kisah

Nasib sendu Dadu

Karam Dadu diusir dari rumah orang tuanya karena menjadi banci.

12 Juni 2015 07:03

Dengan dandanan korset ungu ketat dipadu celana pendek, gincu merah muda berkilau, dan bulu mata palsu tebal, dia berjalan melewati sebuah bar di Ibu Kota Tel Aviv, Israel. Karam Dadu melangkah dengan kepala tegak. Wajahnya tidak terlihat cemas.

Diusir dari rumah orang tuanya di utara Israel tujuh tahun lalu, banci Arab ini sekarang menetap di Tel Aviv, kota berpenduduk majemuk dan terbuka. Tel Aviv hari ini menggelar Parade Gay merupakan festival tahunan di kota ini.

Bagi Dadu, 23 tahun, festival ini menjadi kesempatan untuk menampilkan tarian erotis andalannya. Dia dikenal sebagai ratu tarian erotis dengan nama panggung Kama Sutra.

Ya, di Tel Aviv Dadu bisa menjadi dirinya sendiri: sebagai gay tanpa harus takut dibenci atau diasingkan. Pengalaman pahit dia rasakan sebelum meninggalkan kediaman orang tuanya pada 2008.

Menjadi banci di tengah masyarakat minoritas Arab di Israel hampir tidak pernah terdengar. Bagi kebanyakan orang Arab, gay adalah aib. Mereka diketahui menjadi bencong bukan sekadar dicibir, tapi juga disiksa dan bahkan dibunuh demi menjaga kehormatan keluarga.

Dadu, dilahirkan di Acre, kota berpenduduk campuran Arab dan Yahudi. Dia nekat menyatakan kepada keluarga dirinya homoseksual saat berusia 14 tahun. Sejak saat itu dia selalu mendapat siksaan hingga akhirnya kabur dua tahun kemudian.

"Tidak ada satu hari pun tanpa siksaan selama dua tahun sejak saya bilang saya banci," katanya dalam bahasa Ibrani kepada kantor berita Reuters. "Saya sampai mengutuk diri saya sendiri saban hari."

Ketika pulang sebentar di umur 19 tahun, ayahnya pemarah dan pemabuk memukuli dia dengan sebatang besi. Dadu kemudian dirawat tujuh pekan di rumah sakit. Kejadian ini kian memantapkan dirinya pergi dari rumah untuk memulai hidup baru sebagai banci Arab.

Setelah dua atau tiga hari terbaring sendirian di ruang perawatan, ibunya datang menjenguk. Dia duduk jauh dari ranjang. Dia cuma sebentar dan sebelum pergi bilang, "Ini semua salahmu, kamu dicela karena kamu homoseksual."

Dadu akhirnya menjalani hidup di Tel Aviv. Dia tinggal seapartemen dengan sejumlah banci Yahudi di dekat pusat kota dan bekerja di restoran. "Saya merasa bisa bernapas bebas di sini," ujarnya.

Meski semua mata mendang ke arah dirinya, tidak ada yang menyalahkan karena dia gay atau Arab. Mereka menikmati tarian erotis Dadu. "Saya bukan saja selamat tapi juga hidup."

Buku Son of Hamas karya Musab Hasan Yusuf, putra dari pemimpin senior Hamas di Tepi Barat, Syekh Hasan Yusuf. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Putra Hamas dalam dekapan Yesus

Musab adalah putra dari pemimpin senior Hamas di Tepi barat, Syekh Hasan Yusuf. Dia pernah menjadi infrman Israel selama 1997-2007.

Sinagoge Beith Shalom di Jalan Kayoon 4-6, Surabaya, Jawa Timur, pada 2007. (Jono David, HaChayim Ha Yehudim Jewih Photo Library)

Bertemu pemuka Yahudi

"Sesudah itu, semua orang Barat ditawan di dalam kamp, termasuk seluruh keluarga Mussry, karena berkewarganegaraan Belanda," ujarnya.

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Menakar kestabilan Arab Saudi

Para pembangkang Saudi makin berani tampil terbuka setelah Khashoggi dihabisi

Foto raksasa mendiang Imam Khomeini tergantung di tembok sebuah bangunan dekat rumahnya di kawasan elite Jamaran di utara Ibu Kota Teheran, Iran, 31 Mei 2016. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Fulus Kabah goyang Mullah

Pada 2012, Amerika menghapus MEK dari daftar organisasi teroris lantaran ingin menggunakan kelompok ini untuk membikin Iran tidak stabil.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Putra Hamas dalam dekapan Yesus

Musab adalah putra dari pemimpin senior Hamas di Tepi barat, Syekh Hasan Yusuf. Dia pernah menjadi infrman Israel selama 1997-2007.

01 April 2019
Bertemu pemuka Yahudi
04 Maret 2019
Fulus Kabah goyang Mullah
16 Januari 2019
Harap Rahaf
07 Januari 2019

TERSOHOR