kisah

Burger cepat saji ala negeri Mullah

Bermerek Masy Donald's bukan McDonald's.

05 Agustus 2015 04:26

Walau badut itu tersenyum, simbol kecintaan Setan Besar akan burger dan kentang, tidak ada gerombolan orang marah sambil mengepalkan tinju mereka ke udara dan berteriak, "Mampus Amerika." Juga tidak ada bau bendera negara ini terbakar di sebuah kawasan di Ibu Kota Teheran.

Yang tercium aroma lezat burger tengah menari di atas telapak tangan remaja Iran ceria bernama Jahan. Dapurnya dipenuhi tempelan logo mirip lambang McDonald's, jaringan restoran cepat saji kenamaan asal Amerika.

Tapi jangan salah sangka, belum ada satu pun restoran McDonald's dibuka di Teheran. Namun kesepakatan nuklir tercapai dengan negara-negara Barat bulan lalu boleh jadi bisa mengubah sikap revolusi rakyat Iran terhadap perusahaan-perusahaan negara Abang Sam itu.

Ini adalah Masy Donald's, restoran burger cepat saji ala negeri Mullah.

"Kami berusaha semirip mungkin dengan McDonald's," kata Hasan, pemilik restoran Masy Donald's. Dia menolak memberitahu nama keluarganya karena takut dengan kalangan garis keras Iran dan gugatan dari pengacara merek dagang Amerika.

Dia sedang menata kursi-kursi plastik merah buat pengunjung di luar restorannya. Di sana juga diletakkan tong sampah berwarna kuning mengkilat.

Masy Donald's dan budaya kuliner Amerika lainnya kini menjajah jalanan di kota-kota besar di seantero Iran. Mereka menjadi simbol perlawanan terhadap paham anti-Amerika telah mencekoki rakyat Iran selepas kemenangan Revolusi Islam pada 1979 meruntuhkan rezim Syah Pahlevi.

Ideologi anti-Barat ini bakal makin terdesak bila pelaksanaan perjanjian nuklir diteken bulan lalu di Ibu Kota Wina, Austria, berhasil dan perusahaan-perusahaan Barat kembali hadir di negara Persia itu.

Para pemimpin Iran berharap perusahaan-perusahaan minyak raksasa datang berinvestasi. Iran juga perlu ratusn pesawat penumpang dan ingin bekerja sama untuk industri-industri berteknologi mutakhir.

Namun kaum konservatif memperingatkan kehadiran orang asing bersama fulus dan gagasan berbeda bisa melemahkan pandangan hidup bikinan negara. Pesan mereka: warga asing boleh datang tapi mereka tidak boleh membawa simbol kapitalisme.

Jadi ketika McDonald's mengumumkan di situs resmi mereka akan membuka cabang di Iran, kehebohan melanda negara Mullah itu. Sejumlah politikus buru-buru menegaskan tidak akan ada McDonald's di Iran.

Ini mirip pernyataan Menteri Kebudayaan dan Bimbingan Islam Iran Sayyid Muhammad Husaini saat diwawancarai Albalad.co tiga tahun lalu. Dia menegaskan tidak akan pernah ada KFC (Kentucky Fried Chicken), jaringan restoran cepat saji juga asal Amerika, di Iran. "Tidak ada dan kami tidak akan memberi izin." Dia bercerita dulu pernah ada KFC di negaranya namun ditutup.

McDonald's lalu berusaha meredam polemik namun bukan berarti membunuh keinginan membuka gerai pertama di Iran. "Kami belum menentukan tanggal pasti untuk membuka restoran McDonald's di Iran," kata pihak manajemen lewat situs resmi mereka. McDonald's mengundang para investor Iran tertarik membuka waralaba untuk melengkapi aplikasi

Gholamali Haddad Adil, anggota parlemen berpengaruh, mengaku cemas melihat berita di halaman depan sejumlah surat kabar terbitan Iran membahas kemungkinan Iran tidak lama lagi kebanjiran perusahaan asing. "Di mana berita soal rakyat Yaman tertindas? Mereka cuma bicara tentang akan kembalinya McDonald's," tutur Adil kepada situs konservatif Khabaronline. "Kebohongan ini berbahaya. Mereka membuka tangan lebar-lebar untuk Amerika Serikat."

Sebelum Revolusi Islam 1979 meletup di Iran, terdapat sejumlah gerai McDonald's di sana.

Pada 1994 seorang pengusaha Iran nekat membuka restoran burger cepat saji itu. Baru dua hari tempat usahanya itu dibakar dan pengadilan menganulir keputusan Kementerian Kesehatan mengizinkan pembukaan restoran McDonald's.

"Bila saya memakai nama McDonald's untuk restoran saya, golongan garis keras bakal datang," kata Hasan, mengenakan topi merah berlogo M. "Jadi putra saya menyarankan menggunakan nama Masy Donald's. Kedengarannya sama."

Sejumlah pejabat pemerintah pernah datang buat menanyakan pemakaian nama Masy Donald's karena terlalu Barat. "Akhirnya mereka juga terbiasa dengan merek itu," ujarnya.

Tidak ada satu pun restoran Amerika di Iran. Yang bermunculan adalah pelesetan mereka. Selain Masy Donald's untuk McDonald's, ada K.F.C (Kabuki Fried Chicken), Pizza Hat, dan Burger House.

Pemerintah boleh saja antiproduk Amerika, tapi barang-barang bikinan negara adidaya itu menjamur di Iran. Sebut saja minuman ringan bermerek Pesi dan Cola. Juga iPhone dan Nike.

Hasan mengakui penggunaan lambang McDonald's memang buat menarik pelanggan. "McDonald's berarti kualitas. Rakyat Iran juga kenal produk ini," kata Hasan.

Tapi jangan salah sebut. Bila ingin makan burger di Teheran, Masy Donald's jagoannya, bukan McDonald's.

Nura, bukan nama sebenarnya, menjadi cacat akibat serangan udara pasukan koalisi Arab Saudi di Yaman pada 2015. (Save the Children)

Sentuhan Zionis dalam Perang Yaman

Israel secara rahasia menjual senjata dan amunisi kepada Arab Saudi, termasuk bom fosfor merupakan senjata terlarang.

Pangeran Ahmad bin Abdul Aziz dari Arab Saudi. (huseofsaud.com)

Berpadu buat kudeta putera mahkota

Pangeran Ahmad bin Abdul Aziz pulang dengan misi menggulingkan Pangeran Muhammad bin Salman. Dia mendapat jaminan keamanan dari Amerika dan Inggris.

Wartawan pengkritik Arab Saudi Jamal Khashoggi. (Twitter)

Lika-liku pembunuhan Jamal Khashoggi

"Kami mengetahui kapan Jamal (wartawan Saudi Jamal Khashoggi) dibunuh, di ruangan mana dia dibunuh, dan di mana mayatnya dibawa untuk dimutilasi,"

Pangeran Sultan bin Turki (Hugh Miles)

Jejak gelap pengkritik penguasa negara Kabah

Sejak Pangeran Muhammad bin Salman menjadi putera mahkota pada 21 Juni lalu, Arab Saudi kian getol menangkapi para pembangkang, termasuk ulama.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Sentuhan Zionis dalam Perang Yaman

Israel secara rahasia menjual senjata dan amunisi kepada Arab Saudi, termasuk bom fosfor merupakan senjata terlarang.

21 November 2018
Nihil Jamal di Istanbul
05 Oktober 2018

TERSOHOR