kisah

Bersiap bebaskan Mosul

Pemerintah Irak berharap milisi Syiah dan Sunni bersatu menyokong pasukan pemerintah untuk membebaskan Mosul dari cengkeraman ISIS.

15 Juni 2015 07:53

Lelaki 33 tahun itu, tadinya berpangkat sersan di angkatan darat Irak, menolehkan kepalanya untuk menyembunyikan air mata di wajahnya. Rekan-rekannya sesama tentara tengah bernyanyi dan meneriakkan yel-yel saat berpawai melintasi lapangan berumput, hanya 21 kilometer dari Mosul, kota di utara Irak sejak tahun lalu dicaplok milisi ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah).

"Saya menangis untuk Irak dan kota saya," kata pria minta ditulis namanya sebagai Putra Mosul ini. "Saya merasa sedih karena tanah bersih ini menjadi dekil dengan kehadiran ISIS."

Dia masih ingat bagaimana para jihadis ISIS membunuh temannya ketika mereka menyerbu Mosul Juni tahun lalu. Pasukan Irak cuma memberikan sedikit perlawanan. Mantan sersan ini lari ke wilayah Kurdistan, Irak, setelah ISIS menguasai kota terbesar kedua di negara Dua Sungai itu. "Saya sangat menyesalkan tentara tidak berjuang, jadi saya memutuskan untuk berperang lagi di sini," ujarnya.

Dari Mosul pula, di Jumat pertama Ramadan tahun lalu, pemimpin ISIS Abu Bakar al-Baghdadi mengumumkan berdirinya khilafah islamiyah. Dia juga mengangkat dirinya sebagai khalifah atau pemimpin kaum muslim sejagat.

Dia termasuk dalam sekitar 500 pejuang, kebanyakan berpaham Sunni, dilatih untuk merebut kembali Mosul. Latihan militer ini bagian dari Unit Mobilisasi Nasional dibentuk Gubernur Provinsi Mosul Athil an-Nujaifi, juga mengungsi dari Mosul.

Namun belum jelas pasukan mana bakal ikut dalam misi membebaskan Mosul. Sebanyak seribu pria lainnya sudah dilatih di kamp yang sama oleh para bekas perwira militer Irak.

Seorang pejabat dari kantor Wakil Presiden Irak Usamah an-Nujaifi, mengungkapkan pemerintah ingin Unit Mobilisasi Nasional dan Mobilisasi Rakyat - kelompok didominasi orang-orang Syiah dan telah merebut Tikrit dari ISIS - bersatu membentuk Garda Nasional buat mengusir ISIS dari Mosul.

Menurut sejumlah pejabat kamp dan Gubernur Nujaifi, sekitar empat ribu relawan sudah mendaftar untuk bergabung dengan Unit Mobilisasi Nasional. Mereka berusia antara 18-63 tahun. Tidak hanya berlatar Sunni, ada pula orang Kurdi, Nasrani, Yazidi, dan Syiah. Namun lantaran tempat terbatas, saban kali masa pelatihan digelar cuma bisa diikuti 500 orang.

Wakil komandan kamp pelatihan, mantan jenderal angkatan darat di era Saddam Husain dan ikut memerangi pasukan Amerika Serikat pada 2003, bilang sebagian dari seragam militer digunakan relawan itu dilengkapi bendera Irak dan Kurdistan. "Ini untuk mempersatukan kami," ucapnya.

Dia menambahkan kerja sama dengan pasukan Kurdi, dikenal dengana nama Peshmerga, di medan tempur, sekitar tiga kilometer dari kamp, berjalan baik.

Selama pelatihan, relawan-relawan itu tidak diberikan peluru betulan untuk belajar menembak. "Di akhir pelatihan kami akan membagikan peluru tajam itu," tuturnya.

Sejauh ini mereka diajarkan untuk menggunakan senjata dalam posisi tengkurap, berdiri, dan berlutut. Dia yakin mereka akan berjuang keras menghadapi militan ISIS. "Karena mereka berasal dari Mosul," katanya.

Rencananya Unit Mobilisasi Nasional akan menyokong pasukan darat Irak buat menyerang Mosul. Setelah direbut, mereka akan tetap berjaga-jaga di kota itu. "Akan lebih baik berhubungan dengan orang-orang dari asal yang sama ketimbang pejuang dari daerah lain," ujar Nujaifi.

Dia menjelaskan nantinya Baghdad akan menggaji anggota Unit Mobilisasi Nasional per bulan sekitar US$ 717 atau setara Rp 9,6 juta. Pemerintah wilayah Kurdistan di utara Irak telah menyediakan tempat buat membangun kamp pelatihan dan Turki ikut mengirim instruktur.

Nujaifi mengatakan pemerintah Irak belum memasok senjata buat anggota Unit Mobilisasi Nasional. Senapan mereka pakai saat ini dia beli dari pasar gelap di Kurdistan.

Relawan-relawan itu giat berlatih. Dengan baklava hitam menutup wajah dan mengangkat Kalahsnikov tanpa peluru di atas kepala, mereka melangkah tegap seraya meneriakkan slogan, "Kami para singa Ninawih! Katakan selamat tinggal kepada ibu saya. Saya akan berjuang membebaskan kota saya."

Semoga saja anak-anak Mosul ini tidak menangis untuk kedua kali karena gagal mengusir ISIS dari sana.

Lokasi persembunyian pemimpin ISIS Abu Bakar al-Baghdadi di Desa Barisya, Provinsi Idlib, Suriah, diserbu pasukan elite Amerika Serikat, Delta Force, pada 26 Oktober 2019. (France 24)

Lelaki pendiam pelindung Baghdadi

Salamah pindah ke Barisya pada 2016.

Pemimpin ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) Abu Bakar al-Baghdadi saat berpidato di Masjid Agung An-Nuri di Kota Mosul, Irak, Juni 2014. (Al-Arabiya)

Pengawal pribadi khianati Baghdadi

Informan ISIS berada dalam rumah Baghdadi ketika Delta Force datang menyerbu. "Dia di sana dan keluar bareng pasukan Amerika dengan selamat," ujarnya.

Pemimpin ISIS Abu Bakar al-Baghdadi saat berkhotbah Jumat awal Juli lalu di Masjid Agung di Kota Mosul, utara Irak. (www.aljazeera.com)

Tangis Baghdadi di Barisya

"Kecemasan Baghdadi adalah: Siapa akan mengkhianati dia? Dia tidak percaya siapapun," ujar Jenderal Yahya Rasul, juru bicara Komando Operasi Gabungan Irak.

Perdana menteri Irak Haidar al-Abadi bersalaman dengan seorang komandan pasukan Irak setibanya di Kota Mosul, 9 Juli 2017, untuk mengumumkan pembebasan Mosul dari ISIS. (Twitter/@HaiderAlAbadi)

Irak bebaskan Mosul dari ISIS

Sepekan sebelumnya, Abadi sudah mengumumkan berakhirnya khilafah islamiyah versi ISIS setelah pasukan Irak merebut Masjid An-Nuri telah menjadi puing akibat diledakkan ISIS.





comments powered by Disqus