kisah

Tafsir Majidi atas sang nabi

Film Muhammad Utusan Allah tayang perdana di Iran hari ini. Qatar berencana menyaingi membikin film serupa.

26 Agustus 2015 11:22

Abdul Muthalib bin Hasyim mengangkat bayi itu di depan Kabah seolah ingin menunjukkan kepada seluruh alam semesta calon pemimpin agung dan penghulu semua makhluk telah lahir. Dia memberi nama anak tunggal dari pasangan mendiang putranya, Abdullah, dan Aminah binti Wahab itu Ahmad atau Muhammad, nama belum pernah ada sepanjang sejarah umat manusia.

Demikianlah sebagian adegan dalam triler tidak resmi dari film berjudul Muhammad Messenger of God (Muhammad Utusan Allah) ditonton Albalad.co hari ini. Film berdurasi tiga jam kurang sembilan menit itu bikinan sutradara kenamaan Iran Majid Majidi, tersohor dengan karyanya Children of Heaven, menjadi nominasi dalam ajang Oscar 1998 untuk kategori film berbahasa asing terbaik.

Film termahal produksi negeri Mullah itu, konon menelan anggaran US$ 40 juta atau kini setara Rp 561,7 miliar, menghadirkan masa kecil Nabi Muhammad hingga berusia 12 tahun, saat dia bertemu Bahira, rahib Nasrani mengetahui keniscayaan bakal datang nabi sekaligus rasul akhir zaman. Mulai hari ini film Muhammad, Utusan Allah diputar di 143 bioskop di seluruh Iran.

Seperti tradisi Syiah - lebih lentur ketimbang Sunni - Majidi tidak ragu menggambarkan sosok Rasulullah meski dari belakang. Dia ingin menampilkan apa yang dilihat dan dialami dari pandangan nabi sendiri, bukan lewat perkataan atau kesaksian orang-orang terdekatnya.

Inilah memicu kontroversi. Paham Sunni mengharamkan menampilkan sosok nabi, termasuk suaranya, dalam film atau versi gambar. Karena itulah lembaga Islam bergengsi Al-Azhar berpusat di Ibu Kota Kairo, Mesir, mengecam film Majidi itu. "Aktor berperan sebagai nabi nantinya bisa berakting sebagai penjahat dan para penonton bisa menilai karakter ini dengan kejahatan," kata Abdil Dayyim Nusair, penasihat imam besar Al-Azhar Syekh Ahmad at-Tayyib.

Namun Majidi sejatinya tidak ingin berpolemik dengan kaum Sunni. Karena itu dia memilih masa kecil sang nabi sebagai bagian dari trilogi film Rasulullah ingin dia buat. Untuk mendapat akurasi potret kehidupan masa kecil nabi, dia bersama tim risetnya mengumpulkan lusinan ahli sejarah dan kepurbakalaan telah berkonsultasi dengan beragam ulama Sunni dan Syiah di banyak negara Arab, termasuk Maroko, Libanon, dan Irak.

"Banyak orang menyampaikan pesan mereka ke seluruh dunia lewat film dan gambar," kata Majidi dalam jumpa pers Maret lalu. "Kami membuat film ini dengan pandangan untuk menyatukan dunia muslim."

Terlepas dari kontroversi itu, film ini memang menggambarkan nabi seperti anak-anak kecil lazimnya. Dalam adegan digambarkan Aminah tengah memandikan Muhammad dalam bak. Dia pun menggembalakan kambing.

Majidi menegaskan film ini untuk menjelaskan kepada Barat atau orang-orang anti-Islam, agama dibawa Nabi Muhammad bukanlah agama kekerasan. Sebab itu, dia menilai film the Message produksi 1976 gagal menyampaikan misi Islam sebagai agama damai dan nyaman. Film bikinan produser Mustafa Akkad dan dibiayai mendiang pemimpin Libya Muammar al-Qaddafi ini menampilkan jihad dan perang.

Dalam filmnya, Majidi menampilkan Muhammad kecil seorang dermawan dan pemurah. Dalam satu adegan dia memberikan minum kepada seorang budak tengah kehausan.

Majidi juga ingin mengkampanyekan Islam tidak lekat dengan kekerasan, darah, atau air mata. Nabi lembut karena merasakan pedih kehilangan ibu serta kakeknya, meninggal saat dia masih belia. Bahkan dia telah menjadi yatim saat dilahirkan. Dia akrab dengan kaum papa lantaran sejak belia dibelenggu kemiskinan.

