kisah

Tanah dijanjikan Tuhan jadi rebutan

Menurut survei, warga Palestina di Yerusalem Timur lebih suka Yerusalem jadi ibu kota Israel.

29 Juli 2015 23:37

Sekali lagi, pemimpin Israel menegaskan Yerusalem adalah milik mereka. "Tembok Ratapan telah menjadi milik kami selama tiga ribu tahun. Dinding ini dan negara Israel akan tetap menjadi milik kami selamanya," kata Perdana Menteri Benjamin Netanyahu tiga tahun lalu, pada puncak perayaan hari suci Hanukkah di Kotel, berarti Tembok Ratapan dalam bahasa Ibrani.

Tembok ini berada dalam kompleks Masjid Al-Aqsa. Kaum Yahudi sejagat menganggap sebagai tempat suci mereka. Mereka meyakini dinding itu sisa dari Kuil Sulaiman Kedua setelah yang pertama dihancurkan. Hanukkah memang diperingati buat mengenang kuil suci itu.

Bukan hanya Tembok Ratapan di Yerusalem. Kota tua nan bersejarah ini juga menjadi kota suci bagi penganut Nasrani dan Islam. Sebab di sana terdapat pula Masjid Al-Aqsa (berkubah hijau, sedang Masjid Umar atau Masjid Kubah Batu berkubah emas) pernah menjadi kiblat pertama kaum muslim.

Dari masjid ini pula, Nabi Muhammad melaksanakan mikraj setelah isra dari Masjid Al-Haram di Kota Makkah. Sedangkan orang Kristen memiliki Gereja Makam Yesus. Mereka juga bisa menziarahi rute perjalanan Yesus hingga tiang salib di Bukit Golgota.

Pantas saja Yerusalem kerap menjadi rebutan. Posisinya sangat bergengsi bagi tiga agama samawi itu. Perserikatan Bangsa-Bangsa menyatakan Yerusalem di bawah kontrol mereka. Namun negara Zionis itu mencaplok kota ini selepas menang Perang Enam Hari 1967.

Knesset (parlemen Israel) merestui penguasaan itu lewat Hukum Dasar Yerusalem disahkan pada September 1980. Undang-undang itu menegaskan Yerusalem adalah ibu kota abadi Israel dan tidak dapat dibagi dua dengan negara mana saja, termasuk Palestina. Sejak itu, semua kantor pemerintah, termasuk istana presiden dan kediaman resmi perdana menteri Israel, dipindah dari Tel Aviv ke Yerusalem Barat.

Para pemimpin dan rakyat Palestina disokong umat Islam ingin menjadikan Yerusalem Timur sebagai ibu kota negara itu nantinya. Karena itu, status Yerusalem Timur selalu menjadi agenda utama saban perundingan antara Palestina dan Israel. "Kami bersumpah terus berjuang buat menguasai Al-Aqsa (Yerusalem)," ujar pemimpin senior Hamas di Jalur Gaza Mahmud Zahar kepada Albalad.co tiga tahun lalu.

Meski begitu, hasil jajak pendapat dilaksanakan Pechter Middle East Polls awal Januari 2011 bisa membikin kita kaget. Hanya 30 persen responden ingin menjadi warga Palestina, sedangkan 35 persen lebih memilih bergabung dengan negara Zionis. Sisanya belum dapat memutuskan.

Bila Yerusalem ditetapkan sebagai ibu kota Palestina, 40 persen orang Palestina di Yerusalem Timur ingin pindah ke wilayah Israel, hanya 37 persen memilih bertahan di sana. Sebagai perbandingan, jika Yerusalem menjadi ibu kota Israel, cuma 27 persen akan pindah ke wilayah Palestina dan 54 persen lainnya menyatakan bakal tetap bermukim di kota itu.

Mereka memilih menjadi warga Palestina lantaran alasan nasionalisme dan patriotisme. Orang Palestina tertarik menjadi warga Israel karena kebebasan, pendapatan lebih tinggi, kesempatan memperoleh pekerjaan lebih besar, dan asuransi kesehatan. Namun dua kelompok ini sama-sama cemas bakal kehilangan akses ke Masjid Al-Aqsa.

Kedua golongan ini punya kekhawatiran sendiri. Mereka ingin menjadi warga Palestina takut bakal sulit mendapat pekerjaan dan tidak bisa masuk ke Israel, tidak mendapat layanan kesehatan, menganggur, dan pelbagai kesulitan lainnya. Orang Palestina ingin bergabung dengan Israel juga resah akan diskriminasi, sulit memperoleh izin mendirikan bangunan, dan sukar mengunjungi kerabat di Palestina.

