kisah

Kenangan Perang Gaza

Waktu perang meledak tahun lalu, kediaman Zahar rata dengan tanah akibat gempuran udara Israel.

08 Juli 2015 03:26

Hari ini setahun lalu perang kembali meluluhlantakkan Jalur Gaza. Palagan selama 50 hari di musim panas itu menewaskan lebih dari dua ribu orang dan melukai ribuan lainnya.

Kalau dihitung sejak Israel cabut dari wilayah luasnya setengah lebih sedikit dari Jakarta itu, sudah berkobar tiga kali perang, yakni Desember 2008-Januari 2009, November 2012, dan Juli-Agustus 2014.

Meski Jalur Gaza berjarak sekitar 15.141 kilometer dari Jakarta, daerah sudah dikuasai Hamas sejak delapan tahun lalu itu terasa dekat bagi saya. Sebab saya sudah menekuni isu Palestina lebih dari satu dasawarsa. Bukan sekadar mengikuti perkembangan lewat media, saya juga berhubungan langsung dengan para tokoh pejuang Palestina, terutama dari Hamas.

Saya kenal baik dengan pendiri sekaligus pemimpin senior Hamas di Gaza Mahmud Zahar, Abdul Aziz Duwaik (ketua parlemen Palestina dari faksi Hamas), Ahmad Yusuf (penasihat mantan Perdana Menteri Ismail Haniyah). Meski begitu, saya juga menjalin komunikasi dengan sejumlah pejabat dan tokoh israel. Saya berteman baik dengan Mordechai Vanunu (pembocor program nuklir Israel), Ayelet Shaked (kini menteri kehakiman), Raanan Gissin (bekas penasihat mendiang Perdana Menteri Ariel Sharon).

Karena itu, saban kali perang meletup di Gaza saya memiliki kenangan khusus. Ketika perang pertama berkobar tiga tahun setelah Israel mundur dari sana, saya kehilangan sahabat saya Menteri Dalam Negeri Said Siyam. Kami bertukar kabar terakhir lewat pesan pendek, sehari sebelum Israel melancarkan agresi.

Saat perang melanda Gaza lagi tiga tahun lalu, dua pekan sebelumnya selama dua minggu saya berkeliling Gaza. Selama di sana saya menziarahi kubur mendiang pentolan Hamas: Syekh Ahmad Yasin, Abdul Aziz Rantisi, dan Said Siyam di kompleks pemakaman Syekh Radwan (Kota Gaza) serta Yahya Ayyasy di pekuburan Syuhada (Kota Bait Lahiya).

Saya juga bertamu ke rumah Mahmud Zahar. Kediamannya megah dan nyaman, terdiri dari enam lantai dan memiliki empat mobil, termasuk satu Land Cruiser serta sebuah Mercedes Benz. Rumah itu dijaga ketat 24 jam oleh para pengawal bersenjata Kalashnikov.

Ketika di sana saya menjadi saksi sejarah. Untuk pertama kalinya seorang pemimpin Arab berkunjung Gaza, wilayah diblokade Israel sejak 2007. Lawatan Emir Qatar Syekh Hamad bin Khalifah ats-Tsani pada Oktober 2012 itu untuk meresmikan proyek didanai negaranya senilai US$ 400 juta.

Waktu perang meledak tahun lalu, kediaman Zahar rata dengan tanah akibat gempuran udara Israel. "Rumah saya hancur," katanya saat bisa dihubungi sehabis perang selesai.

Saban kali ada perang para pemimpin Hamas berlindung di tempat khusus. Zahar mengisyaratkan ada bunker buat mereka bersembunyi.

Selain itu, sahabat saya, Hiba Ziad - selalu menangis saban kali menelepon - melahirkan putra pertamanya diberi nama Fadil ketika negara Zionis itu mengamuk dan membantai penduduk Gaza.

Gaza akan selalu berkesan sepanjang hidup saya. Ia bisa membikin saya tertawa sekaligus berduka dalam waktu bersamaan.

Rabbi Avraham Sinai bersama putranya, Amos Sinai, pada Mei 2016 berdiri memandang ke arah Libanon dari wilayah perbatasan di Israel. (Channel 2)

Rabbi pengkhianat Partai Tuhan

Selama sepuluh tahun, Ibrahim Yasin bergabung dengan Hizbullah sekaligus menjadi informan Israel. Sejak 1997, dia dan keluarganya pindah ke Israel.

Gideon Fan, orang Cina berdarah Yahudi, tengah berdoa di Tembok Ratapan di Kota Yerusalem Timur. (Courtesy)

Yahudi bermata sipit

Untuk pertama kalinya militer Israel menerima tujuh orang Yahudi berdarah Cina menjadi tentara.

Putra dari Jamal, nelayan di Kota Gaza, ini tengah menikmati sarapan berupa roti isi ikan sardencis kecil dan terasa pahit di sebuah pantai di Kota Gaza, Kamis, 25 Oktober 2012. (faisal assegaf/albalad.co)

Masa depan Gaza

Ada lima faktor utama menentukan masa depan Gaza: komitmen dan soliditas Hamas, rekonsiliasi nasional, blokade Israel, sokongan Mesir dan Iran, serta perubahan tatanan global.

Logo Mossad. (mysticpolitics.com)

Melawat ke markas Mossad

Mossad hanya memiliki hampir 1.200 pegawai, termasuk sekretaris dan sopir.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Lika-liku pembunuhan Jamal Khashoggi

"Kami mengetahui kapan Jamal (wartawan Saudi Jamal Khashoggi) dibunuh, di ruangan mana dia dibunuh, dan di mana mayatnya dibawa untuk dimutilasi,"

12 Oktober 2018
Nihil Jamal di Istanbul
05 Oktober 2018
Bungkam ulama guncang Al-Haram
26 September 2018

TERSOHOR