kisah

Tancap gas Qatar

Qatar tahun lalu menghasilkan sepertiga dari total produksi gas alam cair dunia.

24 Agustus 2015 15:59

Suatu malam di awal musim panas di dermaga Pelabuhan Ras Laffan, Qatar. Meski surya sudah rebah, suhu di sana masih 37 derajat Celcius.

Kesibukan terlihat di pelabuhan itu. Sebuah jaringan pipa terhubung dengan kapal tanker raksasa berlambung merah. Kapal berbendera Qatar dan bernama Ar-Rikayyat ini tengah diisi gas alam cair (LNG) untuk diekspor.

Setelah menanam modal puluhan miliar dolar Amerika Serikat, Qatar kini terdepan dalam bisnis gas alam cair dunia. Ar-Rikayyat, dikelola oleh Royal Dutch Shell, mengapalkan gas alam cair produksi negara Arab supertajir itu ke Fujian (Dina), Yokkaichi (Jepang), Dubai (Uni Emirat Arab), dan Milford Haven (Wales).

Sehabis pengisian, empat kapal penarik menghela Rikayyat dari tempat ia berlabuh. "Saya kira akan berada di jalur utara sekitar tengah malam," kata kapten kapal Veerasekhar Rao Muttineni lewat radio panggil, saat Rikyyat mulai melaju di atas perairan Teluk Persia. Empat hari kemudian, kapal ini bersandar di Hazira, pantai barat India.

Pernah menjadi negara miskin dengan perekonomian bergantung pada hasil perikanan dan mutiara laut, Qatar relatif raksasa baru dalam perdagangan energi global.

Pada 1970-an Shell menemukan ladang gas alam cair terbesar sejagat, disebut lapangan Utara, di perairan Qatar. Namun tidak ada pasar untuk bahan bakar. Pembeli potensial di Eropa terlalu jauh untuk dicapai lewat jaringan pipa. Shell lalu mundur.

Mencontoh Malaysia dan Indonesia, Qatar dan Hamad bin Khalifah ats-Tsani, kemudian menjadi emir, mulai memasarkan LNG pada pertengahan 1990-an. Exxon Mobil merupakan investor awal, lantas disusul Shell, Total, dan ConocoPhilips.

Qatar dan para rekan bisnisnya membawa bisnis LNG ini ke tahap baru, membangun pabrik-pabrik pengolahan lebih besar dan efisien. Qatar tahun lalu menghasilkan 76,6 juta metrik ton atau sepertiga dari seluruh produksi LNG di dunia, yakni 242 juta metrik ton.

Ini bisnis menguntungkan telah membikin Qatar menjadi negara dengan pendapatan per kapita tertinggi di dunia. Ketika perkembangan industri saat ini stagnan, volume perdagangan LNG dunia meningkat empat kali lipat dalam dua dasawarsa terakhir menjadi sekitar 240 juta metrik ton setahun. Nilai penjualan per tahun US$ 180 miliar atau kini setara Rp 2.524 triliun.

"Qatar telah membuat LNG menjadi sebuah bisnis lebih besar - proyek, kapal, volume, dan jejak global jauh lebih besar," kata Michael Stoppard, kepala strategi gas di perusahaan riset pasar IHS.

Ras Laffan, sekitar sejam bermobil dari Ibu Kota Doha, merupakan pangkalan pengolahan gas. Di sini terdapat tangki-tangki penyimpanan, jaringan pipa, dan beragam fasilitas pengolahan gas lainnya. Gas dari ladang di lepas pantai disalurkan melalui serangkaian unit pendingin, membersihkan bahan bakar ini dan mengubahnya menjadi bentuk cair. Qatargas dan Rasgas, dua perusahaan pengekspor milik Qatar, memiliki 14 fasilitas semacam itu.