Dr David Pollock, peneliti senior di the Washington Institute, menegaskan hasil survei itu layak dipercaya. "Saya mengira para pemimpin Palestina tidak akan terlalu suka dengan hasil ini," katanya kepada surat kabar Haaretz.

Dia menjelaskan hasil survei itu menjadi pekerjaan rumah bagi kedua pihak bertikai. Palestina harus bisa meyakinkan kalau Yerusalem menjadi wilayah mereka, semua keuntungan diperoleh orang Palestina selama ini bisa tetap terpelihara, bahkan kalau bisa kian meningkat.

Israel pun harus bisa memastikan jika Yerusalem benar-benar sah milik mereka, orang Palestina tidak bakal menjadi warga negara kelas dua seperti selama ini terjadi.

Tentu saja negara Bintang Daud ini tidak akan rela mengabulkan tuntutan Palestina itu. Semasa Yasir Arafat masih hidup, Israel pernah mengusulkan Abu Dis, di luar Yerusalem Timur, sebagai ibu kota alternatif Palestina.

Kalau menjadikan agama dan sejarah sebagai alasan buat mengklaim Yerusalem, semua itu masih bisa diperdebatkan. Dasar paling logis mengenai perebutan Yerusalem lantaran kota suci ini memiliki nilai ekonomi tinggi.

Statusnya sebagai kota suci bagi kaum muslim, Yahudi, dan Nasrani membuat Yerusalem seperti Makkah dan Madinah di Arab Saudi. Tanpa perlu promosi, orang bakal berlomba-lomba saban tahun berziarah ke Yerusalem. Yang muslim menengok Masjid Al-Aqsa, Nasrani menziarahi Gereja Makam Yesus, dan orang Yahudi berdoa di Tembok Ratapan.

Tentu saja banjir peziarah ini membuat negara menguasai Yerusalem memperoleh pemasukan. Dalam tulisan berjudul The Economics of Jerusalem, Laila Farsakh dari Universitas Massacusetts, Boston, Amerika Serikat, menyebut pendapatan dari sektor wisata saban tahun US$ 2,4 miliar hingga US$ 4,5 miliar.

Angka itu sama dengan empat persen dari Produk Nasional Bruto Israel. Raihan ini juga seperlima dari jumlah pemasukan Kota Yerusalem.

Kedua pihak dipastikan akan terus mempertahankan klaim masing-masing atas Yerusalem. Alhasil, konflik berkepanjangan antara kedua bangsa sangat mungkin tidak akan pernah berakhir hingga kiamat. Cuma Tuhan bisa memutuskan siapa paling berhak atas Yerusalem.

Baca juga:

Fulus judi permukiman Yahudi

Dolar Amerika pemukim Yahudi

Yerusalem milik bangsa Yahudi dan Arab

Netanyahu believes that Trump is behind him

Bendera putih buat Palestina

Mestinya para pemimpin negara muslim mengibarkan bendera putih dalam memperjuangkan Palestina kalau tidak berani mengambil langkah dramatis dan luar biasa seperti dilakukan Trump.

Mufti Yerusalem Syekh Muhammad Husain. (Channel 2)

Trump berencana hadiri peresmian Kedutaan Besar Amerika di Yerusalem

Peresmian Kedutaan Amerika itu akan dilakukan bertepatan dengan ulang tahun ke-70 berdirinya negara Israel.

Kiri ke kanan: Direktur Jenderal Multilateral Kementerian Luar Negeri Hasan Kleib, Duta besar Indonesia untuk PBB Desra Percaya, dan Menteri Luar negeri Palestina Riyad al-Maliki saat menggelar jumpa pers di hari pertama konferensi soal Yerusalem di Jakarta, 14 Desember 2015. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Indonesia tidak berdaya soal rencana Amerika membuka kedutaan di Yerusalem

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi memilih bungkam dan pergi ketika ditanya apa yang akan dilakukan pemerintah Indonesia menghadapi rencana Amerika itu.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tengah membahas rencana pertemuan dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di gedung Putih pada Senin, 5 Maret 2018, waktu Washington DC. (Twitter/@netanyahu)

Trump berencana hadiri peresmian Kedutaan Amerika di Yerusalem

Netanyahu membandingkan deklarasi Trump di awal Desember tahun lalu ini seperti Deklarasi Balfour 1917 dan pengakuan Presiden Amerika Harry Truman atas negara Israel pada 1948.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Lika-liku pembunuhan Jamal Khashoggi

"Kami mengetahui kapan Jamal (wartawan Saudi Jamal Khashoggi) dibunuh, di ruangan mana dia dibunuh, dan di mana mayatnya dibawa untuk dimutilasi,"

12 Oktober 2018
Nihil Jamal di Istanbul
05 Oktober 2018
Bungkam ulama guncang Al-Haram
26 September 2018

TERSOHOR