun menghadapi pinangan dari seorang pemimpin milisi brutal ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah), dia tidak memiliki pilihan lain kecuali kabur. "Dia meminang saya," kata Syukrana, 37 tahun, kepada surat kabar the Telegraph. "Tapi ketika saya menolak, dia mengeluarkan ultimatum: menikah dengan saya atau menjadi budak saya."

Tradisi konservatif di Suriah, diperparah oleh kemelaratan dan keputusasaan akibat perang tak kunjung reda, membikin kaum hawa di negara ini dipaksa kawin, baik oleh keluarga, germo, atau mereka merasa menikah satu-satunya kesempatan buat selamat.

Pada 2011 Syukrana kelihatannya memiliki masa depan cerah. Berprofesi sebagai guru sekolah dasar, dia bersama suaminya pindah ke Kota Dair az-Zour di timur Suriah untuk memulai hidup sebagai keluarga baru.

Karena protes menentang rezim Basyar al-Assad berganti menjadi pemberontakan bersenjata, suaminya, perwira intelijen Suriah, membelot dan bergabung dengan FSA (Tentara Pembebasan Suriah).

Namun beberapa pekan kemudian dia menerima kabar menyesakkan dada. Suaminya terbunuh akibat serangan sebuah roket di palagan.

Lantaran tidak bisa kembali ke rumah orang tuanya di Hasakah, masih dikuasai tentara pemerintah, Syukrana mesti merawat anaknya sendirian di kota telah dilanda perang. Dia bekerja sukarela sebagai guru sekolah dasar, mengajar anak-anak di dalam bunker.

Rupanya ada lelaki tertarik dengan Syukrana, perempuan muslim tidak berkerudung atau berjilbab. Pria ini mengutarakan niatnya saat melihat dirinya tengah berjalan menuju sekolah. "Lelaki itu melihat saya dan bilang ingin menikahi saya. Awalnya saya kira dia bercanda."

Terlalu konservatif untuk melamar langsung, dia minta tolong kepada tetangga lelaki Syukrana agar istrinya menyampaikan pinangan itu kepada dirinya.

"Dia berusaha dengan cara ini berkali-kali," ujar Syukrana. Dengan sopan dia membalas pesan itu dengan jawaban dirinya belum siap menikah lagi.

Saat itu ISIS belum mencaplok Dair az-Zour. Sang pelamar, lelaki Maroko dan lebih muda sepuluh tahun ketimbang dirinya, ialah anggota Jabhat an-Nusrah, cabang Al-Qaidah di Suriah.

Ketika ISIS menguasai kota itu, pesannya kian keras. "Dia mengatakan kepada saya: 'Segera saya akan minta dan kamu bakal menjadi milik saya'."

Beberapa hari kemudian ISIS mencaplok wilayah tempat tinggal Syukrana. Rupanya lelaki ngebet ingin kawin dengan dia ini diam-diam menyokong kelompok dipimpin Abu Bakar al-Baghdadi itu. Dalam waktu singkat pelamarnya diangkat menjadi emir.

Dengan kewenangan sebagai emir, pria Maroko itu berani mendatangi langsung rumah Syukrana. "Dia bilang jika saya tidak mau dinikahi, dia akan menjadikan saya sebagai budaknya," tutur Syukrana. Dia lantas memberitahu waktu pernikahan mereka dua hari lagi.

Dengan bantuan teman-temannya di FSA, Syukrana berencana keluar dari Dair az-Zour. Menjelang fajar, dia dan anaknya menumpang sebuah perahu melintasi salah satu dari sejumlah sungai mengelilingi kota itu untuk menghindari pos pemeriksaan ISIS ada di tiap jembatan.

Sendirian dan tanpa fulus, Syukrana dan putranya tiba di Urfa, kota di daerah perbatasan Turki dengan Suriah. Dia lalu mulai mencari pekerjaan di sekolah, kantor, dan restoran. "Saya melamar ke mana-mana tapi semua orang tahu saya sendirian," katanya.

Beberapa bos lelaki dia temui bilang tidak ada lowongan buat dirinya, tapi mereka bersedia memberi uang bila Syukrana mau tidur seranjang. "Begitu banyak perempuan Suriah saya kenal mempunyai persoalan serupa saya," ujarnya.

Syukrana terpaksa meninggalkan tempat pengungsian setelah diminta menjadi istri kedua oleh pengungsi Suriah asal Aleppo. Dia bersama Mustafa kini tinggal dalam sebuah gubuk satu kamar di pinggiran Urfa, tanpa air dan listrik.

"Saya tahu kami harus tetap berusaha," ucapnya. "Saya selalu berharap yang lebih baik. Tapi sekarang sulit melihat masa depan bisa saya berikan buat putra saya."

Bos Mayapada Group Dato Tahir berbincang dengan satu keluarga pengungsi Suriah di kamp Azraq, Yordania, pada 27 Oktober 2016. (KBRI Amman buat Albalad.co)

Senjata bikinan Israel ditemukan dalam gudang senjata ISIS

Israel dan ISIS memang memiliki kepentingan sama, yakni menggulingkan rezim Basyar al-Assad disokong oleh Iran.

UNHCR Eminent Advocate Dato Tahir menggendong Hanan, 4 tahun, anak pengungsi Suriah tinggal di sebuah kamp di Lembah Bekaa, Libanon, 11 April 2018. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Kenangan pahit di negara Syam

Perang memang cuma menyisakan kenangan pahit bagi pelaku dan korban.

Milisi ISIS. (Dabiq/Global Look Press)

ISIS pernah minta maaf karena serang tentara Israel

Israel memiliki saluran komunikasi terbuka dengan sel ISIS beroperasi di Golan.

Seorang lelaki memegang elang di resor di gurun Al-Maha, Dubai. (weekenduae.com)

Sandera ningrat Qatar dan konflik Suriah

Pembebasan 26 pangeran Qatar diculik di Irak terkait pertukaran penduduk Syiah dan Sunni di Suriah. Qatar membayar tebusan jutaan dolar Amerika.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Saat Iran dan Israel masih bersahabat

Iran memasok minyak dan balasannya Israel menyuplai senjata.

01 Agustus 2018
Nestapa Syekha Latifah
25 Juli 2018
Sapa Muqtada
21 Mei 2018

TERSOHOR