"Kami mendorong bagian riset dan pengembangan untuk melangkah lebih jauh, buat menaikkan ukuran," ujar Ibrahim Bawazir, eksekutif Qatargas, saat memimpin serombongan pengunjung berseragam oranye berkeliling Qatargas 4, salah satu instalasi pengolahan gas terbesar dan paling modern. "Hampir tidak mungkin membangun fasilitas pengolahan LNG seukuran ini," tutur Bawazir.

Dengan kemampuan memproduksi dan mengolah gas dalam jumlah sangat besar, Qatar bisa menjaga ongkos produksi tetap irit. IHS memperkirakan biaya pengolahan gas alam cair di Qatar US$ 2 per juta Btu (British thermal units), standar ukuran gas alam. Jauh lebih rendah ketimbang US$ 8 hingga US$ 12 untuk fasilitas serupa tengah direncanakan di Amerika Serikat, Afrika Timur, dan Australia.

Qatar tadinya berencana mengekspor sebagian besar gas alam cairnya ke Amerika Serikat dan Eropa, namun terganjal oleh penemuan sumber gas di Amerika Utara. Sebanyak tiga perempat gas produksi Qatar tahun lalu akhirnya dipasarkan ke negara-negara Asia, seperti Cina, India, dan Korea Selatan. Jepang adalah konsumen terbesar gas dari Qatar.

Pergeseran Qatar ke Asia mirip fenomena serupa dalam perdagangan minyak. Dalam beberapa tahun terakhir, negara produsen seperti Arab Saudi, Irak, dan Iran kian memusatkan ekspor energi mereka ke Asia, kawasan dengan permintaan energi terus meningkat. Qatar pun sama, khususnya terhadap India, bisa ditempuh dalam beberapa hari pelayaran melintasi Laut Arab.

Bagian penting dari bisnis gas Qatar adalah armada kapal tanker baru jauh lebih besar dan efisien dibanding model sebelumnya.

Dengan panjang 304,8 meter, Rikayyat - dibikin di Korea Selatan pada 2009 - cuma sedikit lebih pendek ketimbang kapal induk terbesar di dunia. Ia mampu mengangkut hingga 217 ribu meter kubik gas senilai US$ 30 juta sampai US$ 40 juta.

Laju Rikayyat terbilang cepat. Dia mampu melesat 18 knot atau 33,3 kilometer per jam. Mesku begitu, awak kapal masih mencemaskan ancaman pembajak.

Seperti Rikayyat, Qatar pun tancap gas dalam bisnis gas.

Wartawan pengkritik Arab Saudi Jamal Khashoggi. (Twitter)

Lika-liku pembunuhan Jamal Khashoggi

"Kami mengetahui kapan Jamal (wartawan Saudi Jamal Khashoggi) dibunuh, di ruangan mana dia dibunuh, dan di mana mayatnya dibawa untuk dimutilasi,"

Pangeran Sultan bin Turki (Hugh Miles)

Jejak gelap pengkritik penguasa negara Kabah

Sejak Pangeran Muhammad bin Salman menjadi putera mahkota pada 21 Juni lalu, Arab Saudi kian getol menangkapi para pembangkang, termasuk ulama.

Jamal Khashoggi, pengkritik pemerintah Arab Saudi. (Twitter)

Nihil Jamal di Istanbul

Arab Saudi membantah telah menahan Jamal Khashoggi.

Syekh Dr. Saleh bin Muhammad at-Talib, imam Masjid Al-Haram di Kota Makkah, Arab Saudi. (Twitter)

Bungkam ulama guncang Al-Haram

"MUI mendesak agar pemerintah Saudi membebaskan semua ulama ditangkap tanpa proses hukum adil," kata Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri MUI Muhyiddin Junaidi.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Lika-liku pembunuhan Jamal Khashoggi

"Kami mengetahui kapan Jamal (wartawan Saudi Jamal Khashoggi) dibunuh, di ruangan mana dia dibunuh, dan di mana mayatnya dibawa untuk dimutilasi,"

12 Oktober 2018
Nihil Jamal di Istanbul
05 Oktober 2018
Bungkam ulama guncang Al-Haram
26 September 2018

TERSOHOR