kisah

Lonte Teheran

"Menjadi pelacur banyak dapat uang. Meski dipenjara sepuluh kali lagi, saya tidak akan berhenti melacur," tutur Sheyda.

05 Januari 2015 05:10

Iran dikenal sangat ketat menerapkan syariat Islam. Lelaki dan perempuan bukan muhrim dilarang berduaan. Kalau ketahuan berzina hukuman mati ganjarannya.

Tapi bukan berarti tidak ada pelacuran di negeri Mullah itu. Mona, 22 tahun, contohnya. Dia sudah menjual diri di Ibu Kota Teheran sejak tiga tahun lalu. Pemicunya masalah keluarga dan tidak punya fulus. Setelah bertengkar hebat dengan ibunya, dia lari dari rumah dan menumpang tinggal di salon milik temannya.

Di sanalah Mona bertemu perempuan cantik berumur 45 tahun. Zari namanya. Dia lantas mengundang Mona ke kediamannya. Dia lalu menyarankan Mona melacur untuk mendapatkan uang. Namun dia tidak memaksa Mona. Dia hanya mengantarkan Mona ke calon pelanggan. Jika sreg Mona bisa melayani pelanggan.

Konsumen pertama Mona adalah pemuda bernama Hamid. Setelah sepakat dengan bayaran US$ 17 sejam, keduanya berkencam dua jam di rumah Hamid.

Sekarang ini pelanggan Mona beragam, mulai pemuda 16 tahun hingga pria beristri berusia setengah abad. Zari mengatur semua itu dan dia mendapat sepertiga dari bayaran Mona."Mulanya benar-benar menakutkan namun sekarang hal paling saya khawatirkan tertular penyakit kelamin," kata Mona. "Saya sering lelah jika bercinta dengan gaya tidak lazim dan saya benci, tapi saya mesti menuruti keinginan pelanggan."

Meski bercap buruk, pelacuran menjadi masalah tengah berkembang di kota-kota besar seantero Iran. Masyarakat segan untuk mengakui dan membahas persoalan ini. Prostitusi itu berlangsung sangat tertutup. "Tidak ada catatan statistik mengenai perilaku buruk mereka," ujar Farid Masudi, direktur unit penyakit sosial di organisasi kesehatan nasional Iran. "Tidak ada cara buat mengetahui apa yang terjadi dengan perempuan-perempuan ini dan mahasiswa ingin melakukan riset soal ini dilarang."

Meski kekurangan data menyeluruh tentang prostitusi, studi dilakukan lembaga kesehatan, universitas, dan penjara mengisyaratkan kebanyakan lonte di Teheran adalah pelajar atau mahasiswi.

Laila, 19 tahun, pengidap HIV, mulai melacur ketika berumur 17 tahun. Dia kerap menggaet pelanggan lewat Facebook. Dia amat tersohor di kalangan lelaki sudah menikah karena mau melayani gaya bercinta aneh-aneh.

Walau sudah terinfeksi HIV, dia sering tidak memakai kondom saat bercinta dengan konsumennya. Dia biasa mendapat bayaran US$ 17-33. Dia mengaku pernah hamil sekali. Dia menggugurkan kandungannya saat baru berusia dua bulan atas bantuan teman-temannya.

Laila bercerita dia tercebur menjadi lonte setelah ditinggal pacar pertamanya. Dia benar-benar depresi akibat pengalaman itu. "Sebenarnya tidak menyenangkan tapi saya tidak bisa meninggalkan pekerjaan ini. Saya sudah terbiasa," tuturnya.

Menurut laporan dilansir perkumpulan sosiologi Iran empat tahun lalu, usia rata-rata pelacur di Iran 12-18 tahun. Padahal satu dasawarsa sebelumnya kebanyakan lonte berumur 20-30 tahun.

Majid Abhari, staf riset di Universitas Beheshti Shahid, menjelaskan dalam tujuh tahun terakhir sebagian besar pelacur berusia di bawah 20 tahun. Dia memperkirakan 300-600 ribu lonte beroperasi di kota-kota besar seperti Teheran dan Mashhad.

Sheyda, 20 tahun, terperosok menjadi pelacur di usia muda setelah bercerai dari suaminya. Awalnya bayarannya murah. Lama kelamaan reputasinya menanjak dan dia kini sudah menjadi germo dengan sepuluh anak buah. "Nomor saya sudah terkenal di seantero kota dan orang akan menelepon kalau memerlukan layanan saya," katanya. "Saya bahkan akan melayani sendiri jika saya suka pelanggannya dan bayarannya pantas."

Tarif Sheyda jauh lebih mahal ketimbang Mona dan Laila. "Bayarannya US$ 100 per jam atau US$ 233-266 buat semalaman," ujarnya.

Berdasarkan hukum berlaku di Iran, pezinah dicemeti 99 kali ditambah masa kurungan sepuluh hari sampai dua bulan. Sheyda sudah tiga kali ditangkap lantaran ketahuan melacur dan mendapat 60-70 kali cambukan buat tiap kasus. "Menjadi lonte banyak dapat uang. Meski dipenjara sepuluh kali lagi, saya tidak akan berhenti melacur," tuturnya.

Buku Son of Hamas karya Musab Hasan Yusuf, putra dari pemimpin senior Hamas di Tepi Barat, Syekh Hasan Yusuf. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Putra Hamas dalam dekapan Yesus

Musab adalah putra dari pemimpin senior Hamas di Tepi barat, Syekh Hasan Yusuf. Dia pernah menjadi infrman Israel selama 1997-2007.

Sinagoge Beith Shalom di Jalan Kayoon 4-6, Surabaya, Jawa Timur, pada 2007. (Jono David, HaChayim Ha Yehudim Jewih Photo Library)

Bertemu pemuka Yahudi

"Sesudah itu, semua orang Barat ditawan di dalam kamp, termasuk seluruh keluarga Mussry, karena berkewarganegaraan Belanda," ujarnya.

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Menakar kestabilan Arab Saudi

Para pembangkang Saudi makin berani tampil terbuka setelah Khashoggi dihabisi

Foto raksasa mendiang Imam Khomeini tergantung di tembok sebuah bangunan dekat rumahnya di kawasan elite Jamaran di utara Ibu Kota Teheran, Iran, 31 Mei 2016. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Fulus Kabah goyang Mullah

Pada 2012, Amerika menghapus MEK dari daftar organisasi teroris lantaran ingin menggunakan kelompok ini untuk membikin Iran tidak stabil.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Putra Hamas dalam dekapan Yesus

Musab adalah putra dari pemimpin senior Hamas di Tepi barat, Syekh Hasan Yusuf. Dia pernah menjadi infrman Israel selama 1997-2007.

01 April 2019
Bertemu pemuka Yahudi
04 Maret 2019
Fulus Kabah goyang Mullah
16 Januari 2019
Harap Rahaf
07 Januari 2019

TERSOHOR