kisah

Perancang ledakan Baghdad

"Yang saya lakukan ini jihad karena saya membunuh orang-orang Syiah," Abu Abdullah menegaskan. "Mereka itu kafir dan saya yakin itu."

02 September 2015 04:27

Hampir selama setahun Abu Abdullah tadinya menjadi orang paling diburu di Baghdad. Di kalangan para bosnya di ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) dia dikenal dengan sebutan perancang, bertanggung jawab mengirim para pengebom bunuh diri ke beragam lokasi sasaran di seantero ibu kota Irak itu: masjid, universitas, pos pemeriksaan, dan pasar.

Dia kini mendekam dalam sel di penjara superketat di pinggiran Baghdad, sudah sebelas bulan sejak dia dibekuk akhir Juli tahun lalu. Bangunan penjara ini dikelilingi tembok setinggi empat meter. Di pojokannya terdapat sejumlah Humvee dilengkapi senapan mesin.

Abu Abdullah, berusia akhir 30-an tahun, merupakan satu dari sedikit pentolan ISIS berhasil ditangkap. Kebanyakan meledakkan diri atau menelan pil beracun. Atau mati dalam baku tembak. Ditangkap hidup-hidup tidak pernah ada dalam kamus pimpinan milisi itu.

Karena dia tahanan amat penting, tidak mudah memperoleh akses untuk mewawancarai lelaki bernama asli Ibrahim Ammar Ali al-Khazali itu. Surat kabar the Guardian membutuhkan tiga bulan lewat perundingan panjang dengan para pejabat intelijen Irak sebelum mengantongi izin.

Majalah Der Spiegel lebih dulu mewawancarai Abdullah. Wawancara mesti dilakukan malam untuk mengurangi risiko penjara tempat Abu Abdullah ditahan menjadi sasaran bom bunuh diri. Selama diwawancara Abdullah duduk dengan kedua tangan diborgol.

Para pejabat mesti berupaya keras merahasiakan lokasi dan perpindahan Abu Abdullah. "Abu Abdullah dan tahanan penting lainnya rutin dipindah dari penjara ke penjara untuk mencegah upaya mereka kabur," kata Kapten Safar, polisi dari bagian kriminal.

Kehidupan Abu Abdullah dalam penjara terjamin. Pasokan makanan dan minuman memadai. Selnya dilengkapi lampu dan penyejuk udara. Di tubuhnya juga tidak ada bekas luka karena siksaan. "Bisakah Anda bayangkan itu. Mereka memiliki kehidupan lebih baik dibanding sebagian besar penduduk Baghdad," ujar seorang perwira polisi senior seraya menyeringai.

Abu Abdullah mengaku sudah mengirim 15 pengebom bunuh diri selama tiga bulan sebelum dia ditangkap. Kepada Der Spiegel dia meralat menjadi 19. Dia memperkirakan korban tewas akibat semua serangan rancangannya lebih dari seratus, sebagian besar aparat keamanan dan kadang perempuan serta anak-anak.

Dia menjelaskan Kebanyakan pengebom bunuh diri itu berasal dari Arab Saudi, Tunisia, dan Aljazair. Dua orang lainnya asal Eropa: satu berkebangsaan Austria dan seorang lagi berpaspor Jerman. Hanya satu dari mereka asli Irak. Paling muda 21 tahun dan tertua sekitar 30 tahun.

"Mereka (para pengebom bunuh diri) biasanya mendatangi saya di bengkel," tutur Abu Abdullah merujuk pada sebuah garasi mobil berlokasi di pinggiran Baghdad. Tempat ini dilindungi dua pintu besi dan selama setahun pernah menjadi markas komando ISIS di kota ini.

"Saya menemui mereka di pintu dan pertama kali menyalami mereka serta memandangi untuk memastikan apakah mereka siap," katanya. "Lalu kami duduk, salat, dan mengaji."

Abu Abdullah mengklaim semua misi bom bunuh diri dia rencanakan berhasil. "Saya membantu mereka memasang sabuk bahan peledak dan menyembunyikan sehingga tidak ketahuan di pos pemeriksaan. Kadang kami melakukan itu di saat-saat terakhir," ujarnya.

Bahan peledak biasa digunakan C4 atau amunisi artileri. Untuk sabuk bom dia biasa mengisi dengan amunisi dari roket antipesawat tempur.

Namun dia kecut saat ditanya apakah berani menjadi pengebom bunuh diri. "Saya tidak pernah terpikir akan hal ini. Itu bukan tugas saya," katanya diplomatis. "Saya dipilih untuk merencanakan operasi bukan melaksanakan. Saya koordinator bukan eksekutor."

Abu Abdullah menolak disebut pembantai karena merencanakan pembunuhan serampangan. "Yang saya lakukan ini jihad karena saya membunuh orang-orang Syiah," dia menegaskan. "Mereka itu kafir dan saya yakin itu."

Dia tadinya Syiah karena memang dilahirkan di keluarga berpaham itu. Dia mempraktekkan ajaran Syiah hingga akhir 1990-an ketika dia berubah haluan menjadi Sunni. Bukan sekadar pindah, dia mengecam paham dianut keluarganya.

Abu Abdullah mulai menjadi radikal setelah bergabung dengan ISI (Negara Islam Irak), kelompok bikinan Abu Musab al-Zarqawi dan merupakan cikal bakal ISIS. Kariernya terus menanjak dan akhirnya menjadi emir ISIS untuk wilayah Baghdad, menggantikan Abu Syakir telah ditangkap dan kini satu penjara dengan dirinya.

Di kota kelahiran telah porak poranda oleh perang sejak invasi Amerika Serikat pada 2003, ia masih menyisakan kenangan manis buat Abu Abdullah. Dia bercerita waktu kecil orang tuanya kerap mengajak dia jalan-jalan ke Taman Saura dan Kebun Binatang Baghdad di akhir pekan. Kadang mereka melancong ke pasar Shorjah. "Ayah sering membelikan saya es krim."

Evakuasi korban tewas dan luka akibat serangan teror di klub malam Reina, Istanbul, Turki, 1 Januari 2017. (Twitter/@emergensa24)

Rekrutmen Nusrah dan ISIS di Turki

ISIS merekrut orang-orang kurang secara ideologi dan jaringan, sedangkan calon jihadis Jabhat Nusrah mesti lulus indoktrinasi dan direkomendasikan anggota lainnya.

Pemimpin gereja ortodhoks Siriak di Bartella, Irak, berpose bareng pasukan elite Irak membebaskan kota itu dari caplokan ISIS. (ADFA)

Dentang lonceng gereja di tepi Mosul

"Ketika jihadis ISIS itu mulai menurunkan dan menghancurkan salib serta injil, kami sadar kami sudah tidak aman lagi," ujar Nagham.

Seorang jihadis ISIS merobohkan salib di sebuah gereja di Kota Mosul, Irak, pada 2014. (The Assyrian International News Agency)

Nestapa pemuja Yesus

Di tarikan napas terakhir, gadis Kristen berusia 12 tahun meminta ibunya memaafkan jihadis ISIS pembakar rumah mereka.

Kafe Aroma di Ibu Kota Baghdad, Irak. (tripadvisor.com)

Semarak Ramadan di Baghdad

"Ini tahun pertama kami merasakan kegembiraan Ramadan seperti pernah kami rasakan di 1980-an dan 1970-an," kata Fauziyah.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Sapa Muqtada

Ali Akbar Velayati, penasihat utama Pemimpin Agung Iran Ali Khamenei, Februari lalu bilang Teheran akan mencegah Sadr dan aliansi politiknya memerintah Irak.

21 Mei 2018

TERSOHOR