kisah

Bertamu ke markas Hizbullah

Kawasan Harit Thariq terlarang bagi tentara pemerintah.

29 Juni 2015 03:26

Kesempatan emas itu datang ketika saya meliput ke Libanon awal Februari 2008. Seorang anggota Hizbullah bernama Haji Abu Ali meminta saya menunggu di depan kantor Dewan Tertinggi Syiah di kawasan Harit Thariq, Ibu Kota Beirut, pukul satu siang. Saya tiba di sana menumpang mobil Kedutaan Besar Republik Indonesia.

Setelah menunggu sepuluh menit, datang seorang pemuda berpakaian serba hitam mengendarai motor. "Indonesia?" tanya dia. Saya mengangguk. Sekejap kemudian dia berlalu dan saya mengikuti dari belakang. Lima menit berselang kami berhenti di sebuah bangunan permukiman.

Kami masuk dari samping lewat gang sempit hanya cukup satu mobil. Di sana terparkir sebuah Mercedes hijau, mungkin milik Muhammad Raad, anggota parlemen Libanon dari faksi Hizbullah. Kami menaiki tangga menuju lantai empat. Lalu memasuki sebuah ruangan di mana terdapat empat anggota Hizbullah. Setelah menunggu 15 menit, saya pun bertemu salah satu pendiri Hizbullah itu.

Sehari sebelumnya saya juga ke markas Hizbullah di daerah ini. Bedanya saya dijemput seseorang bernama Adnan Husaini. Kami berhenti di sebuah bangunan sedang diperbaiki. Lalu menuju ke lantai empat. Urusan saya ketika itu: mendaftar untuk mewawancarai pemimpin Hizbullah Hasan Nasrallah. Setelah mengisi formulir, petugas pendaftaran bernama Wafa Hutait memindai paspor dan kartu pers saya.

Wafa menegaskan kembali apa yang saya tulis dalam formulir. Selain wawancara, saya juga ingin menginap di tempat persembunyian Nasrallah dan memotret kegiatan sehari-harinya. Hingga kini kesempatan itu belum datang. "Permohonan sudah kami ajukan, tinggal menunggu jawaban dari Beliau," kata Wafa berkali-kali saya hubungi setelah kembali ke Jakarta.

Dua kali ke markas Hizbullah dua kali pula saya dibuat kagum. Kagum terhadap para pemuda gagah dan bangga menyandang senjata jenis M-16 atau AK-47. Di wajah mereka saya lihat kebanggaan sebagai seorang patriot berani melawan Israel.

Kondisi politik tidak menentu membuat Raad dan elite politik lain membatasi diri tampil di muka umum. Mereka tidak mau senasib dengan Rafiq Hariri, mantan perdana menteri Libanon tewas akibat bom mobil pada 14 Februari 2005. Sejak saat itu lima orang mengalami nasib serupa, termasuk dua wartawan dan Menteri Perindustrian Pierre Gamayel.

Era 1975-1990 adalah mimpi buruk bagi rakyat Libanon. Perang saudara itu bermula dari perkelahian antara seorang warga Libanon dan sekelompok orang Palestina di Ain ar-Rumanah, Beirut, April 1975. Berlangsung pula lima pembantaian besar, termasuk dua serangan Israel di kamp Sabra dan Satila. Perang 15 tahun itu menewaskan seratus ribu orang dan 14 juta lainnya eksodus ke luar negeri.

Sisa-sisa perang berupa bangunan rusak dan tidak berpenghuni masih terlihat di Beirut, terutama di daerah perbatasan antara Islam dan Kristen. Bahkan sejumlah bangkai bus dikumpulkan di sebuah lapangan terbuka di sisi jalan menuju kantor Kementerian Luar Negeri.

Belum sepenuhnya pulih, perang besar kembali melanda negeri berpenduduk sekitar empat juta jiwa itu pada 12 Juli-14 Agustus 2006. Ini dipicu oleh penolakan Hizbullah membebaskan dua tentara Israel mereka culik sebulan sebelumnya.

Dua ribu warga sipil tewas dan Libanon rugi US$ 11,4 miliar, terutama di sektor pariwisata. Para turis asing biasanya membanjiri negara ini tiap musim panas (Mei-September). "Hizbullah telah menghancurkan segalanya. Kini tidak ada lagi orang mau datang ke Libanon," kata Patricia Khoder, 34 tahun, warga Beirut.

Wilayah Libanon Selatan menjadi basis Hizbullah menderita kerusakan parah. Jalan tol menghubungkan Beirut dengan daerah selatan sulit dilalui. Jembatan dan bangunan-bangunan rusak masih tampak di kota Tyre, Nabatiyah, dan Qana.

Di Qana – bisa ditempuh dua jam bermobil dari Beirut – Israel kembali membantai warga sipil untuk kedua kali. Sebelumnya pada 19 April 1996, 107 orang dan hampir 50 staf Perserikatan Bangsa-Bangsa menjadi korban. Hasil serangan udara kali ini merenggut 29 nyawa, termasuk 24 anak. Para korban berusia 9 bulan-75 tahun berasal dari dua keluarga besar, yakni sebelas orang dari keluarga Mahmud Ibrahim Hasyim dan sisanya dari keluarga Hasan Husain Salhub.

