kisah

Rangkul Istanbul

Para pengungsi gay dari negara-negara Arab mendirikan kelompok bernama LGBT Arabi di Istanbul, Turki.

21 Agustus 2015 16:35

Hari sudah berganti Ahad pekan lalu. Namun para pengunjung Tek Yon, klub gay tersohor di Kota Istanbul, Turki, masih bersemangat.

Barangkali sebagian orang mengenal Istanbul dari kartu pos memiliki masjid-masjid mempesona. Atau pernah mendengar kota ini menjadi salah satu pintu masuk bagi para jihadis ingin bertempur di Suriah dan Irak.

Namun tidak banyak yang tahu Istanbul memiliki klub tempat berkumpul kaum penyuka sesama jenis. Di sana mereka bisa menari bersama. "Istanbul adalah gelembung kebebasan dan hak gay di di kawasan," kata Subhi dari Suriah. "Tek Yon merupakan tempat pertemuan bagus bagi para gay asal Suriah dan negara Arab lainnya."

Kaum homoseksual beretnik Arab ini mengungsi dari negara masing-masing lantaran nyawa mereka terancam. Di Istanbul mereka memperoleh kedamaian dan kenyamanan.

Subhi menjadi saksi meningkatnya kekerasan anti-gay di kota kelahirannya Maarrat an-Nukman, barat daya Suriah. Dia bercerita tiga tahun lalu milisi Jabhat an-Nusrah (sayap Al-Qaidah) di negara itu mengumumkan lewat pengeras suara masjid: mereka bakal membersihkan kota ini dari kaum homo.

Jabhat Nusrah lantas menahan sedikitnya 22 orang berminggu-minggu dan mereka dikenai denda besar karena bertindak seperti gay. Takut bernasib serupa, Subhi lari ke Turki.

Sejatinya, ancaman terhadap golongan homo sudah berlaku jauh sebelum pecah pemberontakan di Suriah pada 2011. Polisi kerap menyerbu pesta kaum gay digelar tertutup di rumah-rumah. Kerabat dan keluarga juga suka bertindak keras terhadap mereka. "Pemerintah telah menyasar kaum LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender) bertahun-tahun," ujar Subhi.

Setelah perang saudara meletup, keselamatan mereka kian terancam. Apalagi muncul ISIS, bertindak brutal terhadap gay. Golongan ini dihukum dilempar dari ketinggian hingga tewas atau dilempari batu sampai meninggal.

Kaum homo di Irak juga bernasib sama. Di Istanbul para gay Arab ini menemukan surga. Bahkan mereka membentuk sebuah kelompok bernama LGBT Arabi. "Kami memiliki ratusan anggota," ucap Nadir, 25 tahun, salah satu pendiri organisasi itu.

Penampilan gay asal Homs, Suriah, ini unik. Beranting tapi dengan brewok lebat dan panjang. Sejak Maret lalu, saban Ahad dia memandu acara bertajuk "Teh dan Obrolan" dalam bahasa Arab di Istanbul.

Meski menemukan semacam oase, namun situasi bagi kaum LGBT di Turki masih jauh dari sempurna. Beberapa menit sebelum digelar, aparat keamanan tahun ini membubarkan paksa ribuan peserta parade gay Istanbul Pride atas perintah gubernur Istanbul. Alasannya, festival ini bertepatan dengan Ramadan.

Karena itu tidak semua kaum LGBT betah tinggal di Turki. Mary, perempuan transgender asal Aleppo, meninggalkan Suriah enam bulan sebelum pecah pemberontakan pada Maret 2011. Dia pindah ke Turki untuk mengajukan permohonan tinggal di negara ketiga.

Tiga tahun berselang dia akhirnya diterima menetap di Kanada. Dia tidak berniat kembali ke negara asalnya. "Tidak ada alasan dalam hidup ini membuat saya berpikir pulang ke Suriah, ada perang atau tidak," kata Mary. "Persoalan saya bukan sekadar perang."

Sami, gay dari Homs, Suriah, juga ingin seperti Mary. Untuk bertahan hidup di Turki, dia menjadi pekerja seks. Dia pun pengunjung tetap klub Tek Yon. "Ada kebebasan di Istanbul tapi tidak begitu besar," kata Sami. "Saya ingin pergi ke sebuah tempat nan jauh."

Di Istanbul saban Sabtu malam kaum homo Arab dengan pelbagai dialek, berlatar Sunni, Kristen, atau ateis, bisa menari dan saling merangkul.

Nura, bukan nama sebenarnya, menjadi cacat akibat serangan udara pasukan koalisi Arab Saudi di Yaman pada 2015. (Save the Children)

Sentuhan Zionis dalam Perang Yaman

Israel secara rahasia menjual senjata dan amunisi kepada Arab Saudi, termasuk bom fosfor merupakan senjata terlarang.

Pangeran Ahmad bin Abdul Aziz dari Arab Saudi. (huseofsaud.com)

Berpadu buat kudeta putera mahkota

Pangeran Ahmad bin Abdul Aziz pulang dengan misi menggulingkan Pangeran Muhammad bin Salman. Dia mendapat jaminan keamanan dari Amerika dan Inggris.

Wartawan pengkritik Arab Saudi Jamal Khashoggi. (Twitter)

Lika-liku pembunuhan Jamal Khashoggi

"Kami mengetahui kapan Jamal (wartawan Saudi Jamal Khashoggi) dibunuh, di ruangan mana dia dibunuh, dan di mana mayatnya dibawa untuk dimutilasi,"

Pangeran Sultan bin Turki (Hugh Miles)

Jejak gelap pengkritik penguasa negara Kabah

Sejak Pangeran Muhammad bin Salman menjadi putera mahkota pada 21 Juni lalu, Arab Saudi kian getol menangkapi para pembangkang, termasuk ulama.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Sentuhan Zionis dalam Perang Yaman

Israel secara rahasia menjual senjata dan amunisi kepada Arab Saudi, termasuk bom fosfor merupakan senjata terlarang.

21 November 2018
Nihil Jamal di Istanbul
05 Oktober 2018

TERSOHOR