kisah

Masih ada bus ke Aleppo dan Raqqah

Bus umum rute Beirut-Aleppo atau Beirut-Raqqah kerap menjadi sasaran milisi atau pasukan pemerintah Suriah.

24 Juni 2015 22:22

Kondisi bus dia kendarai menggambarkan betapa mengerikannya rute biasa dilalui Muhammad. Kaca depan busnya sudah begitu retak terkena serpihan ledakan bom. Kaca itu direkatkan semampunya dengan lakban.

Muhammad, berusia 40-an tahun, adalah sopir bus rute Ibu Kota Beirut, Libanon, ke Aleppo atau Raqqah di utara Suriah. Sebagian wilayah Aleppo sudah dikuasai milisi ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah), sedangkan Raqqah menjadi ibu kota mereka.

Inilah salah satu keajaiban kecil di tengah perang berkecamuk selama lima tahun belakangan di Suriah. Transportasi umum tidak sepenuhnya berhenti. Meski harus melewati medan tempur dan wilayah-wilayah rawan penembak jitu serta penculikan, masih memungkinkan untuk membeli tiket bus tujuan Aleppo atau Raqqah.

"Bus saya sudah sering kena tembakan," kata Muhammad. "Saya telah mengemudi melewati berbagai pertempuran, ditembak oleh kelompok pemberontak atau pasukan pemerintah."

Saban beberapa hari sekali Muhammad mengangkut penumpang dari Beirut ke Aleppo, wilayah paling luluh lantak dilanda perang. Pasukan pemerintah Suriah menguasai wilayah barat Aleppo, sedangkan pemberontak mencaplok bagian timur. Di luar itu menjadi pertarungan segitiga antara pasukan rezim Basyar al-Assad, kelompok pemberontak, dan jihadis Islam.

Sebagian besar Kota Aleppo sudah porak poranda, namun tetap saja masih ada penunmpang ingin ke sana untuk mengunjungi kerabat atau mengambil harta mereka tertinggal.

Muhammad masih mempunyai bekas luka tebal di atas mata kirinya akibat ledakan dalam salah satu perjalanan. "Bus saya waktu itu sedang melaju di jalan tol dan tiba-tiba saja terjebak dalam pertempuran sengit," kenangnya. "Saya lalu membuka pintu dan mulai berlari, tapi sebuah mortir meledak dekat saya. Serpihannya melukai wajah dan mematahkan satu tangan saya."

Rute bus dikendarai Muhammad baru-baru ini lebih aman setelah pemerintah Suriah mengizinkan transportasi umum melewati jalur militer di sepanjang Porvinsi Latakia. Ini membikin mereka sedikit menemui palagan.

Namun bus-bus itu masih menjadi sasaran para milisi. Mereka biasanya menghentikan bus melintas lalu merampas fulus dan benda berharga milik penumpang.

Tidak jauh dari bus Muhammad terparkir, Abid sedang duduk di balik kemudi busnya. Sebagian besar wajahnya ditutupi brewok bukan lantaran dia inginkan. Tapi brewok itulah bisa menentukan hidup matinya. "Saya mesti menumbuhkan brewok," ucapnya. "Kalau saya tidak punya brewok, paling mujur jihadis tidak mengizinkan saya memasuki wilayah mereka."

Abid adalah pengemudi bus rute Beirut-Raqqah. "Situasinya benaar-benar sulit. Saban kali meninggalkan rumah Anda membyangkan apakah akan bisa pulang," tuturnya. "Kami harus menyeberangi Suriah: pertama di wilayah pemerintah kemudian daerah kekuasaan ISIS."

Dalam perjalanan ke Raqqah, dia mesti menghentikan busnya di pos pemeriksaan terakhir di wilayah kekuasaan pemerintah Suriah. Di sana dia memberi kesempatan kepada penumpang perempuan dewasa berganti pakaian wajib dikenakan saat memasuki daerah ISIS: abaya, jilbab, dan cadar serba hitam.

Dalam perjalanan pulang dari Raqqah ke Beirut, sebagian besar penumpang bus Abid adalah keluarga dan anak-anak atau kaum renta ingin mengungsi. ISIS tidak membiarkan anak-anak muda dan lelaki dewasa keluar dari Raqqah.

"Jika Anda di Raqqah, lelaki dan kelahiran setelah 1985, saya tidak boleh menjual tiket kepada Anda," kata Abid. "Kaum hawa harus ditemani lelaki muhrim dan mempunyai alasan jelas untuk pergi dari Raqqah."

Dalam perjalanan panjang itu bus-bus kerap dicegat kelompok bersenjata, kadang pihak pemberontak atau pasukan Suriah. "Bahaya berasal dari kedua pihak," ujar Abid.

Bus dikendarai Abid terakhir diserang November tahun lalu. Ketika itu sekelompok anggota milisi memblokir jalan dan memaksa seluruh penumpang turun.

"Mereka merampas telepon seluler semua penumpang," tuturnya. "Ketika ada seorang yang melawan mereka langsung menembakkan senjata di sekitar kaki penumpang untuk menkut-nakuti."

Abid dan Muhammad telah kehilangan sejumlah kolega. Ada yang lenyap saat dalam perjalanan, mungkin diculik. Sebagian lagi terbunuh karena bus dikendarai dihantam roket. Yang lain tewas kena peluru penembak runduk.

Meski pekerjaan mereka lakoni saat ini amat berisiko, Muhammad dan Abid tidak memiliki pilihan. "Bila saya berhenti, bagaimana saya menafkahi keluarga saya?" kata Abid. "Pekerjaan ini memang berbahaya tapi cuma ini pilihan saya."

Evakuasi korban tewas dan luka akibat serangan teror di klub malam Reina, Istanbul, Turki, 1 Januari 2017. (Twitter/@emergensa24)

Rekrutmen Nusrah dan ISIS di Turki

ISIS merekrut orang-orang kurang secara ideologi dan jaringan, sedangkan calon jihadis Jabhat Nusrah mesti lulus indoktrinasi dan direkomendasikan anggota lainnya.

Pemimpin gereja ortodhoks Siriak di Bartella, Irak, berpose bareng pasukan elite Irak membebaskan kota itu dari caplokan ISIS. (ADFA)

Dentang lonceng gereja di tepi Mosul

"Ketika jihadis ISIS itu mulai menurunkan dan menghancurkan salib serta injil, kami sadar kami sudah tidak aman lagi," ujar Nagham.

Seorang jihadis ISIS merobohkan salib di sebuah gereja di Kota Mosul, Irak, pada 2014. (The Assyrian International News Agency)

Nestapa pemuja Yesus

Di tarikan napas terakhir, gadis Kristen berusia 12 tahun meminta ibunya memaafkan jihadis ISIS pembakar rumah mereka.

Abu Abdullah, perancang serangan bunuh diri ISIS di Ibu Kota Baghdad, Irak. (Sam Tarling untuk the Guardian)

Perancang ledakan Baghdad

"Yang saya lakukan ini jihad karena saya membunuh orang-orang Syiah," Abu Abdullah menegaskan. "Mereka itu kafir dan saya yakin itu."





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Sapa Muqtada

Ali Akbar Velayati, penasihat utama Pemimpin Agung Iran Ali Khamenei, Februari lalu bilang Teheran akan mencegah Sadr dan aliansi politiknya memerintah Irak.

21 Mei 2018

TERSOHOR