Film ini sekaligus sanggahan terhadap serangkaian kartun dilansir majalah Charlie Hebdo terbitan Prancis empat tahun lalu. Juga bantahan atas dua film menghina nabi, yakni Fitna dan Innocent of Muslims

Gagasan membuat Muhammad, Utusan Allah diluncurkan Oktober 2011. Segalanya dirahasiakan hingga sebulan kemudian Majidi mengumumkan dirinya akan membuat film bakal membikin, "Iran dan rakyatnya bangga." Menteri Kebudayaan dan Panduan Islam Iran Muhammad Husaini secara terbuka bilang film itu tentang Nabi Muhammad.

Film produksi lembaga milik pemerintah Bonyad e-Mostazafan (Yayasan Kaum Tertindas) ini mengambil lokasi syuting di luar Kota Qom, dua jam bermobil dari Ibu Kota Teheran. Sebagian adegan dibuat di Afrika Selatan setelah India menolak.

Film ini mendapat sokongan dari pemimpin tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei. Pengganti Ayatullah Khomeini ini secara pribadi memang mengidolakan Majidi. Dia bahkan tanpa liputan media mengunjungi lokasi syuting saat produksi baru dimulai Oktober 2012.

Qatar tidak mau kalah. Negara Arab supertajir ini dua tahun lalu mengumumkan akan membikin film tentang Nabi Muhammad dengan anggaran US$ 1 miliar (Rp 14 triliun). Film bakal dipoduksi An-Nur Holdings ini menyewa Barrie Osborne, produser film Lord of the Rings, dan Syekh Yusuf Qardhawi sebagai penasihat. "Mereka tentu saja mempunyai fulus untuk mewujudkan itu," ucap Osborne kepada Hollywood Reporter.

Di luar kontroversi penggambaran sosok Muhammad, film karya Majidi ini layak ditonton. Karena dia juga menggandeng sinematografer peraih tiga kali Piala Oscar Vittorio Storaro untuk film Apocalypse Now, Reds, and The Last Emperor. Juga ada ahli efek visual Scott Anderson terlibat dalam penggarapan film Adventures of Tintin, Superman Returns, and Starship Troopers, penyanyi Sami Yusuf, dan A.K. Rahman ikut menggarap film Slumdog Millionaire.

Semoga saja tafsir Majidi atas sang nabi tidak menuai benci.

Ulama Syiah berpengaruh asal Irak Muqtada Sadr bertemu Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman di Kota Jeddah, Arab Saudi, 30 Juli 2017. (Supplied)

Sapa Muqtada

Ali Akbar Velayati, penasihat utama Pemimpin Agung Iran Ali Khamenei, Februari lalu bilang Teheran akan mencegah Sadr dan aliansi politiknya memerintah Irak.

Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz dan Presiden Joko Widodo berdiri di teras Istana Bogor, di sela pertemuan bilateral dilakoni kedua pemimpin itu pada 1 Maret 2017. (Dokumentasi Albalad.co)

Menerka dalang upaya kudeta di Arab Saudi

"Kalau cuma pesawat nirawak mainan kenapa baku tembaknya berlangsung dua sampai tiga jam? Mengapa menggunakan senapan mesin?"

UNHCR Eminent Advocate Dato Tahir menggendong Hanan, 4 tahun, anak pengungsi Suriah tinggal di sebuah kamp di Lembah Bekaa, Libanon, 11 April 2018. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Kenangan pahit di negara Syam

Perang memang cuma menyisakan kenangan pahit bagi pelaku dan korban.

UNHCR Eminent Advocate Dato Tahir menggendong Hanan, 4 tahun, anak pengungsi Suriah tinggal di sebuah kamp di Lembah Bekaa, Libanon, 11 April 2018. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Bersua Mustafa di Lembah Bekaa

Di akhir lawatannya, seperti biasa Dato Tahir berdoa memohon kebaikan bagi Mustafa sekeluarga dan seluruh pengungsi Suriah.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Sapa Muqtada

Ali Akbar Velayati, penasihat utama Pemimpin Agung Iran Ali Khamenei, Februari lalu bilang Teheran akan mencegah Sadr dan aliansi politiknya memerintah Irak.

21 Mei 2018

TERSOHOR