kisah

Semarak Ramadan di Baghdad

"Ini tahun pertama kami merasakan kegembiraan Ramadan seperti pernah kami rasakan di 1980-an dan 1970-an," kata Fauziyah.

10 Juli 2015 23:28

Waktu sudah menunjukkan pukul 1:30 dini hari, namun Kafe Aroma masih dipenuhi pengunjung ingin makan sahur.

Para pelayan sigap mengantarkan pesanan sup, teh, dan pipa syisya. Mereka juga terus menjaga persediaan makanan prasmanan berupa daging panggang, salad, buah, dan jus tetap penuh.

Kemeriahan Ramadan di Ibu Kota Baghdad itu baru terasa tahun ini setelah pemerintah Irak menhapus jam malam lima bulan lalu. Larangan keluar malam hingga subuh itu berlaku sehabis invasi Amerika Serikat ke Irak pada 2003.

Ketika warga Baghdad bersuka cita menyambut bulan puasa, rakyat Irak di wilayah lain terpaksa menjalani bulan suci dengan penuh ketakutan, duka, dan air mata lantaran kehadiran milisi ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah).

"Ini tahun pertama kami merasakan kegembiraan Ramadan seperti pernah kami rasakan di 1980-an dan 1970-an," kata Fauziyah, merujuk pada era sekarang disebut warga Baghdad sebagai zaman keemasan. Dia datang ke kedai kopi Aroma bareng kerabat dan iparnya.

Jalan-jalan di kawasan Jadriya di tepi Sungai Tigris ramai oleh lalu lalang mobil. Para pejalan kaki juga hilir mudik menikmati suasana tengah malam relatif dingin dibanding hawa terik di siang hari, suhunya mendekati 50 derajat Celcius.

"Penghapusan jam malam berpengaruh sangat besar...Kehidupan tiba-tiba bergairah lagi," ujar Abbas at-Taii, 46 tahun, sedang menyantap menu sahur bersama enam anggota keluarganya. Warga negara Amerika ini sengaja membawa keluarganya pulang kampung untuk menikmati bulan puasa di Baghdad. "Sekarang ada kehidupan di Baghdad."

Semarak malam Ramadan juga terasa di permukiman Syiah Sadr City. Anak-anak bersepeda, para pemudanya bermain sepak bola, dan kaum lelaki dewasa menggelar permainan tradisional Muhaibis.

Di sebelah barat Tigris, Mal Mansyur kebanjiran pengunjung ingin berbelanja, jalan-jalan, dan menonton film.

Setelah bertahun-tahun dilanda perang dan krisis, warga Baghdad kini bisa menikmati kondisi relatif aman. "Kami haus akan waktu baik seperti ini," ujar Umm Maram, istri Abbas. "2003 hingga 2015 rasanya seperti seumur hidup."

Ali Khamenei (kiri) saat Perang Iran-Irak. (Wikipedia)

Saat Iran dan Israel masih bersahabat

Iran memasok minyak dan balasannya Israel menyuplai senjata.

Basrah pada 1913, dipotret oleh pengusaha Swedia bernama Arne C Waern. (Wikimedia Commons)

Kanal Basrah, riwayatmu dulu

Di awal abad ke-20, tepian kanal-kanal di Basrah - menjadi pintu keluar menuju Teluk Persia - dihuni orang-orang Yahudi, Nasrani, dan muslim dengan damai.

Sheikha Latifa, daughter of Dubai Emir Sheikh Muhammad bin Rashid al-Maktoum, with her Finnish friend, Tiina Jauhiainen. (@detainedindubai for Albalad.co)

Nestapa Syekha Latifah

Bahkan sepanjang hidupnya, Syekha Latifah baru sekali keluar Dubai, yakni saat kabur tahun ini.

Menteri Luar Negeri Qatar Syekh Muhamnad bin Abdurrahman ats-Tsani. (Saudi Gazette)

Duit sebukit tebusan pangeran

Uang tebusan untuk pembebasan rombongan pemburu asal Qatar itu sebesar US$ 1 miliar ditambah US$ 150 juta.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Saat Iran dan Israel masih bersahabat

Iran memasok minyak dan balasannya Israel menyuplai senjata.

01 Agustus 2018
Nestapa Syekha Latifah
25 Juli 2018
Sapa Muqtada
21 Mei 2018

TERSOHOR