kisah

Cinta gadis Yahudi saleha

Orang tua sang gadis menolak Moshe karena dia belajar di sekolah umum dan tidak mengenakan yarmulke.

27 Juli 2015 23:08

Satu malam dingin dan berangin pada Desember 2004. Empat gadis remaja memasuki Jerusalem Pizza di kawasan Monsey, New York, Amerika Serikat. Ini restoran cepat saji dengan menu halal atau kosher dalam bahasa Ibrani buat warga Yahudi.

Mereka segera melepaskan mantel dan menuju meja kosong. Tiga orang berseragam Bait Yaakov, sekolah perempuan Yahudi ortodoks di Monsey: sepatu dan kaus kaki panjang berwarna hitam, rok berlipat hampir menyentuh mata kaki, dan kemeja garis-garis vertikal warna biru.

Moshe Schulman, pelayan di restoran itu, masih ingat gadis satunya lagi tampil beda. Dengan rambut pirang dikepang kuda, sepatu karet, kaus kaki pendek berwarna putih, dan rok mini berbahan denim. Atasannya berupa kaus oblong biru terang bertulisan FBI.

Moshe terpana menyaksikan penampilan gadis berambut blonde itu. Maklum saja, dia dibesarkan di lingkungan keluarga Yahudi ultra-ortodoks di daerah Monsey. Sejak dini, dia diajarkan untuk tidak memandang, menyentuh, apalagi berbicara dengan gadis. Para rabbi mengajarkan dia di sekolah menegaskan semua itu baru boleh dikerjakan setelah dia menikah. Persis seperti ajaran Islam, lelaki dilarang memandangi, menyentuh, atau berbicara dengan perempuan bukan muhrimnya.

Pandangannya berubah setelah orang tuanya bercerai saat dia berusia 16 tahun. Moshe keluar dari yeshiva (sekolah seminari Yahudi) Meshivta of North Jersey dan pindah ke sekolah umum di SMA East Ramapo. Dia kelihatan canggung. Ini pertama kali dalam hidupnya tidak ada rabbi mengatur apa mesti dia makan atau pakai dan siapa bisa diajak bicara.

Sambil mencuri pandang, Moshe memperhatikan gadis berkaus FBI itu melahap pizza. Dia mencoba menerka-nerka kenapa si cantik itu berbeda dengan ketiga temannya. Dia berharap pujaannya itu berpandangan sekuler, seperti cara berpakaiannya. "Matanya bagai kristal berwarna biru dan senyumnya sangat manis. Mungkin ini namanya jatuh cinta," ujar Moshe mengenang.

Besok malamnya, ketika sedang beres-beres di restoran, terdengar bunyi telepon. Seorang gadis memberitahu perempuan berkaus FBI itu mengaku suka kepada dirinya. Senang bercampur terkejut, Moshe lantas berbicara dengan cinta pada pandangan pertamanya itu. Mereka lalu bertukar nomor telepon. Moshe berjanji menelepon setelah tiba di rumah. Saking senangnya, dia mengepalkan tinju ke udara sambil berteriak "Ya!"

Tiba di rumah, Moshe langsung menghubungi pujannya itu. Sang gadis mengungkapkan FBI itu singkatan dari hebat, cantik, dan pintar (Fabulous, Beautiful, and Intelligent). Bukan nama biro penyelidik federal Amerika.

Dia mengaku membenci seragam sekolahnya, orang tua, dan lingkungan Yahudi ortodoks. Dua sejoli dimabuk asmara ini saling memuji ketampanan dan kecantikan masing-masing.

Karena sudah larut malam, obrolan dihentikan. Moshe sebenarnya ingin berbincang terus sampai pagi. Selepas itu, dia tidak bisa tidur. Wajah dan senyum manis sang gadis menari-nari dalam khayalannya.

Sepekan kemudian, gadis itu menghubungi Moshe. Dia mengadu ibunya sudah dapat bocoran dari tetangganya kalau putrinya itu sering mengobrol dengan Moshe saban malam di telepon, kecuali Sabtu. Maklum, itu hari suci bagi orang Yahudi. Mereka dilarang berkegiatan apa pun. Tidak boleh bekerja, menyalakan api, atau memasak.

Dia juga bilang ibunya mengancam merampas telepon selulernya kalau masih menghubungi Moshe. Keduanya lantas membuat rencana bertemu pada Sabtu sore di Bait Rochel, yeshiva khusus perempuan.