Menurut Sana binti Ahmad Mahmud Salhub, pengeboman mulai berlangsung sekitar pukul satu dini hari pada 30 Juli 2006. Kakeknya, Mahmud Salhub, menyuruh Sana dan dua saudaranya tetap berada di rumah dan tidak mengikuti mereka mengungsi ke tempat lain.

Mereka bertiga tidak bisa tidur semalaman. "Dalam semalam terdengar enam bunyi ledakan," sambung Jamil Salami, 40 tahun. Esoknya Sana mendapati orang tua, kakek, dan saudara-saudaranya meninggal di bawah reruntuhan bangunan. Semua korban baru bisa dikuburkan pada 17 Agustus setelah terjadi gencatan senjata.

Untuk mengobati kangen, Sana hanya bisa menatap foto keluarga tergantung di ruang tamu rumahnya menghadap lembah penuh pohon zaitun. "Kalau saya bertemu orang Israel, saya akan memotong kecil-kecil secara perlahan," kata gadis 14 tahun ini dengan wajah penuh dendam di rumahnya.

Di Beirut kerusakan paling parah terlihat di Harit Thariq, kawasan permukiman kelompok Syiah-Hizbullah. Sedikitnya ada lima tanah kosong dipenuhi reruntuhan bangunan. Tiga di antaranya memperlihatkan lubang besar menjadi pondasi bangunan. Sedangkan bangunan rusak sebagian tersebar cukup banyak.

Meski begitu, warga berseliweran seolah tak peduli pemandangan bangunan rusak. Sejauh ini belum ada perbaikan walau perang sudah lama berakhir. "Masih terjadi tarik ulur antara Hizbullah dan pemerintah soal siapa harus membiayai,” kata Muhammad Zainal Aziz, staf lokal KBRI Beirut.

Tapi tidak gampang bagi orang asing memotret bangunan rusak dari luar. Seorang pemuda penjaga toko melarang dengan menggunakan bahasa tubuh: kamera saya akan dirampas dan diinjak-injak. "Kita juga tidak boleh memotret tentara Hizbullah," ujar Aziz. Saya pun menjepret dari dalam mobil.

Mereka juga mencurigai warga asing mencoba mendekati salah satu pentolan Hizbullah. Ini terjadi ketika suatu malam saya mengunjungi toko milik Abdullah menjual pelbagai pernik soal Hizbullah dan Syiah. Mulai dari poster berbingkai, kaus, hingga gantungan kunci bergambar Hasan Nasrallah.

Sejumlah orang bolak-balik di depan toko sambil memandang curiga ke arah saya sedang melihat-lihat barang. Tak ketinggalan, tiga pemuda di seberang jalan. Yang membuat saya sedikit kuatir, dua pemuda menenteng senapan otomatis memandangi saya.

"Dia (Abdullah) salah satu pentolan Hizbullah di daerah ini," kata Muhammad Arkan, warga Indonesia tinggal di daerah Hizbullah. Saya kian yakin setelah seorang kakek berpakaian dan berkopiah serba putih meminta bantuan untuk mengusir anak-anak muda ribut sehingga mengganggu tidurnya.

Di negara ini senjata bebas beredar di mana-mana. Saya sempat berjumpa seorang pemuda dengan santainya menyeret senapan di tepi jalan ramai pada suatu siang. Malam sebelumnya, seorang warga bernama Hasan saya temui di tempat cukur juga membawa pistol terlihat menyembul dari balik jaket hitamnya.

Saya juga menyaksikan senjata dijual bebas di toko milik Ahmad, warga Syiah. Sebelumnya dia memiliki pabrik pembuatan peluru di Libanon Selatan hancur dibom Israel Juli 2007. "Di sini tiap orang bebas memilki senjata tanpa izin," kata Habib Karout, warga Kristen Beirut.

Secara sosial-politik, rakyat Libanon membagi wilayahnya berdasarkan agama dan sekte. Terutama setelah perang saudara. Di negeri ini ada 17 aliran agama dengan pelbagai sekte: 5 Islam (Syiah, Sunni Druze, Ismaili, Alawi), 11 Kristen (4 Ortodoks-Armenia, Yunani, Suriah, Nestoria-Assyiria, 6 Katolik-Armenia, Suriah, Kaldea, Yunani, Romawi, Maronit, dan 1 Protestan) dan Yahudi. Berdasar etnik terdiri dari masyarakat Arab, Armenia, dan Kurdi.

Tiap wilayah permukiman mempunyai ciri tertentu. Di kawasan Syiah-Hizbullah banyak dijumpai poster besar Sayyid Hasan Nasrallah, Abbas al-Musawi, atau Musa Sadr. Di daerah Syiah-Amal, poster para imam Syiah itu selalu berdampingan dengan Nabih Berri, Ketua Partai Gerakan Amal sekaligus ketua parlemen. Sedang gambar Perdana Menteri Fuad Siniora mendominasi daerah Sunni.

