kisah

Lonte Teheran

"Menjadi pelacur banyak dapat uang. Meski dipenjara sepuluh kali lagi, saya tidak akan berhenti melacur," tutur Sheyda.

04 Januari 2015 22:10

Iran dikenal sangat ketat menerapkan syariat Islam. Lelaki dan perempuan bukan muhrim dilarang berduaan. Kalau ketahuan berzina hukuman mati ganjarannya.

Tapi bukan berarti tidak ada pelacuran di negeri Mullah itu. Mona, 22 tahun, contohnya. Dia sudah menjual diri di Ibu Kota Teheran sejak tiga tahun lalu. Pemicunya masalah keluarga dan tidak punya fulus. Setelah bertengkar hebat dengan ibunya, dia lari dari rumah dan menumpang tinggal di salon milik temannya.

Di sanalah Mona bertemu perempuan cantik berumur 45 tahun. Zari namanya. Dia lantas mengundang Mona ke kediamannya. Dia lalu menyarankan Mona melacur untuk mendapatkan uang. Namun dia tidak memaksa Mona. Dia hanya mengantarkan Mona ke calon pelanggan. Jika sreg Mona bisa melayani pelanggan.

Konsumen pertama Mona adalah pemuda bernama Hamid. Setelah sepakat dengan bayaran US$ 17 sejam, keduanya berkencam dua jam di rumah Hamid.

Sekarang ini pelanggan Mona beragam, mulai pemuda 16 tahun hingga pria beristri berusia setengah abad. Zari mengatur semua itu dan dia mendapat sepertiga dari bayaran Mona."Mulanya benar-benar menakutkan namun sekarang hal paling saya khawatirkan tertular penyakit kelamin," kata Mona. "Saya sering lelah jika bercinta dengan gaya tidak lazim dan saya benci, tapi saya mesti menuruti keinginan pelanggan."

Meski bercap buruk, pelacuran menjadi masalah tengah berkembang di kota-kota besar seantero Iran. Masyarakat segan untuk mengakui dan membahas persoalan ini. Prostitusi itu berlangsung sangat tertutup. "Tidak ada catatan statistik mengenai perilaku buruk mereka," ujar Farid Masudi, direktur unit penyakit sosial di organisasi kesehatan nasional Iran. "Tidak ada cara buat mengetahui apa yang terjadi dengan perempuan-perempuan ini dan mahasiswa ingin melakukan riset soal ini dilarang."

Meski kekurangan data menyeluruh tentang prostitusi, studi dilakukan lembaga kesehatan, universitas, dan penjara mengisyaratkan kebanyakan lonte di Teheran adalah pelajar atau mahasiswi.

Laila, 19 tahun, pengidap HIV, mulai melacur ketika berumur 17 tahun. Dia kerap menggaet pelanggan lewat Facebook. Dia amat tersohor di kalangan lelaki sudah menikah karena mau melayani gaya bercinta aneh-aneh.

Walau sudah terinfeksi HIV, dia sering tidak memakai kondom saat bercinta dengan konsumennya. Dia biasa mendapat bayaran US$ 17-33. Dia mengaku pernah hamil sekali. Dia menggugurkan kandungannya saat baru berusia dua bulan atas bantuan teman-temannya.

Laila bercerita dia tercebur menjadi lonte setelah ditinggal pacar pertamanya. Dia benar-benar depresi akibat pengalaman itu. "Sebenarnya tidak menyenangkan tapi saya tidak bisa meninggalkan pekerjaan ini. Saya sudah terbiasa," tuturnya.

Menurut laporan dilansir perkumpulan sosiologi Iran empat tahun lalu, usia rata-rata pelacur di Iran 12-18 tahun. Padahal satu dasawarsa sebelumnya kebanyakan lonte berumur 20-30 tahun.

Majid Abhari, staf riset di Universitas Beheshti Shahid, menjelaskan dalam tujuh tahun terakhir sebagian besar pelacur berusia di bawah 20 tahun. Dia memperkirakan 300-600 ribu lonte beroperasi di kota-kota besar seperti Teheran dan Mashhad.

Sheyda, 20 tahun, terperosok menjadi pelacur di usia muda setelah bercerai dari suaminya. Awalnya bayarannya murah. Lama kelamaan reputasinya menanjak dan dia kini sudah menjadi germo dengan sepuluh anak buah. "Nomor saya sudah terkenal di seantero kota dan orang akan menelepon kalau memerlukan layanan saya," katanya. "Saya bahkan akan melayani sendiri jika saya suka pelanggannya dan bayarannya pantas."

Tarif Sheyda jauh lebih mahal ketimbang Mona dan Laila. "Bayarannya US$ 100 per jam atau US$ 233-266 buat semalaman," ujarnya.

Berdasarkan hukum berlaku di Iran, pezinah dicemeti 99 kali ditambah masa kurungan sepuluh hari sampai dua bulan. Sheyda sudah tiga kali ditangkap lantaran ketahuan melacur dan mendapat 60-70 kali cambukan buat tiap kasus. "Menjadi lonte banyak dapat uang. Meski dipenjara sepuluh kali lagi, saya tidak akan berhenti melacur," tuturnya.

Jenazah wartawan Al-Jazeera Syirin Abu Aqilah sehabis didoakan pada 13 Mei 2022 di Gereja Katolik Yunani, Yerusalem Timur, Palestina. (Twitter/@ZaidAmali)

Mata, telinga, dan lisan Palestina untuk dunia

Prosesi pemakaman Syirin adalah ketiga terbesar sejak kematian Faisal al-Husaini pada 2001 dan Yasir Arafat di 2004.

Muhammad Saud, warga Arab Saudi tinggal di Ibu Kota Riyadh, merupakan salah satu pemuja Israel. (Twitter/@mosaud08)

Puja Zionis di negara Kabah

Muhammad Saud, warga Saudi tinggal di Riyadh, berteman baik dengan Netanyahu.

Peziarah Yahudi pada 21 April 2022 mengunjungi kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur, Palestina. (Shehab Agency)

Memahami status quo di Al-Aqsa

Sejak 1967, sudah ada fatwa haram bagi kaum Yahudi untuk mengunjungi Al-Aqsa. keputusan ini dkeluarkan oleh pemimpin rabbi AShkenazi dan Sephardi dengan dukungan 200 rabbi.

Ahmad as-Saadi, komandan Brigade Saraya al-Quds di Jenin, Tepi Barat, Palestina, berpose sebelum terbunuh dalam baku tembak dengan pasukan Israel pada 9 April 2022. (Albalad.co/Supplied)

Jenin, simbol perlawanan dan kehormatan

Jenin memang kerap berkobar. Bahkan pemerintah Palestina tidak kuasa mengendalikan.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Mata, telinga, dan lisan Palestina untuk dunia

Prosesi pemakaman Syirin adalah ketiga terbesar sejak kematian Faisal al-Husaini pada 2001 dan Yasir Arafat di 2004.

13 Mei 2022

TERSOHOR