kisah

Ribut sampah Beirut

Warga Beirut marah karena bau busuk menyebar akibat gunungan sampah di seantero ibu kota Libanon itu.

07 Agustus 2015 17:41

Dalam keadaan normal, saban malam akhir pekan para pengunjung Floyd the Dog, bar di salah satu kawasan paling gaduh di Ibu Kota Beirut, Libanon, luber hingga ke tepi jalan. Sambil menenggak botol minuman di tangan dan mengisap rokok, mereka menikmati udara malam nan hangat.

Tapi Sabtu malam di akhir Juli lalu, sejumlah kecil pelanggan setia bar itu memilih di dalam saja dengan jendela bar ditutup. Sebuah kipas baru dipasang dibiarkan berputar terus agar aroma busuk dari luar tidak masuk.

Di seberang jalan tumpukan sampah memenuhi tiga truk. Setelah sepekan dibiarkan saja, bau menyengat itu secara drastis membalik keberuntungan Floyd the Dog.

"Padahal Sabtu malam sebelumnya di waktu seperti sekarang kami kebanjiran pengunjung," kata pelayan bernama Ibrahim Kadi. "Tapi pekan ini berubah menjadi petaka."

Libanon kini mengalami krisis sampah. Tumpukan sampah menggunung di seantero Beirut dan sekitarnya. Banyak warga Libanon menilai hal ini sebagai bukti baru tidak berfungsinya pemerintahan. "Ini sebuah tanda sangat penting betapa tidak berjalan dan tidak mampunya pemerintah menangani masalah mendasar penduduk," kata Mario Abu Zaid, peneliti di the Carnegie Middle East Center di Beirut.

Di pelbagai wilayah di Beirut, sampah mengambil sisi jalan dan tempat parkir mobil. Para pejalan kaki mesti menutup hidung mereka dan menahan rasa mual akibat abu busuk berembus hingga ke rumah-rumah. Para pekerja di ruang terbuka, seperti petugas parkir dan karyawan pompa bensin, wajib menggunakan masker buat menahan tusukan aroma tidak sedap.

Abu Zaid menegaskan krisis sampah iniĀ  menunjukkan pemerintah juga tidak mampu menyelesaikan persoalan lain. "Jika masalah lokal saja mereka tidak berfungsi dan sepakat, bagaimana mereka bisa sepakat soal isu lebih besar?"

Perang saudara di negara tetangga Suriah dan lebih dari 1,2 juta pengungsi lari ke Libanon membebani perekonomian dan kemampuan pemerintah memberikan layanan.

Pertikaian politik menyebabkan Libanon tanpa presiden selama 14 bulan terakhir. Parlemen ada sekarang memperpanjang mandat sendiri mestinya berakhir tahun lalu lantaran tidak tercapai kesepakatan mengenai beleid untuk menggelar pemilihan umum.

Tidak berfungsinya sistem politik bukan barang baru di Libanon, negara berpenduduk 4,2 juta orang sebelum pecah perang di Suriah. Sejak perang saudara di Libanon berakhir pada 1990, partai-partai politik berhaluan sektarian kerap berkompromi untuk memerintah negara ini.

Meledaknya krisis sampah merupakan contoh mutakhir dari ketidakberdayaan pemerintah mencari penyelesaian jangka panjang atas sebuah masalah.

Hampir selama dua dasawarsa, sampah dari Beirut dan wilayah tengah Libanon diangkut ke tempat pembuangan di Naimah, kota kecil di selatan ibu kota, walau kapasitasnya sudah tidak memadai.

Masyarakat di sekitar lokasi pembuangan sampah sudah mengeluhkan bau tidak sedap dan masalah kesehatan. Tahun lalu, untuk memprotes perpanjangan kontrak, penduduk setempat menutup jalan masuk ke tempat pembuangan akhir itu. Akibatnya sampah menumpuk hingga ke jalan-jalan di seluruh Beirut.

Pengunjuk rasa membuka blokade jalan sepekan kemudian, setelah pemerintah meyakinkan mereka tahun depan akan mencari lokasi baru. Namun itu janji gombal. Walau sudah diberi tambahan waktu dua sampai tiga bulan, pemerintah gagal menemukan tempat alternatif.