Polarisasi rakyat Libanon kembali muncul sejak pemilihan umum Juni 2005. Munculnya kelompok mayoritas baru merupakan koalisi Islam Sunni-Druze-Kristen dan didominasi kelompok pro-Hariri tidak cukup kuat untuk mengendalikan seluruh proses politik di negara itu. Masih ada dua kelompok sangat menentukan perimbangan politik, yakni mayoritas Kristen dipimpin pensiunan Jenderal Michael Aoun (memperoleh tiga perempat suara Kristen) menganggap dirinya pihak oposisi dan blok Syiah merupakan gabungan antara Gerakan Amal (Nabih Berri) dan Hizbullah (Hasan Nasrallah).

Kedua kelompok ini cukup kompak dalam menyikapi isu-isu strategis, seperti dukungan terhadap Presiden Emil Lahud. Sedang kubu Hariri menganggap Presiden Lahud ilegal lantaran masa jabatannya sudah habis sejak 2004, namun diperpanjang faksi pro-Suriah hingga 2007. Soal Hariri, para menteri Syiah menuduh rekan sekabinet mereka tidak bersikap obyektif dan cenderung apriori terhadap keterlibatan Suriah.

Perpecahan dalam kabinet juga terjadi dalam menanggapi Resolusi Dewan Keamanan PBB nomor 1559 menuntut perlucutan senjata semua kelompok paramiliter di Libanon. Ini menjadikan Hizbullah sebagai satu-satunya sasaran. Padahal, menurut para menteri Syiah, hanya Hizbullah dapat diandalkan untuk mengakhiri dan menangkal pendudukan Israel di Libanon.

Terkait Perang 34 hari, koalisi Aoun, Nasrallah, dan Berri menuding pemerintah tidak proaktif mengatasi kerugian akibat perang itu. Dampak politiknya, lima menteri Syiah dan tiga menteri dari kubu Aoun mundur. Tidak puas sampai di situ, kelompok oposisi mengadakan demonstrasi besar-besaran melibatkan sekitar satu juta orang di Lapangan Martir, pusat Kota Beirut, sejak 8 Maret 2006. Enam hari berselang, giliran kubu pemerintah melakukan aksi serupa.

Menurut Muhammad Hasan Raad, Ketua Fraksi Hizbullah di parlemen, aksi akan terus berlanjut hingga pemerintah persatuan nasional bisa terbentuk. Dia secara tegas membantah pihak oposisi berniat menjatuhkan pemerintah Perdana Menteri Fuad Siniora. "Yang kami tuntut adalah perluasan pemerintahan di mana Siniora tetap menjadi perdana menteri dan oposisi memiliki peran cukup dalam membuat keputusan bersama," katanya.

Situasi memanas memaksa tentara pemerintah membuat pos pemeriksaan di perbatasan antara Sunni-Syiah dan Islam-Kristen. Biasanya ditempatkan satu unit tank dengan lima tentara. Perdana Menteri Siniora tidak ingin mengambil risiko kembali meletusnya perang saudara.

Perang sering melanda Libanon telah membuat sebagian rakyatnya bosan. "Saya muak dengan perang. Saya ingin hidup tenang dan damai," kata Ali Jabir, warga Syiah di Beirut. Keinginan Ali dan sebagian warga Libanon lainnya didukung oleh pemerintah. Mereka membuat papan iklan dalam bahasa Arab dan Inggris bertulisan "Saya Mencintai Hidup".

Tapi ingat ini cuma sementara. Perang baru akan berkobar lagi di Libanon. "Mereka (Israel) sendiri berkoar-koar akan melakukan serangan musim panas depan (Mei-September)," kata Raad.

Ali Khamenei (kiri) saat Perang Iran-Irak. (Wikipedia)

Saat Iran dan Israel masih bersahabat

Iran memasok minyak dan balasannya Israel menyuplai senjata.

Basrah pada 1913, dipotret oleh pengusaha Swedia bernama Arne C Waern. (Wikimedia Commons)

Kanal Basrah, riwayatmu dulu

Di awal abad ke-20, tepian kanal-kanal di Basrah - menjadi pintu keluar menuju Teluk Persia - dihuni orang-orang Yahudi, Nasrani, dan muslim dengan damai.

Sheikha Latifa, daughter of Dubai Emir Sheikh Muhammad bin Rashid al-Maktoum, with her Finnish friend, Tiina Jauhiainen. (@detainedindubai for Albalad.co)

Nestapa Syekha Latifah

Bahkan sepanjang hidupnya, Syekha Latifah baru sekali keluar Dubai, yakni saat kabur tahun ini.

Menteri Luar Negeri Qatar Syekh Muhamnad bin Abdurrahman ats-Tsani. (Saudi Gazette)

Duit sebukit tebusan pangeran

Uang tebusan untuk pembebasan rombongan pemburu asal Qatar itu sebesar US$ 1 miliar ditambah US$ 150 juta.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Saat Iran dan Israel masih bersahabat

Iran memasok minyak dan balasannya Israel menyuplai senjata.

01 Agustus 2018
Nestapa Syekha Latifah
25 Juli 2018
Sapa Muqtada
21 Mei 2018

TERSOHOR