kisah

Masih ada damai di Albunahidh

Di gerbang masuk desa terdapat papan petunjuk bertulisan "Dilarang berdebat soal politik atau agama. Dilarang merokok, membunyikan klakson, atau menebang pohon.

19 Juni 2015 23:55

Negara ini tengah dilanda perang dengan milisi ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) dan wabah konflik sektarian. Namun masih ada satu desa berhasil menutup diri dari semua huru hara di Irak.

Resepnya melarang debat masalah politik dan agama.

Itulah aturan berlaku di Albunahidh, desa di tepi Sungai Eufrat dan berjarak sekitar 161 kilometer sebelah selatan Ibu Kota Baghdad. Jalan menghubungkan desa itu tidak cukup lebar, membelah ladang bunga matahari.

Di gerbang masuk desa terdapat papan petunjuk bertulisan "Dilarang berdebat soal politik atau agama. Dilarang merokok, membunyikan klakson, atau menebang pohon.

Aturan ini menarik di tengah debat kedai kopi menjadi tradisi di negeri Dua Sungai itu. Kaum lelaki Irak bisa menghabiskan berjam-jam membahas teori konspirasi terbaru dan menuver politik seraya mengisap syisya.

Para penduduk bilang aturan main ini untuk melindungi keutuhan keluarga dan persatuan sekitar 500 warga Desa Albunahidh. "Semua orang terpengaruh dengan apa yang tengah terjadi di negara ini," kata Kazim Hasun, 44 tahun, salah satu perancang aturan itu. "Kita tahu situasi di Irak, perang, politik. Apa manfaatnya membahas hal itu? Cuma akan memicu ketegangan."

Budaya diskusi politik di warung kopi menjamur setelah rezim Saddam Husain terguling akibat invasi Amerika Serikat pada 2003. Ketika Saddam masih berkuasa, tidak ada yang berani terang-terangan berbicara soal dua isu sensitif ini.

Meski provinsi-provinsi di selatan Irak belum tersentuh ISIS, namun perang menjadi bahasan utama masyarakat. Sebab banyak kaum muda Syiah dari wilayah selatan bergabung dengan milisi-milisi Syiah untuk menumpas kelompok brutal dipimpin Abu Bakar al-Baghdadi itu. "Partai-partai agama selalu berusaha menekan rakyat. Berdebat mengenai agama adalah persoalan berbahaya," ujar Hasun.

Abdul Kazim Saghban, 74 tahun, mengiyakan. Dia menjelaskan ketika demokrasi muncul sehabis rezim Saddam malah menciptakan perpecahan lantaran begitu banyak partai muncul. "Kita seharusnya menghindari membicarakan hal-hal mungkin memecah belah kita dan kita mesti tetap bersatu," tuturnya. "Bagaimana musuh memasuki kota-kota kami? Karena kota-kota itu terpecah belah, mereka memiliki perbedaan."

Meski melarang perdebatan tentang agama, namun menurut Saghban, bukan berarti penduduk Desa Albunahidh antiagama. "Agama itu persis samudera, ia begitu dalam. Kita tidak semestinya berusaha memahami semuanya.

Walau larangan berdebat tentang politik dan agama baru berlaku beberapa bulan terakhir, tapi pengharaman merokok sudah lama diterapkan. Penggagasnya adalah ayahnya Hasun, demi alasan kesehatan.

Hasun, baru dua tahun pulang ke desanya setelah bekerja di negara Arab Teluk, menambah dengan kegiatan menyehatkan lainnya. Dia menggelar kebiasaan lari pagi dan bersepeda.

Dia juga sudah mengatur acara penanaman 300 pohon dan nantinya masyarakat bisa memelihara sarang lebah untuk diambil madunya. Hasun juga tengah mempersiapkan perpustakaan keliling.

Minuman bersoda juga dilarang bagi anak-anak di Albunahidh. Alhasil, tidak ada toko di desa ini menjual rokok atau minuman bersoda. Abbas Karim, 15 tahun, terakhir kali merasakan minuman bersoda dua bulan lalu.

Namun masih ada pula sebagian kecil penduduk melanggar aturan. Kalau sudah tidak bisa diperingatkan, kata Saghban, mereka harus keluar dari desa itu. "Kebanyakan dari kami membenci rokok dan debat masalah politik. Begitulah seharusnya."

Aturan itu pula membikin kedamaian masih menyelimuti Albunahidh.

Evakuasi korban tewas dan luka akibat serangan teror di klub malam Reina, Istanbul, Turki, 1 Januari 2017. (Twitter/@emergensa24)

Rekrutmen Nusrah dan ISIS di Turki

ISIS merekrut orang-orang kurang secara ideologi dan jaringan, sedangkan calon jihadis Jabhat Nusrah mesti lulus indoktrinasi dan direkomendasikan anggota lainnya.

Pemimpin gereja ortodhoks Siriak di Bartella, Irak, berpose bareng pasukan elite Irak membebaskan kota itu dari caplokan ISIS. (ADFA)

Dentang lonceng gereja di tepi Mosul

"Ketika jihadis ISIS itu mulai menurunkan dan menghancurkan salib serta injil, kami sadar kami sudah tidak aman lagi," ujar Nagham.

Seorang jihadis ISIS merobohkan salib di sebuah gereja di Kota Mosul, Irak, pada 2014. (The Assyrian International News Agency)

Nestapa pemuja Yesus

Di tarikan napas terakhir, gadis Kristen berusia 12 tahun meminta ibunya memaafkan jihadis ISIS pembakar rumah mereka.

Pemimpin tertinggi kaum Syiah di Irak Ali as-Sistani. (Global Security)

Dua Syiah satu Irak

Muqtada Sadr bilang demonstrasi antipemerintah untuk menyelamatkan Irak dari para pencuri uang negara.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Saat Iran dan Israel masih bersahabat

Iran memasok minyak dan balasannya Israel menyuplai senjata.

01 Agustus 2018
Nestapa Syekha Latifah
25 Juli 2018
Sapa Muqtada
21 Mei 2018

TERSOHOR