Akhirnya 17 Juli lalu demonstran kembali turun ke jalan dan memblokir akses ke tempat pembuangan akhir. Mereka bilang tidak lagi percaya kepada pemerintah. Mereka bersumpah terus berunjuk rasa sampai pemerintah bisa menyelesaikan krisis sampah ini.

Rapat kabinet bulan lalu membahas isu ini dan ditunda tanpa ada perkembangan. Pemerintah sudah mengumumkan bakal mengangkut semua sampah di Beirut ke lokasi dirahasiakan. Penduduk di sekitar tempat pembuangan baru itu akan diberi uang kompensasi. Namun tidak jelas apakah hal ini bakal menyelesaikan krisis.

"Anda tidak bisa membiarkan sampah-sampah itu berserakan di jalan," ujar Karim al-Jisr, direktur regional untuk lembaga konsultan lingkungan Ecodit. "Kerugian ekonomi dan dampak sosialnya sangat besar."

Sejumlah politikus menuding Suklin, perusahaan pengangkutan sampah disewa pemerintah, menggunakan isu ini buat menekan pemerintah agar memberi kontrak baru dengan nilai lebih besar. Kontrak lama mereka selesai 17 Juli lalu tapi mereka tetap beroperasi.

Bahkan pemimpin Hizbullah Hasan Nasrallah menuding krisis sampah ini adalah kegagalan terbesar pemerintah. Dia mengaku malu membahas masalah ini.

Akhir bulan lalu ratusan demonstran turun ke jalan-jalan di Beirut. Sebagian melemparkan kantong berisi sampah ke arah aparat keamanan berjaga dengan barikade kawat berduri. "Saya ke sini bukan hanya karena sampah, tapi juga lantaran masalah air dan listrik," tutur pengunjuk rasa bernama Azza Kabbani.

Dia mengatakan bau busuk sampah di jalan-jalan di Beirut sudah mampir ke rumahnya. "Kami mencium bau sampah dalam rumah kami. Mereka lalu membakar dan kami mencium bau busuk dari plastik."

Banyak dari warga Libanon mengunggah foto tumpukan sampah dekat rumah mereka ke media sosial. Atau berfoto selfie bareng petugas pengangkut sampah berseragam biru.

Kadi bilang seorang pengusaha pernah menyewa seorang pria untuk membersihkan tumpukan sampah menggunakan traktor kecil. Tapi bau superbusuk membikin dia sakit sebelum pekerjaan itu selesai.

Bartender ini kurang yakin pemerintah bisa menyelesaikan krisis sampah. "Mereka tidak akan pernah menemukan solusi," katanya. "Mereka hanya menempelkan plester di atas luka meski kondisinya kritis."

Kalau begitu sampah di Beirut akan terus membikin ribut.

UNHCR Eminent Advocate Dato Tahir menggendong Hanan, anak pengungsi Suriah tinggal bersama orang tuanya di sebuah kamp di Distrik Zajla, Lembah Bekaa, Libanon. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Derma Zionis buat pemberontak Suriah

Jumlah senjata dan dana diberikan Israel kepada para pemberontak Suriah kecil ketimbang bantuan diberikan negara-negara lain, termasuk Qatar, Arab Saudi, Turki, dan Amerika Serikat.

Seorang anak penderita kolera di Yaman tengah dirawat. (Al-Jazeera)

Kehormatan Ramadhana martabat Yaman

Mufti Agung Yaman Syekh Syamsuddin telah menyerukan kepada rakyat Yaman untuk berjihad mengusir invasi pasukan koalisi dipimpin Arab Saudi itu.

Syekh Mansur bin Zayid an-Nahyan, pemilik Manchester City. (Luxatic)

Fulus Syekh Mansur sukses City

Selama satu dekade terakhir, Syekh Mansur sudah menghabiskan sekitar US$ 1,5 miliar untuk mengakhiri dominasi tim sekota, Manchester United.

Ali Khamenei (kiri) saat Perang Iran-Irak. (Wikipedia)

Saat Iran dan Israel masih bersahabat

Iran memasok minyak dan balasannya Israel menyuplai senjata.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Derma Zionis buat pemberontak Suriah

Jumlah senjata dan dana diberikan Israel kepada para pemberontak Suriah kecil ketimbang bantuan diberikan negara-negara lain, termasuk Qatar, Arab Saudi, Turki, dan Amerika Serikat.

12 September 2018

TERSOHOR