kisah

Pahlawan Indonesia berdarah Yahudi

Charles Mussry menikahi gadis asal Madiun bernama Djoejoek.

26 Juni 2015 03:01

Barangkali banyak orang cuma tahu Soetomo atau dikenal dengan Bung Tomo sebagai ikon pertempuran 10 November 1945 di Kota Surabaya, Jawa Timur. Namun bisa dipastikan cuma segelintir pihak sadar ada pemuka Yahudi ikut berjuang saat itu. Dia adalah Charles Mussry.

Namanya tidak pernah muncul dalam cerita lisan atau buku-buku sejarah. Di mesin pencari google soal Mussry hanya tertulis satu kalimat menyebutkan dia ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Bahkan, kata Agus dari Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), lembaganya tidak memiliki arsip atau dokumen mengenai kiprah pejuang kemerdekaan berdarah Yahudi.

Padahal orang-orang Yahudi sudah lama menetap di Indonesia. Profesor Rotem Kowner dari Universitas Haifa, Israel, mengungkapkan orang Yahudi pertama bermukim di Indonesia adalah seorang saudagar dari Fustat, Mesir. "Dia meninggal di pelabuhan Barus, barat daya Sumatera pada 1290," ujarnya kepada Albalad.co saat datang ke Jakarta dua tahun lalu. Kowner sudah meneliti sejarah komunitas Yahudi di Indonesia sejak satu dasawarsa lalu.

Dia bahkan yakin orang-orang Yahudi sudah memeluk agama Nasrani juga ikut dalam rombongan kapal Portugis mendarat di Nusantara pada awal abad ke-16. Orang-orang Yahudi ini menetap di sekitar Selat Malaka, pantai utara Sumatera, dan Pulau Jawa.

Tidak mudah mencari tahu jejak dan riwayat Mussry. Maklum saja, cuma segelintir keturunan Yahudi mengenal sejarahnya. Apalagi, isu mengenai Yahudi di Indonesia sangat sensitif. Kebanyakan kaum muslim menyamaratakan kaum Yahudi itu bedebah. Alhasil, orang-orang keturunan Yahudi menyembunyikan identitas mereka.

Albalad.co berhasil mengontak tiga orang keturunan Yahudi paham soal Charles Mussry, yakni Rachel, Merry, dan Maureen. Ketiganya adalah Yahudi asal Baghdad, Irak, dan pernah menetap di Surabaya. Mereka awalnya sangat kaget bagaimana Albalad.co bisa mengetahui identitas mereka sebenarnya.

Rachel kini tinggal di Surabaya bareng adiknya, Merry, setelah suaminya meninggal, dan Maureen di Tangerang. "Soal Yahudi itu di sini (Indonesia) amat sensitif," ujar seorang putra Maureen saat ditemui di kediamannya lega nan asri di Tangerang, Banten. Di teras rumahnya terpampang sejumlah bingkai foto mendiang Presiden Soekarno. "Kakak ayah saya memang dekat dengan Soekarno."

Merry membenarkan soal jasa Mussry bagi bangsa Indonesia. "Dia dan keluarga Mussry lainnya ikut berjuang dalam pertempuran 10 November di Surabaya," tuturnya.

Putra bungsu Mussry bercerita kepada Albalad.co ayahnya menikahi gadis cantik asal Madiun bernama Djoejoek, meninggal tahun ini.

Charles Mussry merupakan putra dari pasangan Jacob Mussry, lelaki Yahudi asal Mesir, dan Toba Solomon Kattan. Keduanya bertemu dan menikah di Aceh. Charles Mussry dilahirkan pada 9 Oktober 1919 dan wafat pada 23 Agustus 1971 dalam usia 52 tahun.

Pusaranya berada di blok kubur Yahudi di kompleks pemakaman Kembang Kuning, Surabaya. Namun pihak keluarga curiga dia meninggal tidak wajar. “Dia kayaknya meninggal diracun. Itu saya tahu dari buku karangan orang Yahudi Polandia pernah ditolong ayah saya sewaktu datang ke Surabaya tidak punya uang,” tutur anak lelaki bungsunya.

*****

Charles Mussry bukan orang sembarangan. Dia pengusaha terpandang. Lelaki keturunan Yahudi ini salah satu saudagar paling tajir di Surabaya, Jawa Timur, dalam masa awal kemerdekaan.

Namanya orang terkaya, wajar saja bila dia bertempat tinggal di pusat kota. Mussry menetap di Jalan Simpang (kini Jalan Pemuda), salah satu jalan protokol di Kota Pahlawan itu. Bukan sekadar tempat bermukim, lahan seluas 600 meter persegi ini juga dijadikan tempat usaha.

Merry membenarkan Mussry mempunyai bengkel lumayan besar di Jalan Simpang. "Charlie memang punya bengkel mobil di sana," ujar warga Sidoarjo ini.

Merry mengungkapkan Mussry termasuk salah satu pengusaha Yahudi paling tajir saat itu. Mereka juga dekat dengan kekuasaan, termasuk memiliki akses langsung menghadap Presiden Soekarno .

Rumah sekaligus bengkel mobil milik Charles Mussry kini tinggal kenangan sehabis dijual pada 1960-an. Bangunan itu sekarang terpatri dalam ingatan segelintir warga Yahudi Surabaya.

Setelah empat dasawarsa, rumah sekaligus bengkel Mussry lenyap. Rumah Sakit Simpang juga disulap menjadi pusat belanja Delta Plaza atau Plaza Surabaya, bersebelahan dengan Museum Kapal Selam. Berjarak sekitar setengah kilometer dari balai pertemuan Grahadi dan kantor Dewan Perwakilan Rakyat daerah (DPRD) Kota Surabaya. Jalan Simpang di depan Kali Mas ini juga berganti nama menjadi Jalan Pemuda.

Meski begitu, Charles Mussry tetap diingat sebagai salah satu pengusaha Yahudi sukses saat Indonesia baru merdeka.

Ali Khamenei (kiri) saat Perang Iran-Irak. (Wikipedia)

Saat Iran dan Israel masih bersahabat

Iran memasok minyak dan balasannya Israel menyuplai senjata.

Basrah pada 1913, dipotret oleh pengusaha Swedia bernama Arne C Waern. (Wikimedia Commons)

Kanal Basrah, riwayatmu dulu

Di awal abad ke-20, tepian kanal-kanal di Basrah - menjadi pintu keluar menuju Teluk Persia - dihuni orang-orang Yahudi, Nasrani, dan muslim dengan damai.

Sheikha Latifa, daughter of Dubai Emir Sheikh Muhammad bin Rashid al-Maktoum, with her Finnish friend, Tiina Jauhiainen. (@detainedindubai for Albalad.co)

Nestapa Syekha Latifah

Bahkan sepanjang hidupnya, Syekha Latifah baru sekali keluar Dubai, yakni saat kabur tahun ini.

Menteri Luar Negeri Qatar Syekh Muhamnad bin Abdurrahman ats-Tsani. (Saudi Gazette)

Duit sebukit tebusan pangeran

Uang tebusan untuk pembebasan rombongan pemburu asal Qatar itu sebesar US$ 1 miliar ditambah US$ 150 juta.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Saat Iran dan Israel masih bersahabat

Iran memasok minyak dan balasannya Israel menyuplai senjata.

01 Agustus 2018
Nestapa Syekha Latifah
25 Juli 2018
Sapa Muqtada
21 Mei 2018

TERSOHOR