kisah

Sahabat pena dari Gaza

Berbeda pandangan soal konflik Palestina dan Israel namun sama-sama menyukai karya Shakespeare.

03 Juli 2015 15:38

Perasaan cinta, kasih, dan sayang adalah naluri ada pada tiap manusia. Ia tidak bisa musnah meski di tengah medan perang sekalipun. Kenyataan ini pula hidup di tengah konflik berkepanjangan antara Palestina dan Israel.

Anav Silverman dan Mona Yusuf telah membuktikan itu tujuh tahun lalu. Keduanya baru berhubungan selama tiga bulan meski melalui surat diperantarai oleh situs berita BBC. Surat ketiga adalah kabar terakhir di antara mereka.

Anav adalah mahasiswi jurusan Sastra Inggris dan Ilmu Politik di Universitas Bar Ilan, Israel - kini dia sudah menjadi wartawan. Gadis berdarah Yahudi dari sisi ibu ini lahir di Yerusalem dan sejak umur dua tahun pindah bersama keluarganya ke Maine, Amerika Serikat. Negara bagian berbatasan dengan Kanada ini dikelilingi danau dan hutan. Dia kembali ke Israel pada 2004 dan menetap di Yerusalem.

Sejak Agustus 2007 dia bekerja paruh waktu untuk pusat media di Sderot, kota di selatan Israel berjarak hanya satu kilometer dari perbatasan Jalur Gaza. Tugasnya saban hari mengedit dan menerjemahkan pelbagai bahan berita dan dokumen dari bahasa Ibrani ke Inggris. "Saya juga mewawancarai korban roket dan menulis artikel soal situasi dan penduduk Sderot hidup di bawah ancaman roket serta bunyi sirene tiap hari," kata Anav kepada Albalad.co, awal Juli 2008.

Mona juga lulusan Sastra Inggris dan bekerja sebagai penerjemah lepas di utara Jalur Gaza. Diaa adalah sulung dari empat bersaudara. Keluarganya terusir dari Kota Ashkelon saat negara Israel berdiri pada 1948. Kakeknya tewas dalam perang saat itu, sedangkan adik bungsunya berusia 12 tahun, Amir, ditembak mati serdadu Israel pada 1992.

Menurut Anav, persahabatan itu bermula saat ada tawaran dari pihak BBC kepada dia. Dia menerima ajakan itu lantaran memiliki banyak teman orang Arab di kampusnya. "Saya tidak memandang orang-orang dari Gaza berbeda dengan yang lain. Kita semua adalah manusia," ujarnya.

Mereka lantas saling bertulis surat. Isinya soal pandangan masing-masing mengenai konflik Palestina-Israel. Menurut Anav, perdamaian tidak dapat datang hanya dengan mengembalikan wilayah seperti diminta rakyat Palestina. "Selama bertahun-tahun anak-anak Palestina diajarkan membenci dan meneror warga sipil Israel," tuturnya memberi alasan.

Mona tak mau kalah. "Bagaimana saya dapat menerima keberadaan sebuah negara menjajah wilayah dan membunuh rakyat kami?" Dia juga membalas tudingan Anav dan menilai Israel lebih pantas disebut teroris lantaran persenjataannya lebih lengkap.

Dia bercerita pula soal penderitaan hidup di Gaza. Pada Mei 2008 dia menderita sakit kepala karena harus belajar dengan penerangan lilin selama beberapa jam. Bahkan bunyi bom mengiringi Mona sedang menulis surat balasan bagi Anav. "Saya mendengar ibu saya bertanya apa yang akan terjadi malam ini?"

Krisis kemanusiaan muncul sejak Hamas menguasai wilayah berpenduduk sekitar 1,5 juta itu pada pertengahan Juni 2007. Sebabnya, Israel mengisolasi Gaza sehingga pasokan bahan makanan, air, listrik, bahan bakar, dan obat-obatan menipis. Tidak puas sampai di situ, tentara Israel juga menyerbu wilayah itu dengan alasan mencari para penembak roket.

Namun Anav menilai blokade itu terpaksa dilakukan karena tidak ada pilihan lain. Bahkan dia balik menuduh Hamas berlaku pengecut lantaran memakai perempuan dan anak-anak sebagai perisai pelindung.

Dia hanya dapat berharap suatu saat kelompok didirikan Syekh Ahmad Yasin itu berhenti menyerang Israel dan lebih menolong rakyat Palestina. "Saya membenci tindakan Hamas namun saya tidak mempercayai kata benci karena tidak produktif membenci orang lain," kata Anav.

Anav pun menggambarkan betapa dia sungguh takut menginap di Sderot lantaran mendengar suara roket terbang di atas atap kamar kosnya. Alhasil, dia memilih menginap di kibbutz atau komunitas pertanian Yahudi terdekat di luar Sderot. "Karena saya tidak bisa lari ke bawah untuk berlindung 15 menit setelah sirene bergaung," ujarnya.

Maklum saja, hampir saban hari pejuang Palestina menembakkan roket Qassam ke kota berpenduduk 19 ribu orang itu. Militer Israel mencatat lebih dari enam ribu roket ditembakkan sejak pecah intifadah kedua pada 2000.

Meski berbeda pandangan, kedua gadis ini menyukai drama karya William Shakespeare. Mona senang Hamlet dan Anav memuji King Lear. Mereka pun mantap meneruskan persahabatan. "Saya ingin mengunjungi Mona jika aman bagi saya sebagai gadis Yahudi," kata Anav.

Satu keluarga miskin di Kota Gaza bepergian menggunakan gerobak keledai, 22 Otober 2012. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Hamas larang warga Gaza jalan-jalan dengan anjingnya

Alasannya bikin perempuan dan anak-anak ketakutan.

Putra dari Jamal, nelayan di Kota Gaza, ini tengah menikmati sarapan berupa roti isi ikan sardencis kecil dan terasa pahit di sebuah pantai di Kota Gaza, Kamis, 25 Oktober 2012. (faisal assegaf/albalad.co)

Masa depan Gaza

Ada lima faktor utama menentukan masa depan Gaza: komitmen dan soliditas Hamas, rekonsiliasi nasional, blokade Israel, sokongan Mesir dan Iran, serta perubahan tatanan global.

Pendiri sekaligus pemimpin senior Hamas di Jalur Gaza Mahmud Zahar tengah memegang senapan AK-47 milik mendiang putranya, Husam, di rumahnya, Kota Gaza, Rabu, 24 Oktober 2012. (faisal assegaf/albalad.co)

Kenangan Perang Gaza

Waktu perang meledak tahun lalu, kediaman Zahar rata dengan tanah akibat gempuran udara Israel.

Pendiri sekaligus pemimpin senior Hamas di Jalur Gaza Mahmud Zahar tengah memegang senapan AK-47 milik mendiang putranya, Husam, di rumahnya, Kota Gaza, Rabu, 24 Oktober 2012. (faisal assegaf/albalad.co)

Terlahir di tengah intifadah

Dalam pertemuan malam itu, ketujuh pemimpin Al-Ikhwan mengambil keputusan bersejarah mengubah organisasi itu menjadi gerakan perlawanan disebut Harakat al-Muqawamah al-Islamiyah atau disingkat Hamas.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Sentuhan Zionis dalam Perang Yaman

Israel secara rahasia menjual senjata dan amunisi kepada Arab Saudi, termasuk bom fosfor merupakan senjata terlarang.

21 November 2018
Nihil Jamal di Istanbul
05 Oktober 2018

TERSOHOR