Di hari disepakati, sang gadis sudah menunggu, duduk di atas batu di depan yeshiva. Dia mengenakan mantel dan baju terusan berwarna hitam. Hidung dan kedua pipinya merona kemerahan. Moshe lantas mengajak dia duduk di lapangan rumput di belakang sekolah. Nafasnya memburu, dia ingin sekali mencium gadis itu, seperti teman-teman sekolahnya dan adegan film.

Hari menjelang malam. Gadis itu buru-buru bangkit. Moshe mengungkapkan dirinya takut itu pertemuan terakhir mereka. Keduanya lantas berpelukan. Harum rambut sang gadis kembali menggoda Moshe. Dia berterus terang ingin mencium pujaannya itu.

Permintaan itu dikabulkan dengan syarat hanya pipi, bukan ciuman bibir. "Seperti pemuda baik," kata gadis itu. Setelah mendaratkan ciumannya di pipi sang kekasih, mereka lantas berjalan bergandengan tangan meninggalkan lokasi.

Setelah tiba di tempatnya bekerja pada Sabtu malam, Moshe kedatangan tamu, pasangan suami istri. Mereka duduk di meja pernah diduduki gadis berkaus FBI bersama ketiga temannya. Ibu itu mendekati Moshe dan mengatakan mereka ingin berbicara persoalan pribadi. Ternyata mereka adalah orang tua kekasihnya.

Moshe pun duduk berhadapan dengan keduanya. Ayah sang gadis hanya memainkan janggut tebal dan panjangnya. Obrolan dimulai oleh istrinya. Dia mengaku tidak suka Moshe berhubungan dengan putrinya lantaran dia bukan pemuda saleh: belajar di sekolah umum dan tidak memakai yarmulke (peci khas Yahudi). "Saya benar-benar tidak suka," dia menegaskan.

Si ibu meminta Moshe menghubungi putrinya. Dia diperintahkan memutus hubungan. "Saya tidak bisa melakukan itu," kata Moshe.

Ayah sang gadis akhirnya nimbrung. "Putri saya gadis saleha, sedangkan kamu bukan. Hubungan ini tidak boleh berlanjut."

Dengan menahan kemarahan, Moshe meninggalkan calon mertuanya itu.

Besok paginya, gadis itu menghubungi Moshe lewat telepon rumah sebab orang tua sudah mengambil telepon selulernya. Dia minta maaf atas kejadian semalam. Belum habis pembicaraan, ayah sang gadis berteriak agar putrinya itu menutup telepon. "Tinggalkan saya," teriak gadis itu.

"Tutup telepon itu," ayahnya membalas dengan suara lantang. Tak lama kemudian, telepon dibanting.

Moshe berupaya melupakan gadis itu, namun sangat sulit. Setelah dua pekan, dia sadar tidak akan bisa memiliki pujaannya itu kalau dia tidak mau menjadi Yahudi ortodoks. Dia pun belajar melupakan gadis berkaus FBI itu dan mulai berbicara dengan gadis-gadis di sekolahnya.

Prasasti soal Kerajaan Himyar di Bir Hima, Arab Saudi. (You Tube)

Kerajaan Yahudi di tanah suci

Arab Saudi dulunya masuk wilayah Himyar, kerajaan Yahudi.

Mariam Halabi di sebuah klinik di Kota Istanbul, Turki, bersama Moti Kahana, pengusaha membantu dia sekeluarga keluar dari Aleppo, Suriah. (Moti Kahana  buat Albalad.co)

Yahudi buncit dari Aleppo

"Saya tidak hanya menolong orang Yahudi. Saya sudah menyumbang US$ 100 ribu hingga US$ 2 juta buat rakyat Suriah," kata Moti Kahana.

Karl Marx, pencipta paham komunis, juga orang Yahudi. (Wikimedia)

Seencer otak Yahudi

Sejak abad pertama, seluruh anak lelaki Yahudi wajib disekolahkan paling lambat umur enam tahun.

Perempuan Haredim di Yerusalem. (Al-Arabiya)

Ongkos mahal menjadi Yahudi sekuler

Dalam masyarakat Haredim semua berbau sekuler dilarang, termasuk radio dan televisi.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Sapa Muqtada

Ali Akbar Velayati, penasihat utama Pemimpin Agung Iran Ali Khamenei, Februari lalu bilang Teheran akan mencegah Sadr dan aliansi politiknya memerintah Irak.

21 Mei 2018

TERSOHOR