kisah

Ongkos mahal menjadi Yahudi sekuler

Dalam masyarakat Haredim semua berbau sekuler dilarang, termasuk radio dan televisi.

22 Juli 2015 09:56

Dua belas tahun lalu Ido Lev, 35 tahun, seperti manusia gua baru pertama ke kota. Dia sama sekali tidak mengenal peradaban modern, seperti bagaimana membuka rekening di bank, berselancar di dunia maya, atau menyewa apartemen.

Dia meninggalkan istri dan dua anaknya dan sempat menggelandang sepekan. Mandi di toilet umum dan tidur di sebuah pusat perbelanjaan. Semua itu demi kebebasan tidak pernah dia rasakan sebelumnya. "Saya merasa seperti orang mabuk akibat kebebasan itu," kata Lev.

Lev tadinya merupakan anggota komunitas Haredim, sebuah kelompok masyarakat Yahudi ultra-ortodoks menjadikan Torah sebagai pegangan hidup. Jumlah mereka sekitar sepuluh persen dari sekitar delapan juta penduduk Israel.

Dalam masyarakat Haredim semua berbau sekuler dilarang, termasuk radio dan televisi. Mereka saling bertukar kabar melalui poster ditempel di tembok jalanan. Lelaki dan perempuan bukan muhrim dilarang berduaan, apalagi berpacaran.

Pernikahan pun diatur dengan sistem perjodohan. Gambar perempuan dilarang tampil di muka umum dan saban hari Sabbath tidak boleh ada yang mengendarai kendaraan.

Rupanya Lev muak dengan kehidupan macam itu. Dia memilih keluar dan menjadi Yahudi sekuler. Dia kini tidak lagi mengenakan setelan jas panjang dan celana serta topi serba hitam. Mahasiswa teknik informatika ini tampil modis, bercelana jins dan berkaus oblong.

Namun harga kebebasan dia raih sangat mahal. Dia ditolak menemui kedua anaknya. Istrinya khawatir Lev akan membujuk mereka keluar dari komunitas Haredim. "Anak-anak, itulah ongkos paling mahal," ujarnya dengan mata menerawang.

Nasib serupa juga dialami Chani Ovadya, perempuan lajang berusia 28 tahun. Orang tuanya tidak mau lagi berbicara atau bertemu sejak dia meninggalkan kehidupan religius pada 2009. "Itu tahun tersulit dalam hidup saya," kata gadis sekarang lebih nyaman tampil bercelana jins, berkaus ketat dan bersepatu berhak tinggi ini.

Fenomena Haredim pembangkang ini sudah berlangsung beberapa dekade. Seperti dikatakan Irit Paneth dari Hillel, sejak 15 tahun lalu pihaknya telah membantu sekitar dua ribu Yahudi ortodoks ingin memasuki dunia sekuler.

Tugas organisasi itu membantu menjalankan praktek hidup dan kesiapan mental. Maklum saja, Haredim murtad itu akan menghadapi penolakan dari keluarga dan komunitas mereka. "Selama bertahun-tahun mereka seperti hidup di antara dua dunia. Mereka seperti mahluk asing," kata Paneth.

Meski risiko dihadapi sungguh berat, Lev tidak menyesal menjadi Yahudi sekuler. Bahkan dia telah mempunyai pacar dan Haredim tinggal kenangan belaka. "Jika Anda tidak punya keyakinan, (tinggal di komunitas Haredim) seperti dalam penjara," ujarnya.

Prasasti soal Kerajaan Himyar di Bir Hima, Arab Saudi. (You Tube)

Kerajaan Yahudi di tanah suci

Arab Saudi dulunya masuk wilayah Himyar, kerajaan Yahudi.

Mariam Halabi di sebuah klinik di Kota Istanbul, Turki, bersama Moti Kahana, pengusaha membantu dia sekeluarga keluar dari Aleppo, Suriah. (Moti Kahana  buat Albalad.co)

Yahudi buncit dari Aleppo

"Saya tidak hanya menolong orang Yahudi. Saya sudah menyumbang US$ 100 ribu hingga US$ 2 juta buat rakyat Suriah," kata Moti Kahana.

Karl Marx, pencipta paham komunis, juga orang Yahudi. (Wikimedia)

Seencer otak Yahudi

Sejak abad pertama, seluruh anak lelaki Yahudi wajib disekolahkan paling lambat umur enam tahun.

Perempuan Haredim di Yerusalem. (Al-Arabiya)

Cinta gadis Yahudi saleha

Orang tua sang gadis menolak Moshe karena dia belajar di sekolah umum dan tidak mengenakan yarmulke.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Saat Iran dan Israel masih bersahabat

Iran memasok minyak dan balasannya Israel menyuplai senjata.

01 Agustus 2018
Nestapa Syekha Latifah
25 Juli 2018
Sapa Muqtada
21 Mei 2018

TERSOHOR