kisah

Revolusi mode Persia

Ledakan fesyen di Iran terjadi setelah dua tahun lalu Ali Khamenei mengeluarkan fatwa: model dan busana tidak haram menurut ajaran Islam.

12 Agustus 2015 23:15

Di pusat kesehatan dan kebugaran Oxygen Royal di utara Ibu Kota Teheran, Iran, 20 pemuda berkumpul dengan seragam kaus oblong gelap bertulisan DFW warna putih, singkatan dari pekan busana Darab.

Pusat kebugaran ini berlokasi di Gheytarieh, kawasan elite dan bersejarah di kaki pegunungan Alborz. Keanggotaannya eksklusif dan peralatan olahraganya produk terbaru, serasa di Beverly Hills, Amerika Serikat.

Di sanalah para model lelaki Iran diajar oleh seorang pelatih profesional berlagak di atas panggung busana. Mereka juga dipersiapkan untuk menjalani seni akting.

Setelah seharian berlatih keras, hasilnya menjanjikan. Semua pemuda itu ditawari kontrak untuk berlenggak lenggok dalam peragaan busana digelar Darab bulan depan. Tempat penyelenggaraannya direncanakan di Hotel the Esteghlal.

Setelah lebih dari tiga dasawarsa melawan dan berjuang diam-diam, dunia fesyen di negeri Mullah ini mulai mendapat tempat. Pagelaran busana menjamur di seantero Iran, sehingga perlu lebih banyak pasokan model.

Kebanyakan model di Oxygen Royal dipekerjakan oleh Behpooshi, agensi model tahun lalu menjadi salah satu yang pertama mendapat izin beroperasi di Iran. Agensi ini memiliki 50 model lelaki dan 30 perempuan.

Direktur Behpooshi Sharif Razavi menjelaskan tidak berlebihan menyebut dunia mode di Iran telah melewati sebuah revolusi. "Selama 30 tahun sejak revolusi, cuma ada 10-15 peragaan busana di negara ini," katanya kepada surat kabar the Guardian. "Tapi tahun lalu saja lebih dari seratus."

Behpooshi, berdiri tujuh tahun lalu, seperti banyak pihak terlibat dalam industri fesyen di Iran, agensi ini beroperasi secara rahasia. Kemudian dua setengah tahun lalu, Razavi menyurati kantor pemimpin tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei. Dia meminta fatwa apakah Islam melarang busana dan model. Jawabannya menyenangkan: tidak haram.

Setelah memperoleh fatwa menggembirakan dari Khamenei itu, Razavi lantas membahas masalah industri fesyen dengan para pejabat di Kementerian Kebudayaan dan Tuntunan Islam. Kesempatan untuk mendirikan sebuah agensi model pun terbuka. "Sebelum ada fatwa itu, kalau saya bilang ingin membikin sebuah agensi model tidak ada yang mau mendengar, tapi segalanya telah berubah," ujarnya.

Rayan Baghdadi, memiliki banyak pengikut di Instagram, termasuk dalam 20 pemuda berlatih di Oxygen Royal. "Pekerjaan saya sekarang menjadi model dan saya menekuni serius," tutur lelaki 23 tahun ini.

Baghdadi - baru-baru ini tampil dalam pagelaran busana Teheran dilangsungkan di kompleks Sam Centre, berlokasi di jalan paling elite di ibu kota, yakni Fereshteh - mengakui kemajuan terbesar dalam industri fesyen di Iran berlaku dua tahun terakhir.

"Pihak berwenang sekarang mengeluarkan izin buat semua model dan orang-orang ingin berlenggak lenggok di atas panggung mesti mengajukan izin dan kartu identitas," tuturnya. Dia bahkan sudah merasakan berlagak di panggung luar negeri saat tampil di Dubai memamerkan karya Rahil Hisan, perancang berdarah Iran.

Mahan Farokhmehr, kepala eksekutif Darab, mengiyakan. Namun kata dia, ada batas aturan: perempuan boleh menyaksikan model lelaki berjalan di atas panggung, sedangkan kaum adam dilarang melihat model perempuan tampil.

Model internasional Iran tapi tidak pernah tampil dalam peragaan busana di negaranya sendiri, Dana Mashalahpoor, 28 tahun, mengingatkan semua pelaku dalam industri mode di negeri Persia itu untuk tetap berhati-hati. "Ada kemajuan tapi tantangannya masih besar," katanya. "Beberapa orang masih punya pandangan negatif soal fesyen di Iran."

Mashalahpoor kini wajah baru Dorsa, merek terkenal produk berbahan kulit. Dia sudah tampil sedikitnya delapan kali di papan-papan iklan di jalanan Teheran. Dia pernah menjadi model buat Davidoff di Dubai dan pakaian lelaki Pal Zileri di Iran.

Ledakan fesyen di Iran telah memberi harapan bagi para desainer independen, seperti Sahar Bil dan Farnaz Abdoli. Lewat perusahaannya, Pooshema, spesialis pakaian perempuan, Abdoli berhasil mempopulerkan manteaux. Sekarang lebih banyak kaum hawa Iran mengenakan manteaux di tempat umum ketimbang chador, semacam gamis menutup mulai dari kepala hingga jempol kaki. Sebab manteaux lebih pendek, berwarna, dan modern.

"Orang luar negeri mengira perempuan Iran bercadar," ujar Abdoli. "Namun mereka kemudian melihat model dan rancangan kami. Mereka tidak percaya atas apa yang mereka saksikan."

Revolusi mode telah membikin warga Iran lebih cerah dan bergaya dalam berpakaian.

Sinagoge Beith Shalom di Jalan Kayoon 4-6, Surabaya, Jawa Timur, pada 2007. (Jono David, HaChayim Ha Yehudim Jewih Photo Library)

Bertemu pemuka Yahudi

"Sesudah itu, semua orang Barat ditawan di dalam kamp, termasuk seluruh keluarga Mussry, karena berkewarganegaraan Belanda," ujarnya.

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Menakar kestabilan Arab Saudi

Para pembangkang Saudi makin berani tampil terbuka setelah Khashoggi dihabisi

Foto raksasa mendiang Imam Khomeini tergantung di tembok sebuah bangunan dekat rumahnya di kawasan elite Jamaran di utara Ibu Kota Teheran, Iran, 31 Mei 2016. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Fulus Kabah goyang Mullah

Pada 2012, Amerika menghapus MEK dari daftar organisasi teroris lantaran ingin menggunakan kelompok ini untuk membikin Iran tidak stabil.

Rahaf Muhamnad al-Qunun, 18 tahun, gadis asal Arab Saudi kabur dari keluarganya dan ingin meminta suaka ke Australia. (Twitter)

Harap Rahaf

"Hidup di Arab Saudi seperti tinggal dalam penjara. Saya tidak bisa membikin keputusan sendiri," ujar Rahaf. "Bahkan soal rambut pun saya tidak boleh memutuskan sendiri."





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Bertemu pemuka Yahudi

"Sesudah itu, semua orang Barat ditawan di dalam kamp, termasuk seluruh keluarga Mussry, karena berkewarganegaraan Belanda," ujarnya.

04 Maret 2019
Fulus Kabah goyang Mullah
16 Januari 2019
Harap Rahaf
07 Januari 2019

TERSOHOR