kisah

Seteru dua pangeran

Pangeran Sultan bin Turki menuding Pangeran Abdul Aziz bin Fahad mendalangi penculikan dirinya di Swiss pada 2003.

24 Juli 2015 04:30

Perseteruan sengit dalam keluarga Kerajaan Arab Saudi terbongkar setelah seorang pangeran senior menuding pangeran lainnya mendalangi penculikan, pemberian obat penenang, dan pemulangan paksa dirinya dari Swiss.

Tidak pernah terbayangkan, Pangeran Sultan bin Turki, 47 tahun, telah melaporkan sepupunya, Pangeran Abdul Aziz bin Fahad (putra mendiang Raja Fahad bin Abdul Aziz), 42 tahun, dan Menteri Urusan Islam Arab Saudi Saleh asy-Syekh, kepada pihak berwenang di Swiss. Dia mengklaim mengalami luka serius akibat penculikan pada Juni 2003 itu.

Menurut tim kuasa hukum Pangeran Sultan, Jaksa St├ęphane Grodecki telah memerintahkan pengsutan atas laporan itu. "Sebuah gugatan sudah diajukan atas nama Pangeran Sultan di Jenewa," kata Pierre de Preux, pengacara Pangeran Sultan. "Penyelidikan kriminal sudah dimulai dan tengah berlangsung."

Para jaksa di Swiss tidak mengiyakan atau membantah apakah investigasi atas kasus itu sedang berjalan.

Kedua Pangeran tengah berselisih ini merupakan cucu dari pendiri Arab Saudi Raja Abdul Aziz as-Saud.

The Guardian sudah berusaha mengontak Pangeran Abdul Aziz dan Saleh asy-Syekh, meminta komentar Kedutaan Besar Arab Saudi di London (Inggris) dan Jenewa. Surat kabar terbitan Inggris ini juga berupaya menemui Pangeran Sultan di tempatnya menginap di Hotel George V, Paris.

Hanya ada balasan dari penasihat media Kedutaan Saudi di London. "Saya telah mengirim permintaan Anda kepada orang tepat, tapi ini bukan kewenangan Kedutaan Saudi di Inggris. Itu masalah pribadi bukan urusan kementerian luar negeri."

Pangeran Sultan mengaku kisruh antara dirinya dengan Pangeran Abdul Aziz dipicu oleh kejadian pada Januari 2002. Waktu itu dia menuding terjadi korupsi di kementerian pertahanan dan kementerian dalam negeri.

Pada Mei 2003 dia mengumumkan akan menggelar seminar di Jenewa membahas korupsi di Kementerian Pertahanan Saudi. Sebulan kemudian dia menghadiri acara di sebuah istana milik anggota keluarga Kerajaan Saudi di Collonge-Bellerive, di luar Jenewa, bareng dua tertuduh.

Setelah menghadiri pertemuan tertutup dengan Pangeran Abdul Aziz dan Saleh asy-Syekh, Pangeran Sultan bilang lima lelaki bertopeng muncul dari balik tirai. Mereka menyerang dan memukuli dia hingga pingsan.

Dia lalu dibius, diangkut ke Boeing 747 telah menunggu di bandar udara di Jenewa, lantas diterbangkan ke Riyadh. Dia berada dalam kondisi kritis selama lima hari di ibu kota Arab Saudi itu. Dia lantas dijebloskan ke dalam penjara superketat Hair beberapa bulan sebelum dibebaskan dan menjalani tahanan rumah di Riyadh.

Selain satu pernyataannya kepada stasiun televisi Al-Jazeera di 2004, sampai 2010 tidak terdengar komentar dari Pangeran Sultan ketika dia dipindahkan ke Amerika Serikat untuk menjalani pemulihan.

Menurut Pangeran Sultan, dia kabur dari penjara akhir 2010. Dia kemudian mulai merencanakan mengambil langkah hukum terhadap orang-orang bertanggung jawab atas penculikannya.

Sejak Pangeran Turki bin Abdul Aziz, ayah dari Pangeran Sultan, mengetahui peristiwa itu, perseteruan muncul dalam keluarga kerajaan. Selama bertahun-tahun kedua pihak saling tuduh sehingga upaya perdamaian mandek.

Karena bermasalah dengan anggota keluarga kerajaan, Pangeran Turki hidup terasing bertahun-tahun di Ibu Kota Kairo, Mesir, dan Amerika Serikat. Istrinya asal Maroko dikenal pandai ilmu sihir. Sebelum penculikan, Pangeran Sultan tinggal di Jenewa dalam kondisi buruk.

Sedangkan Pangeran Abdul Aziz tersohor royal dan suka bermain perempuan. Dia memiliki sejumlah jet pribadi dan investasi properti senilai US$ 1 miliar atau kini setara Rp 13,4 miliar di Amerika. Dia memiliki saham di Saudi Oger (konstruksi) dan MBC (media).

Pangeran Sultan diuntungkan lantaran ayahnya dan Raja Salman sama-sama keturunan Raja Abdul Aziz dari ibu Hissa as-Sudairi. Meski Pangeran Abdul Aziz juga berdarah Sudairi, dia kekurangan sokongan dari anggota senior keluarga kerajaan.

Untuk melengkapi laporannya, Pangeran Sultan memberikan data medis. Selain gugatan pidana, dia akan menggugat Pangeran Abdul Aziz secara perdata.

Sejumlah anggota keluarga Kerajaan Saudi pernah menghadapi skandal atau gugatan, namun ini pertama kali anggota senior keluarga kerajaan menuding pangeran lainnya dalam kasus pidana serius di pengadilan Eropa.

Kasus ini bisa memicu ketegangan diplomatik antara Swiss dan Arab Saudi. Pangeran Sultan menuduh banyak lembaga pemerintahan Saudi terlibat dalam penculikan dirinya, termasuk badan intelijen, kementerian dalam negeri, kedutaan besar di Jenewa, Saudi Arabian Airlines, dan beberapa pangeran paling penting dan berpengaruh.

Grodecki mengungkapkan pihaknya sudah meminta keterangan dari para saksi menemani Pangeran Sultan dalam lawatan ke Collonge-Bellerive pada 12 Juni 2003.

UNHCR Eminent Advocate Dato Tahir menggendong Hanan, anak pengungsi Suriah tinggal bersama orang tuanya di sebuah kamp di Distrik Zajla, Lembah Bekaa, Libanon. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Derma Zionis buat pemberontak Suriah

Jumlah senjata dan dana diberikan Israel kepada para pemberontak Suriah kecil ketimbang bantuan diberikan negara-negara lain, termasuk Qatar, Arab Saudi, Turki, dan Amerika Serikat.

Seorang anak penderita kolera di Yaman tengah dirawat. (Al-Jazeera)

Kehormatan Ramadhana martabat Yaman

Mufti Agung Yaman Syekh Syamsuddin telah menyerukan kepada rakyat Yaman untuk berjihad mengusir invasi pasukan koalisi dipimpin Arab Saudi itu.

Syekh Mansur bin Zayid an-Nahyan, pemilik Manchester City. (Luxatic)

Fulus Syekh Mansur sukses City

Selama satu dekade terakhir, Syekh Mansur sudah menghabiskan sekitar US$ 1,5 miliar untuk mengakhiri dominasi tim sekota, Manchester United.

Ali Khamenei (kiri) saat Perang Iran-Irak. (Wikipedia)

Saat Iran dan Israel masih bersahabat

Iran memasok minyak dan balasannya Israel menyuplai senjata.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Derma Zionis buat pemberontak Suriah

Jumlah senjata dan dana diberikan Israel kepada para pemberontak Suriah kecil ketimbang bantuan diberikan negara-negara lain, termasuk Qatar, Arab Saudi, Turki, dan Amerika Serikat.

12 September 2018

TERSOHOR